I a sama seperti yang sakit otak lainnya. Sudah hilang waras dari pertama. Sudah hilang fungsi beberapa indera pengecapnya. Yang tersisa dari dirinya cuma sekedar histeria belaka; di mana seluruh tubuhnya menggigil hampir setiap saat, dua bola matanya melebar dan giginya gemeletukkan, menyeringai sinting. Yang menggerakkan pikirannya cuma insting binatang, sisa-sisa hewani dari sebuah kesadaran manusia, terbalut secara rapi dalam kenampakan pria muda dengan tipikal wajah keras, mata biru cemerlang, serta jaket kulit mahal. Ia ada di hadapan saya, kami saling menatap. Ia dan saya, lewat tatapan kami mencoba berlogika. Dan saya sudah tahu hal ini sia-sia dari awal, ia tidak pernah akan bisa berubah. Sungguh. Beda jarak antara kami cuma selebar meja bundar warna biru tua keropos berbau karat dan anonimitas yang ada di sekitar kami, entah itu mengenai rumah minum, soal atmosfernya yang tumpang tindih dengan obrolan orang-orang asing dan lagu mendayu-dayu dari penyan...
stories, words, and everything worth to be told