Neil Gaiman, 1986, https://www.neilgaiman.com/Cool_Stuff/Short_Stories/I_Cthulhu
Ilustrasi Cthulhu oleh Disse86 dari DeviantArt
I.
Cthulhu, begitu mereka memanggilku. Cthulhu yang Agung.
Tidak ada seorangpun yang bisa mengeja namaku dengan benar.
Apa kau menulis semua ini? Kata per kata?
Bagus. Harus kumulai dari mana—mm?
Ya sudah, kalau begitu. Dari awal. Tulis apa yang kubilang, Whateley.
Aku dilahirkan ribuan tahun yang lalu, dalam kabut gelap Khaa’yngnaiih (tidak, tentu saja aku tidak tahu bagaimana mengejanya. Tulis saja sesuai bunyinya) dari orang tua mimpi buruk tak bernama, di bawah bulan yang bungkuk. Bukan bulan dari planet ini, tentu saja, aku lahir di bawah bulan sungguhan. Di malam-malam tertentu, bulan itu memenuhi lebih dari separuh langit dan saat bulan tersebut naik, kau bisa menyaksikan darah merah jatuh dan menetesi wajahnya yang bengkak, menodai wajahnya merah, sampai pada titik ketinggian di mana cahayanya menyirami rawa-rawa dan menjulang di antara cahaya merah kematian.
Begitulah jalannya hari-hari itu.
Atau lebih tepatnya malam-malam yang lampau, secara keseluruhan. Tempat kami memiliki semacam matahari, tapi umurnya sangat tua, bahkan saat itu. Aku ingat pada saat malam, ketika bulan itu akhirnya meledak, kami semua meluncur ke pantai untuk menonton peristiwa itu. Tapi aku terlalu cepat.
Aku tak pernah tahu siapa orang tuaku.
Ayahku dimakan oleh ibuku segera setelah ia membuahi ibu dan ibu, pada gilirannya, dimakan olehku saat aku lahir. Itu adalah ingatan pertamaku selagi semua terjadi. Menggeliat keluar dari ibu, rasa daging busuknya masih terasa di tentakelku.
Jangan kelihatan kaget begitu, Whateley. Aku juga menganggap kalian manusia sama menjijikannya.
Yang mengingatkanku, apa mereka ingat untuk memberi makan shoggoth? Kupikir aku mendengar ocehannya.
Aku menghabiskan beberapa ribu tahun pertamaku di rawa-rawa itu. Aku tak menyukainya, tentu saja, karena warnaku sama seperti ikan trout muda dan panjangku sekitar empat kaki dalam ukuranmu. Aku menghabiskan sebagian besar waktuku merayapi segala macam hal dan memakan mereka dan, pada giliranku, menghindar digerayangi sesuatu dan dimakan.
Begitulah aku melewati masa mudaku.
Dan kemudian suatu hari—seingatku, itu hari Selasa—aku menemukan bahwa ada lebih banyak hal dalam hidup selain makanan. (Seks? Tentu saja tidak. Aku tidak akan mencapai tahap tersebut sampai masa estivasiku berikutnya; planetmu yang kecil dan gemuk ini akan lama mendingin ketika masa itu terjadi). Di hari Selasa itu, Paman Hastur merayap ke bagian rawa tempatku tinggal dengan rahang menyatu erat.
Itu berarti ia tidak bermaksud untuk makan di kunjungan tersebut dan kami bisa berbicara.
Itu pertanyaan bodoh, bahkan untukmu Whateley. Aku tidak menggunakan salah satu mulutku untuk berkomunikasi denganmu, bukan? Baiklah kalau begitu. Satu pertanyaan seperti itu lagi dan aku akan mencari orang lain untuk menuliskan riwayat hidupku. Dan kau akan memberi makan shoggoth.
Kami akan pergi keluar, kata Hastur padaku. Apa kau mau menemani kami?
Kami? Aku bertanya padanya. Siapa kami?
