Langsung ke konten utama

Adam



I
a sama seperti yang sakit otak lainnya. Sudah hilang waras dari pertama. Sudah hilang fungsi beberapa indera pengecapnya. Yang tersisa dari dirinya cuma sekedar histeria belaka; di mana seluruh tubuhnya menggigil hampir setiap saat, dua bola matanya melebar dan giginya gemeletukkan, menyeringai sinting. Yang menggerakkan pikirannya cuma insting binatang, sisa-sisa hewani dari sebuah kesadaran manusia, terbalut secara rapi dalam kenampakan pria muda dengan tipikal wajah keras, mata biru cemerlang, serta jaket kulit mahal.
Ia ada di hadapan saya, kami saling menatap. Ia dan saya, lewat tatapan kami mencoba berlogika. Dan saya sudah tahu hal ini sia-sia dari awal, ia tidak pernah akan bisa berubah.
Sungguh.
Beda jarak antara kami cuma selebar meja bundar warna biru tua keropos berbau karat dan anonimitas yang ada di sekitar kami, entah itu mengenai rumah minum, soal atmosfernya yang tumpang tindih dengan obrolan orang-orang asing dan lagu mendayu-dayu dari penyanyi murahan di atas panggung, sama sekali tidak membantu saya untuk hilang was-was. Saya tahu sebagaimana ia juga tahu bahwa ada sisi kompulsif yang senantiasa mengintai di balik pikirannya. Salah bicara maka matilah kau, salah gerak tubuh maka matilah kau.
Ia licik, ia menjebak saya―menodong saya dengan ancaman lewat senyum yang baru saja tergurat di wajahnya. Lelaki itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap saya. Jengit listrik sekilas membuat saya terkejut. Oh, apa saya sudah sebegitunya terhadap dia? Sebegitu ketakutan terhadap dia?
Ia mengerutkan kening, tidak senang.
“…kenapa?” ia bertanya, suaranya dalam dan bergemuruh.
Ada nada desak keputusasaan dalam suaranya, suara seperti jeritan hewan yang terluka. Tapi saya sudah terlalu terbiasa. Sudah hilang jari untuk hitung berapa banyak kejadian di masa lalu di mana keadaannya sama seperti sekarang. Ia datang memojokkan, saya bertahan. Ia bertanya mengapa, saya diam―ketakutan, jengah, cari fokus lain untuk dipandangi selain matanya yang membuat jantung saya berdebar pelan dan menyakitkan. Pelan dan menyakitkan.
Brak!
Kejutan lagi, saya hampir-hampir menutup mata sendiri waktu dia menendang keras meja yang jadi tameng terakhir saya. Orang-orang diam sekilas, memperhatikan kami berdua. Terkutuk bagi anonimitas. Mereka cuma bangsat yang coba cari-cari kesempatan buat tahu apa yang selama ini saya tutupi. Tapi bukankah kau justru merasa aman dengan semua ini? Ada yang bergaung dalam benak saya, nadanya mencemooh. Diantara orang-orang ramai ini, ia juga tidak bisa melakukan apapun selain menggertakkan gigi dan mengepalkan jari.
Diam. Diam. Diam.  Tidak begitu.  Saya pilih tempat ini karena… Karena….
“Eva,”
Karena….
“Eve,”
Terkejut. Lagi. Dada saya susah urai, masih sesak dengan udara yang terperangkap dalam paru-paru. Bisa saya rasakan tangan saya gemetar dan pelupuk mata saya memanas. Oh tidak, jangan sekarang. Saya tidak boleh selemah ini dalam waktu seperti ini. Terkutuk. Terkutuk. Terkutuk yang berdering dalam kepala saya dan coba hilangkan berani itu. Dan ia seolah tahu, ia  tertawa. Mencemooh.
“Sayang,” ia merendahkan suaranya, coba menggapai tangan saya. Buru-buru saya tarik tangan itu, bersidekap. Sekali lagi ia tidak senang. Senyumnya pecah jadi ringisan jelek, matanya tajam, rahangnya terkatup rapat. “Baiklah. Tenang. Saya tidak bersusah payah begini Cuma untuk melihat kamu… ketakutan,” ia menggumam lamat, serta merta mencondongkan tubuhnya lagi. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri. “Ah, ketakutankah itu yang kamu rasakan, hmm?” Nadanya memburu, tangan-tangannya yang kurus dan kokoh meraba penampang meja bundar di hadapan saya. “…be-gi-tu?”
Saya menelan ludah yang terkumpul seperti meneguk racun diri sendiri. “Tidak...” saya bilang, suara saya seperti curut terjepit lemari, dibalut dusta tolol. Saya hirup udara lembab di sekitar bersama asap rokok yang menggelayuti sebagian teritori duduk kami. Otak saya bebal tiba-tiba, disuntik jadi baal. “Saya tidak… takut.”
Lelaki itu mengerjapkan mata, terkekeh. “Bagus. Bagus.”
“―dan saya tidak mau kembali…”
Jeda.
Matanya berkilat dalam bayang gelap. “…kenapa?”
“Cuma tidak mau.”
“Kenapa?”
“Adam…”
Kenapa?” ia mengulang lagi, menggertakkan gigi. “Kenapa tidak mau? Kenapa Cuma tidak mau? Kenapa? Kenapa? KENAPA?!”
Saya menggigit bibir, pucat pasi. Lebarkan mata Cuma buat lihat ia yang selama ini saya cintai, yang kemudian membunuh cinta saya dengan kesintingannya, yang kemudian meminta saya supaya tetap bersamanya di pondok kayu tempat mimpi saya pernah berbunga dalam balutan keluarga bahagia dengan tiga buah hati dan seorang suami penyayang, berubah jadi setan keparat. Tontonan menarik bagi fragmen-fragmen ambigu sekotor jelaga di sekitar kami.
