Konon, ibunya sendirilah yang mengharapkan dua bola matanya berwarna senada batu kecubung; gelap dan mengesankan. Rambutnya sehitam kayu ebony, bibirnya semerah darah dan kulitnya seputih salju. Konon begitulah ia terlahir, dari sebuah nazar seorang wanita mendekati umur tiga puluh yang merajut sebuah baju hangat di penghujung musim dingin. Dari sebuah pemandangan terbaik yang bisa diberikan tiga kombinasi warna tumpang tindih. Namanya Salju. Dan karena ibunya adalah seorang ratu dari kerajaan antah berantah yang jauh maka orang-orang mengenalnya dengan nama Putri Salju.
Yang tumbuh beberapa tahun setelah lahir ke dunia perlahan dibentuk oleh waktu. Pinggangnya dimekarkan, bibirnya dibuat ranum dan rambutnya makin hari makin panjang tergerai lemas di pundaknya. Sekalipun tidak pernah melihat ibu yang melahirkannya―yang kemudian pada hari keempatnya bergelung di antara bantal berbulu angsa digantikan oleh sosok perempuan cantik asing, pengantin lain bagi raja tua di masanya―Putri Salju percaya ia adalah replika langsung dari Ratu. Semua orang memujanya. Semua mencintai perangainya; pencuri perhatian, punya tawa riang, dan penyayang. Putri salju adalah kebanggan Sang Raja, kebanggaan para pelayan bercelemek hitam dengan kelim keemasan di pinggirannya. Meski dengan demikian ia menumbuhkan benih dendam pada yang memiliki hati sehitam jelaga di balik bayang-bayang kastil.
Dan ketika itu usianya baru tujuh tahun, nyaris menginjak umur delapan.
***
“Cermin, Cermin di dinding! Siapakah dia yang tercantik diantara semuanya?”
Suatu hari, Ratu yang genap empat belas tahun diangkat menjadi junjungan negara tersebut menggumam. Sunyi, sepi, pada tembok kastil diantara dengkuran Sang Raja, wajah angkuh Ratu terpantul di cermin―kecantikannya beku dan kaku digurat luka harga diri. Cermin itu lantas membias. Wajahnya sama, wajah pongah si Ratu, tapi ada yang berbeda dari senyumnya. Arif dan bijaksana, bibir tipisnya membuka. Sebuah suara terdengar dari jauh. Jauh. Jauh. Lebih jauh lagi dari kenyataan. Ibarat asap, dapat dikecap oleh indera tapi buyar begitu di dekati.
Rasanya Ratu sudah tahu jawabannya. Ini jadi semacam ritual. Pengingat, sebuah mantra yang kuat sekaligus hadiah dari masa lalunya. Tukang teluh dari desa asal Ratu berjanji bahwa bagaimanapun ia adalah yang tercantik―yang busuk dan korengnya ditimbun oleh wewangian madu menggiurkan. Maka tukang teluh itu memberikannya cermin ajaib. Yang dijampi-jampi supaya dapat bicara, kata si tukang teluh. Yang selama beberapa tahun ini berkata dengan tulus, “Kau, Ratuku, adalah yang tercantik.”
Tapi kali ini Sang Ratu tidak mendengar kalimat tersebut.
“Ratuku, kau adalah yang paling cantik,” kata Sang Cermin. “Tapi seorang gadis sudah tumbuh menjadi jauh lebih cantik darimu. Rambutnya sehitam kayu ebony, bibirnya semerah darah dan kulitnya seputih salju. Ialah―”
“―Putri Salju.”
Sang Ratu marah, terbakar api cemburu. Ia menjejakkan kaki, menuruni tangga spiral istananya. Rambut sepirang jerami dengan gelombang besar-besar melambai dibelakang, segala-galanya tergesa mengikuti Ratu―termasuk banyak pelayan istana dengan celemek hitam berkelium emas. Suaranya keras, suaranya memburu. Borok yang ada dihatinya seolah dicungkil dan darah sehitam mawar beracun meleleh pelan-pelan, menyebar ke seluruh tubuhnya. “Bawakan seorang pemburu ke hadapanku! Sekarang!”