Aku sendiri, katanya, Azathoth, Yog-Sothoth, Nyarlathotep, Tsathogghua, La! Shub Niggurath, Yuggoth muda, dan beberapa lainnya. Kau tau, katanya, geng laki-laki (Aku menerjemahkannya secara bebas untukmu di sini, Whateley, kau mengerti. Kebanyakan dari mereka adalah a-, bi-, atau triseksual, dan si tua La! Shub Niggurath setidaknya memiliki seribu anak, atau begitulah katanya. Cabang keluarga yang itu selalu dibesar-besarkan). Kami akan pergi keluar, ia menyimpulkan, dan kami bertanya-tanya apa kau ingin ikut bersenang-senang.
Aku tak langsung menjawab ajakannya. Sejujurnya, aku tak terlalu menyukai sepupu-sepupuku dan karena beberapa distorsi dimensi yang mengerikan, aku selalu kesulitan untuk melihat mereka dengan jelas. Mereka cenderung kelihatan kabur di sekitar tepian, dan beberapa di antaranya–Sabaoth, misalnya–tampak memiliki terlalu banyak sisian.
Tapi aku masih muda, aku mendambakan kesenangan. “Pasti ada kehidupan yang lebih dari ini!”, aku akan berteriak, selagi rawa-rawa pekuburan berbau pengap menyenangkan menguar di sekelilingku, mendengar ngau-ngau dan para zitador berteriak. Aku menjawab ya, seperti yang mungkin sudah kau duga, dan aku terus meleleh mengejar Hastur sampai kami tiba di tempat pertemuan.
Seingatku, kami menghabiskan bulan berikutnya untuk mendiskusikan ke mana kami akan pergi. Azathoth telah menetapkan tujuannya pergi ke Shaggai yang jauh, dan Nyarlathotep tertarik pergi ke Tempat yang Amat Buruk (Aku tak bisa memikirkan kenapa. Terakhir kali aku ke sana semuanya mati). Semua tempat sama bagiku, Whateley. Di manapun tempat yang basah dan entah bagaimana, terasa agak salah dan aku merasa berada di rumah. Tapi Yog-Shothoth yang mengambil keputusan terakhir, seperti yang selalu ia lakukan, dan kami tiba di dimensi ini.
Kau pernah bertemu Yog-Shothoth, bukan, teman baik berkaki duaku?
Kupikir sudah.
Ia membuka jalan bagi kami untuk sampai di sini.
Sejujurnya, aku tak terlalu ambil pusing waktu itu. Masih tak ambil pusing sekarang. Kalau aku tahu masalah yang akan kami hadapi, aku ragu aku akan terganggu. Tapi saat itu, usiaku masih muda.
Seingatku, perhentian pertama kami adalah Carcosa yang muram. Tempat itu bikin aku takut. Hari-hari ini aku bisa melihat kaummu tanpa gemetar, tapi semua orang di sana, tanpa sisik atau kaki semu di antara mereka, membuatku merinding.
Raja Kuning merupakan orang yang pertama berteman denganku.
Raja berpenampilan compang-camping. Kau tak mengenalnya? Halaman tujuh ratus empat Necronomicon (dari edisi lengkap) mengisyaratkan keberadaannya, dan kupikir Si Idiot Prinn menyebutkannya di De Vermis Mysteriis. Dan kemudian dalam Chambers, tentu saja.
Teman yang baik, setelah aku terbiasa dengan kehadirannya.
Dialah yang pertama kali memberiku ide.
Hal paling buruk apa yang bisa dilakukan di dimensi yang suram ini? Aku bertanya padanya.
Ia tertawa. Ketika aku datang pertama kali ke sini, katanya, sebagai secercah warna di luar angkasa, aku bertanya pada diriku sendiri pertanyaan yang sama. Kemudian aku menemukan kesenangan yang bisa didapatkan dalam menaklukan dunia-dunia aneh ini, memperbudak para penduduknya, membuat mereka takut dan menyembahmu. Lucu sekali.