“Adam…” saya mendesis memanggil namanya, was-was, melirik mereka yang menatap ke arah kami ketakutan. “Adam.. Tidak lagi. Jangan begitu. Coba dengar saya.”
“Coba kamu yang dengar olokan yang ada di sini, binal,” ia mengetuk tempurung kepalanya, bicaranya melibas logika yang mau saya tautkan dalam kesadarannya. Emosi meledak dalam rupa getaran di seluruh tubuhnya, histeria terlihat sejelas pada dua bola matanya sementara nadanya naik turun, mendesis-desis.
“Coba kamu yang dengar olokannya, sundal keparat.”
Saya nelangsa. Perih di dalam dada waktu ia panggil saya dengan sebutan-sebutan sial itu. Dan saya berubah jadi idiot, pendirian saya goyah. Saya meraih tangannya yang kemudian dibalasnya dengan mencengkram tangan saya kencang-kencang. Seolah tangan saya besi dan ia adalah anak kecil limbung yang butuh penopang. Anak kecil yang butuh penopang… Adam yang saya cintai sepenuh hati, seorang anak kecil yang butuh penopang. Anak kecil yang sakit.
Sakit.
“Adam..”
“Eva…”
“Shhhh, tenang. Tenang,” saya berkata lirih, perlahan, supaya orang-orang di sekeliling tidak ikut campur lagi jadi penikmat tontonan emosi antara saya dan Adam. Saya elus tangannya, lihat mata biru cemerlangnya lurus-lurus. Konsolidasi adalah pilihan saya waktu itu meski kalau boleh jujur saya pasti punya penyesalan di masa depan soal tindakan saya.
Tapi tidak, saya pikir. Ini Adam. Adam saya yang manis. Adam yang saya pernah saya cintai, yang sekarang saya cintai, dan yang akan selalu saya cintai―terlepas dari ceritanya soal suara-suara berdering itu.
Emosi Adam datang dan pergi dengan cepat, napasnya sekarang mulai memelan. Ia mengendurkan pegangan tangannya pada jemari saya yang sudah kebas dari tadi. Tertelungkup, dahinya yang berkeringat menempel pada punggung tangan saya. Adam… Adam saya yang manis. Adam yang malang, yang mencintai saya lebih besar daripada dirinya sendiri seperti saya mencintai dirinya melebihi daging dan tulang sendiri. Adam yang sakit.
“Kembali, ayo kembali,” ia menggumam, kepalanya bergerak perlahan.
Adam yang sakit… yang tidak juga mengerti…
“Kamu tahu itu sulit. Kita sama-sama percaya yang baik. Kamu percaya kita harus sama-sama, saya percaya sebaiknya pisah,”
“Kamu yang terakhir,” ia terus menggumam, kepalanya bergerak lagi perlahan, membentur-benturkan tangan saya ke kepalanya. “Saya coba percaya soal baik kalau pisah. Tapi susah. Kamu yang terakhir. Saya coba jalan sendiri, tapi saya lumpuh. Kamu yang terakhir. Saya coba kenali diri, tapi saya tidak tahu siapa saya,”
Lelaki itu menengadah, wajahnya basah karena air mata. Penerangan temaram rumah minum anonim itu jatuh menimpa wajahnya, menampilkan kerutan di wajahnya. Terpahat begitu dalam, juga bekas-bekas luka keperakan di dahi, di pipi, di pelipisnya. Dan tiba-tiba saya jadi rindu dia.
Rindu Adam. Rindu dua puluh lima tahun hidup dalam makian dan senggama yang menyakitkan. Rindu imaji kering soal Kain dan Abel yang saling membunuh selagi berada dalam rahim saya. Rindu Adam…
“Jadi kamu harus kembali,” pandangannya mengeras, cengkramannya mengencang.
Ia tidak mengerti. Tidak mau mengerti. Logika mental melawan tempurung kepalanya, juga tangis, juga simpati, juga penolakan. Jadi saya harus bagaimana? Harus apa? Saya benci harus mengulang dakwaan saya terhadap ia. Adam yang ada di hadapan saya gila. Ia meracau sendiri, ia memukul saya, ia menggurat perut saya yang hamil Kain dan Abel dengan pecahan botol. Ia hilang waras, meski saya bingung. Mengapa oranglain justru tidak rasakan hal itu daripada dia? Mengapa para dokter rumah sakit yang pernah saya telpon malah kasih pemeriksaan bahwa mentalnya sesehat lelaki empat puluh lima tahun umumnya?
“Adam… Adam…” saya menggeleng.
“Eva… Eve… Kembali…”
Saya bergeming, berusaha menarik tangan saya daripadanya.
“Kembali…”
“Adam, saya―”
“KEMBALI!”
DOR!
Teriakan. Banyak teriakan. Meja-meja berderit waktu banyak orang di sana menghambur keluar, berdesak-desakan. Saya dengar mulut saya memanggil nama dia dalam jerit keputus asaan, tubuh limbung, ada yang panas menggerogoti perut saya. Darah, darah, darah merembes keluar. Adam menatap saya dengan seringai pecah di wajahnya, moncong pistol keperakan terarah pada saya.
DOR! DOR! DOR!
Jeritan, jeritan yang lirih. Lalu warna biru tua gerogoti pandangan saya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psalter of Undone Girls