Lantas ia mendapatkannya kemudian, setelah enam belas menit penuh diam yang lama di atas tahtanya; kursi tinggi berbantal beledu ungu. Seorang pria, tangan-tangannya kasar bekas menyamak kulit. Punya ceruk dalam di pipi kanan dan mata setajam elang pegunungan, berderap masuk. Disebelah kiri sisi tubuhnya, pegangan belati hitam menyembul keluar, lelaki itu menunduk patuh pada junjungannya.
“Yang Mulia memanggilku.”
“Aku memanggilmu,” suara ponggah penuh getir mendesis. Cuping hidung Ratu kembang-kempis. Ia bangkit dari tahtanya, sutra tipis berwarna merah marun ikut bergerak melambai waktu tangannya mencabut pedang dari dinding istana.
Klontang!―begitu bunyi suara besi dan lantai istana beradu.
“Buru ia yang memiliki potongan warna ebony, bibir semerah darah dan kulit seputih susu untukku di hutan sana,” sang Ratu berujar.
“Apakah binatang itu yang memiliki potongan warna ebony, bibir semerah darah dan kulit seputih susu, Yang Mulia?”
Si Pemburu bertanya, mencoba menerka-nerka. Karena pada zaman tersebut masih maraklah perburuan rubah berbulu sekuning lembayung dan taring babi hutan merupakan tanda kehebatan dari pemburu profesional.
“Tantangan lain. Seorang manusia,” Sang Ratu tersenyum tipis, melenggangkan tubuhnya kembali ke arah tahtanya berada. “Bawakan hati dan isi perutnya dihadapanku! Bawakan hati dan isi perut Putri Salju untukku!”
Si Pemburu menegadahkan kepalanya, horor melintas di wajahnya. Ia berhasil menghidu busuknya borok diantara timbunan wewangian madu wanita yang bertengger di tahtanya dan lelaki itu tidak senang. “Hidupku dari menyamak kulit binatang liar, pakanku dari daging hitam yang menggerogoti tapal kuda, tapi aku bukanlah pemutus nadi manusia.”
Harga diri, sang Ratu membatin. Harga diri dari seorang tanpa kekuasaan adalah frasa yang menjijikan.
“Maka janganlah lihat dirinya sebagai manusia. Ia binatang, sama seperti yang kulitnya kau samak tiap pulang berburu. Ia binatang, sama seperti daging hitam yang kau masak dan beri pada keluargamu,” kata Ratu, matanya berkilat-kilat penuh dendam. “Buang harga dirimu, Kasta Rendah. Aku adalah Ratumu! Turuti perintahku atau hatimu yang akan kulempar pada burung bangkai sebagai ganti milik Putri Salju!”
Nadanya final, otoritas yang serta merta menyergap kesadaran Si Pemburu. Lelaki itu ingat keluarganya, ingat bagaimana ia harus member makan istri kesayangannya juga buah hati pernikahannya. Ragu dan meragu, sebelum akhirnya hilang arah dan tujuan di mata kejam wanita dengan kecantikan beku yang penuh dendam. Si Pemburu bangkit dan menarik pedang untuknya sendiri lantas undur diri.
Dua senja setelahnya, Si Pemburu datang kembali. Hati segar berwarna merah dicengkramnya beserta isi perut berbau amis. Ratu senang dan mengumbar tawa. Seisi kastil penuh dengan jeritan histerianya. Ratu gila, Raja tidak juga ambil tindak―Cuma diam dan menua, sedih hatinya kehilangan kebanggaan terbesarnya; Putri Salju.
Maka sekali lagi ia memandang ke cermin ajaibnya.