Tentu saja, Kaum Tetua tidak menyukainya.
Kaum tetua? Aku bertanya.
Bukan, katanya, Kaum Tetua. Ditulis dengan huruf kapital. Gerombolan lucu. Seperti tong besar berkepala bintang laut, dengan sayap besar transparan yang mereka bentangkan saat melintasi angkasa.
Terbang melintasi angkasa? Terbang? Aku terkejut. Kupikir tidak ada orang yang terbang belakangan ini. Buat apa repot-repot kalau seseorang bisa sluggle, mm? Aku paham kenapa mereka disebut kaum tetua. Maaf, Kaum Tetua.
Apa yang dilakukan Kaum Tetua? Aku bertanya pada Raja.
(Aku akan memberitahukanmu segala macam tentang sluggle nanti, Whateley. Tidak ada gunanya, sebenarnya. Kau kurang wnausngh’ang. Meskipun mungkin perlengkapan bulutangkis hampir berfungsi sama baiknya). (Sampai di mana tadi? Oh, ya).
Apa yang dilakukan Kaum Tetua ini, Aku bertanya pada Raja.
Tak banyak, ia menjelaskan. Mereka hanya tidak suka orang lain melakukan hal yang mereka lakukan.
Aku bergetar, menggeliatkan tentakelku seolah mengatakan “Aku telah bertemu makhluk seperti itu di waktuku”, tapi takut pesan itu tidak dimengerti Raja.
Apakah kau tau tempat-tempat yang siap untuk ditaklukan? Aku bertanya padanya.
Ia melambaikan tangan samar-samar ke arah sepetak kecil bintang-bintang yang suram. Ada satu di sana yang mungkin kau suka, katanya padaku. Tempat itu disebut Bumi. Agak terpencil, tapi punya banyak ruang untuk bergerak.
Jahanam konyol.
Itu saja untuk saat ini, Whateley.
Beritahu seseorang untuk memberi shoggoth makan saat kau keluar.
II.
Apa sudah waktunya, Whateley?
Jangan konyol. Aku tahu aku memanggilmu. Ingatanku masih bagus.
Ph'nglui mglw'nafh Cthulhu R'lyeh wgah'nagl fthagn.
Kau tahu apa artinya, bukan?
Di rumahnya di R'lyeh, Cthulhu yang mati menunggu mimpi.
Sebuah pembenaran yang dilebih-lebihkan, yang belum kurasakan belakangan ini.
Itu lelucon, makhluk satu-kepala, lelucon. Apa kau menuliskan semua ini? Bagus. Tetap menulis. Aku tahu sampai dimana cerita kemarin berhenti.
R'lyeh.
Bumi.
Itulah contoh bagaimana bahasa berubah, arti dari kata-kata. Kabur. Aku tidak tahan. Suatu ketika R’Iyeh adalah Bumi, atau setidaknya sebagian yang kukuasai, bagian-bagian basah di permulaan. Sekarang bagian itu hanyalah rumah kecilku di sini, 470 9’ lintang selatan dan 1260 43’ lintang barat.
Atau Kaum Tetua. Mereka menyebut kami Kaum Tetua sekarang. Atau Kaum Tetua Agung, seolah-olah tidak ada perbedaan antara kami dan anak-anak lelaki terlantar itu.
Kabur.
Jadi aku datang ke Bumi, dan di masa itu Bumi jauh lebih basah daripada sekarang. Sungguh sebuah tempat yang indah, lautannya kental seperti sup dan aku bergaul cukup baik dengan banyak orang. Dagon dan anak-anak lelaki lainnya (kali ini aku menggunakan kata tersebut secara harafiah). Kami semua hidup di air pada masa-masa yang sangat jauh tersebut, dan sebelum kau dapat mengatakan Cthulhu fthgan, aku meminta mereka membangun dan memperbudak dan memasak. Dan dimasak, tentu saja.
