Langsung ke konten utama

Postingan

Psalter of Undone Girls

Book I: Of Hunger Psalm I. The Starvation Game She starved at the table of touch. Every smile was rationed. She learned to chew absence, to swallow glances like crumbs. The hunger taught her that even neglect has calories. Psalm II. The Mouth as Wound The mouth opens for speech, but bleeds instead. Desire leaks, iron-tasting. A kiss is just a suture failing. What is voiced is not heard, what is heard is not held. Psalm III. Banquet of Absence We sit around a feast of plates. The cutlery gleams with nothing. We praise the spread of air, raise a toast to lack. Our bellies groan like choirs, our hollow becomes our hymn. Psalm IV. The Body as Empty House Her ribs are doorframes, her lungs the dusty halls. Every step echoes. She lies in bed with drafts for companions, the wallpaper peeling like memory. Hunger is not only of the stomach, but of the rooms no one enters. Psalm V. Communion of Ash They offered her bread that dissolved into soot. They poured her wine that tasted of vinegar and s...
Postingan terbaru

Aku, Cthulhu

Neil Gaiman, 1986, https://www.neilgaiman.com/Cool_Stuff/Short_Stories/I_Cthulhu Ilustrasi Cthulhu oleh Disse86 dari DeviantArt I.   Cthulhu, begitu mereka memanggilku. Cthulhu yang Agung.    Tidak ada seorangpun yang bisa mengeja namaku dengan benar.   Apa kau menulis semua ini? Kata per kata?   Bagus. Harus kumulai dari mana—mm?   Ya sudah, kalau begitu. Dari awal. Tulis apa yang kubilang, Whateley.   Aku dilahirkan ribuan tahun yang lalu, dalam kabut gelap Khaa’yngnaiih (tidak, tentu saja aku tidak tahu bagaimana mengejanya. Tulis saja sesuai bunyinya) dari orang tua mimpi buruk tak bernama, di bawah bulan yang bungkuk. Bukan bulan dari planet ini, tentu saja, aku lahir di bawah bulan sungguhan. Di malam-malam tertentu, bulan itu memenuhi lebih dari separuh langit dan saat bulan tersebut naik, kau bisa menyaksikan darah merah jatuh dan menetesi wajahnya yang bengkak, menodai wajahnya merah, sampai pada titik ketinggian di mana cahayanya menyirami r...

Ada di Instagram: Jalan Hidup Bajingan

Bicara dosa, dulu aku sangat ketakutan mendengar kata itu. Guru agamaku bilang kalau aku dan teman-temanku, walau hidup kami baik sampai saat itu dengan selalu bilang 'tolong', 'terima kasih', dan 'maaf' saat berbuat salah, tak bisa lepas dari dosa. Selepas membahas dosa di kelas, aku merasa tidak nyaman selama hampir seminggu. Rasanya bersalah sekali sampai-sampai menghirup udara saja jadi berat. Aku takut dosa-dosaku kelak akan membuatku dihukum langsung, seperti kena sambar petir di siang bolong atau tiba-tiba saat mengeluarkan tangan dari jendela mobil, tanganku akan putus lalu nyangkut di tiang yang baru dilewati. Kalau sekarang, aku belum memutuskan apa yang kurasakan saat memikirkan mengenai dosa. Tak mau memikirkan itu sih, lebih tepatnya.  Walau tidak mau memikirkan masalah dosa, di waktu-waktu tertentu, rasa bersalah seringkali datang dan menonjok ulu hatiku. Pada saat-saat seperti itu, ingatanku kembali ke masa kecilku. Papiku me...