Book I: Of Hunger Psalm I. The Starvation Game She starved at the table of touch. Every smile was rationed. She learned to chew absence, to swallow glances like crumbs. The hunger taught her that even neglect has calories. Psalm II. The Mouth as Wound The mouth opens for speech, but bleeds instead. Desire leaks, iron-tasting. A kiss is just a suture failing. What is voiced is not heard, what is heard is not held. Psalm III. Banquet of Absence We sit around a feast of plates. The cutlery gleams with nothing. We praise the spread of air, raise a toast to lack. Our bellies groan like choirs, our hollow becomes our hymn. Psalm IV. The Body as Empty House Her ribs are doorframes, her lungs the dusty halls. Every step echoes. She lies in bed with drafts for companions, the wallpaper peeling like memory. Hunger is not only of the stomach, but of the rooms no one enters. Psalm V. Communion of Ash They offered her bread that dissolved into soot. They poured her wine that tasted of vinegar and s...

Aku, Cthulhu

Neil Gaiman, 1986, https://www.neilgaiman.com/Cool_Stuff/Short_Stories/I_Cthulhu Ilustrasi Cthulhu oleh Disse86 dari DeviantArt I.   Cthulhu, begitu mereka memanggilku. Cthulhu yang Agung.    Tidak ada seorangpun yang bisa mengeja namaku dengan benar.   Apa kau menulis semua ini? Kata per kata?   Bagus. Harus kumulai dari mana—mm?   Ya sudah, kalau begitu. Dari awal. Tulis apa yang kubilang, Whateley.   Aku dilahirkan ribuan tahun yang lalu, dalam kabut gelap Khaa’yngnaiih (tidak, tentu saja aku tidak tahu bagaimana mengejanya. Tulis saja sesuai bunyinya) dari orang tua mimpi buruk tak bernama, di bawah bulan yang bungkuk. Bukan bulan dari planet ini, tentu saja, aku lahir di bawah bulan sungguhan. Di malam-malam tertentu, bulan itu memenuhi lebih dari separuh langit dan saat bulan tersebut naik, kau bisa menyaksikan darah merah jatuh dan menetesi wajahnya yang bengkak, menodai wajahnya merah, sampai pada titik ketinggian di mana cahayanya menyirami r...

Ragu Menyengat

Kamu tahu, apa yang angin hadirkan padaku malam itu? Ragi, ragu, keringat udara musim penghujan berbau menyengat. Sedikit manis lalu asam membaur di permukaan lidah. Rontok segala yang ada di dada meski jarak tidak seberapa. Ujung-ujungnya aku terengah menjadi gerah dan lelah Gelitik hari itupun runut selantunan kecapi pada telinga ia berbuah rasa hangat yang hanya bertalu-talu di dada bukan tipikal rindu yang mudah dinikmati Kilasan pertemuan, tawa yang menjemukan, cinta yang mengharukan, Tidak pernah sederhana malah menuai petaka Lalu setelah ini apa? "Mari kita menyerah dan tanggalkan  harapan masing-masing sebelum hilang selamanya." 25 Agustus 2013.