Yang mengingatkanku, ada sesuatu yang ingin kuberitahukan padamu. Sebuah kisah nyata.
Ada sebuah kapal yang sedang berlayar di lautan. Di lautan lepas Pasifik. Dan di kapal ini ada Pesulap, tukang sihir, yang bekerja untuk menghibur para penumpang. Dan ada pula seekor Burung Beo.
Setiap kali Pesulap itu melakukan triknya, Si Burung Beo akan merusak pertunjukannya. Bagaimana? Dia akan memberitahu mereka bagaimana trik itu dilakukan, begitulah caranya. “Si Pesulap memasangnya di lengan bajunya”, Burung Beo itu akan mengoceh. Atau “dia menumpuk dek kartu” atau “bagian bawahnya palsu”.
Pesulap itu tidak menyukainya.
Akhirnya, tibalah waktunya untuk melakukan trik terbesar Si Pesulap.
Ia mengumumkannya.
Ia menggulung lengan bajunya.
Ia melambaikan kedua lengannya.
Pada saat itu, kapal yang mereka tumpangi lepas kendali dan miring ke satu sisi.
Kaum bawah R’Iyeh telah muncul dari bawah mereka. Gerombolan pelayanku, manusia ikan yang menjijikkan, mengerumuni sisi-sisi kapal, menangkap para penumpang dan awak kapal dan menyeret mereka ke bawah ombak.
R’Iyeh kembali tenggelam di bawah air, menunggu waktu ketika Cthulhu yang menakutkan bangkit kembali dan memerintah sekali lagi.
Sendirian, di atas air kotor, Si Pesulap – di bawah payudara batrachianku yang harganya sangat mahal – mengambang, berpegangan pada sebuah kerangka besi, sendirian. Dan kemudian, jauh di atasnya ia melihat sesosok hijau kecil. Sosok itu terbang rendah, hingga akhirnya bertengger di atas sebongkah kayu apung di dekatnya, dan ia menyadari bahwa sosok itu adalah Si Burung Beo.
Burung Beo itu memiringkan kepalanya ke satu sisi dan menyipitkan mata ke arah Si Pesulap.
“Baiklah,” katanya, “Aku menyerah. Bagaimana kau melakukannya?”
Tentu saja itu kisah nyata, Whateley.
Akankah Cthulhu yang hitam, yang melata pergi dari bintang-bintang gelap ketika mimpi burukmu yang paling tua sedang menyusu di pseudomamaria ibu mereka, yang menunggu waktu ketika bintang-bintang berhamburan keluar dari makam-istananya, menghidupkan kembali kaum beriman dan melanjutkan pemerintahannya, yang menunggu untuk mengajari lagi kesenangan paling tinggi dan indah dari kematian dan pesta pora, akankah ia berbohong kepadamu?
Tentu saja, iya.
Diam, Whateley, aku sedang bicara. Aku tak peduli di mana kau mendengar cerita itu sebelumnya.
Kami bersenang-senang di hari-hari itu, pembantaian dan kehancuran, pengorbanan dan kutukan, darah dan lendir dan cairan, dan permainan kotor tanpa nama. Makanan dan kesenangan. Masa tersebut adalah pesta yang panjang, dan semua orang menyukainya, kecuali mereka yang ditusuk tiang kayu di antara sepotong keju dan nanas.
Oh, kaum raksasa juga hidup di bumi pada era itu.
Masa itu tidak bertahan selamanya.
Dari langit mereka turun, dengan sayap transparan dan aturan dan regulasi dan rutinitas dan Dho-Hna tahu berapa banyak formulir berangkap yang harus diisi. Birokrasi kecil banal, kebanyakan dari mereka itu. Kau bisa melihat itu hanya dari memandang mereka: Lima-kepala-lancip – setiap orang yang kau lihat memiliki lima titik puncak, apapun lengannya, di kepala mereka (yang bisa kutambahkan adalah posisinya selalu di tempat yang sama). Tak satupun dari mereka memiliki imajinasi untuk menumbuhkan tiga atau enam lengan, atau seratus dan dua ratus. Lima, setiap saat.
