Konon, ibunya sendirilah yang mengharapkan dua bola matanya berwarna senada batu kecubung; gelap dan mengesankan. Rambutnya sehitam kayu ebony, bibirnya semerah darah dan kulitnya seputih salju. Konon begitulah ia terlahir, dari sebuah nazar seorang wanita mendekati umur tiga puluh yang merajut sebuah baju hangat di penghujung musim dingin. Dari sebuah pemandangan terbaik yang bisa diberikan tiga kombinasi warna tumpang tindih. Namanya Salju. Dan karena ibunya adalah seorang ratu dari kerajaan antah berantah yang jauh maka orang-orang mengenalnya dengan nama Putri Salju. Yang tumbuh beberapa tahun setelah lahir ke dunia perlahan dibentuk oleh waktu. Pinggangnya dimekarkan, bibirnya dibuat ranum dan rambutnya makin hari makin panjang tergerai lemas di pundaknya. Sekalipun tidak pernah melihat ibu yang melahirkannya ― yang kemudian pada hari keempatnya bergelung di antara bantal berbulu angsa digantikan oleh sosok perempuan cantik asing, pengantin lain bagi raja tua di masanya ―Putr...
stories, words, and everything worth to be told