Tidak bermaksud untuk menyinggung.
Kami tidak cocok.
Mereka tidak menyukai pestaku.
Mereka mengetuk dinding-dinding (secara kiasan). Kami tak peduli. Kemudian mereka menjadi jahat. Berdebat. Brengsek. Berkelahi.
Oke, kata kami, kalian ingin laut, kalian bisa memiliki lautan. Kunci, saham, dan laras berkepala bintang laut. Kami pindah ke daratan – saat itu cukup berawa – dan kami membangun struktur monolitik raksasa yang mengkerdilkan pegunungan.
Kau tahu apa yang membunuh dinosaurus, Whateley? Kami. Dalam satu acara barbekyu.
Tapi para pembunuh kesenangan berkepala lancip itu tidak puas hanya sendiri. Mereka mencoba memindahkan planet lebih dekat ke matahari – atau lebih jauh? Aku tak pernah benar-benar bertanya pada mereka. Hal berikutnya yang kutahu, kami berada di bawah laut lagi.
Kau harus tertawa.
Kota Kaum Tetua sudah diincar. Mereka membenci udara kering dan dingin, seperti halnya makhluk-makhluk ciptaan mereka. Tiba-tiba mereka berada di Antartika, sekering tulang dan sedingin dataran hilang Leng yang dikutuk tiga kali.
Kisah ini mengakhiri pelajaran kita hari ini, Whateley.
Dan bisakah kau meminta seseorang untuk memberi makan shoggoth jahanam itu?
III.
(Profesor Armitage dan Wilmarth sama-sama yakin bahwa tidak kurang dari tiga halaman hilang dari naskah di titik ini, mengutip teks dan panjangnya. Saya setuju.)
Bintang-bintang berubah, Whateley.
Bayangkan tubuhmu terpisah dari kepala, menyisakan segumpal daging di atas lempengan marmer yang dingin, berkedip dan tersedak. Seperti itulah rasanya. Pestanya sudah selesai.
Pesta itu membunuh kami.
Lantas kami menunggu di bawah sini.
Mengerikan, eh?
Tidak juga. Aku tak terlalu peduli. Aku bisa menunggu.
Aku duduk di sini, mati dan bermimpi, menyaksikan kerajaan semut manusia bangkit dan jatuh, menjulang dan runtuh.
Suatu hari – mungkin akan datang besok, mungkin di hari-hari yang lebih esok yang tak bisa kau bayangkan dengan otakmu yang kecil – bintang-bintang akan sejajar di surga, dan waktu kehancuran akan menimpa kita: Aku akan bangkit dari dalam dan aku akan menguasai dunia sekali lagi.
Kerusuhan dan pesta pora, darah-makanan dan kebodohan, senja abadi dan mimpi buruk dan jeritan orang mati dan yang belum mati dan nyanyian orang beriman.
Dan setelahnya?
Aku akan meninggalkan dimensi ini, ketika dunia ini serupa abu dingin yang mengorbit matahari tanpa cahaya. Aku akan kembali ke tempatku sendiri, di mana darah turun menetes tiap malam di wajah bulan yang membengkak seperti mata seorang pelaut yang mengantuk, dan aku akan berestivasi.
Kemudian aku akan kawin, dan pada akhirnya aku akan merasakan sebuah geliat dalam diriku, dan aku akan merasakan Si Kecil menggigit jalan keluarnya menuju cahaya.
Um.
Apa kau menulis ini semua, Whateley?
Bagus.
Nah, itu saja. Tamat. Narasi selesai.
Tebak apa yang akan kita lakukan sekarang? Tepat sekali.
Kita akan memberi makan shoggoth.
Komentar
Posting Komentar