“Siapa yang paling cantik diantara semuanya?” Ratu itu bertanya, senyumnya sumir.
Dan sekali lagi terkejutlah wanita jahat itu mendengar jawaban Sang Cermin; “Yang tercantik diantara semua memiliki rambut sehitam kayu ebony, bibir semerah darah dan kulit seputih salju. Yang tercantik diantara semua tinggal jauh di dalam hutan bersama tujuh orang mungil dari barat. ”
“Dia, Putri Salju.”
Sang Ratu menjerit, istananya penuh grasa-grusu. Si Pemburu ditangkap, disiksa di ruang bawah tanah istana―dua kaki terjerat besi berat semetara tubuhnya dicambuki tanpa ampun. Akhirnya, setelah tujuh malam dicambuki sampai kulit-kulit arinya mengelupas berdarah, lelaki itu mengaku. Hati yang ia persembahkan adalah hati dari seekor babi liar. Si Pemburu ingat buah hatinya sendiri, tak tega membunuh gadis tersebut. Lantas ia melepaskan Putri Salju begitu saja, berlarian ke hutan.
Sang Ratu yang dengar ceritanya marah, kalap. Si Pemburu mati. Pada akhirnya bukan kapak itu yang membuat kepala Si Pemburu menggelinding ke tanah, melainkan rasa kemanusiaan bernama simpati.
***
Jauh di dalam hutan, sementara jubahnya robek di setiap sisi kesukaan gadis tersebut, Putri Salju akhirnya lolos. Duri-duri menancap di kulitnya, gatal. Manik kecubungnya memandang ke sekeliling mencoba mencari arah, tapi Cuma panik yang bisa dirasakannya. Si Pemburu bilang seseorang tengah mengincar nyawanya. Seseorang berkuasa lain di kerajaan itu; Sang Ratu―ibu tirinya sendiri.
Oh, gadis itu salah menafsirkan situasi. Ia punya firasat, ia bukan gadis bodoh. Tapi demi Tuhan, Putri Salju tidak pernah sampai hati memikirkan yang terburuk diantara semua pemikirannya. Sosok ibu tirinya sudah melebihi panutan. Ia mengajarkan Putri Salju untuk selalu bersikap rendah hati―berikan banyak baju bekas sebagai pencerminan citra sederhana. “Kerja adalah yang utama. Tahu penderitaan rakyat. Putri atau bukan, kau harus mengerti hal itu, Salju. Karena kearifan dalam memerintah ada dalam kesederhanaan.” begitu kata ibu tirinya.
Tapi apa ini yang di dengarnya?
Sang Ratu menyuruh Si Pemburu untuk membunuhnya. Sang Ratu―wanita yang ia panggil ibu secara hormat dan segan adala ternyata memendam kebusukan di dalam dirinya. Putri Salju berlari menjauh, amarah dan benci bercampur takut berkelakar di dalam dada, memberinya kekuatan lebih untuk menangisi hidupnya. Merasa jauh lebih terluka; kepercayaannya dikhianati.
Setelah perjalanannya yang melelahkan―tersangkut sulur tanaman dan pusing mendadak akibat menangis tersedu-sedu―kaki-kaki Putri Salju menapak tepat di hadapan gundukan kecil menempel pada batu. Dua jendela mungil dan satu pintu setinggi tiga perempat tubuhnya dicat biru, mirip penampang pondok seseorang. Seseorang yang kecil sekali.
Ia mengetuk sekali. Tidak ada suara.
Dua kali. Tetap tidak ada suara.
Maka gadis tersebut memutar kenop pintu, menundukkan tubuhnya supaya masuk semua dan mendapati miniatur perabotan―masing-masing setinggi tiga perempat tubuhnya sendiri tersusun rapi. Bau harum masakan tercium dari tujuh mangkuk sop, bau harum teh melati juga tercium dari tujuh cangkir gelas di sebelah mangkuk sopnya. Kenapa harus tujuh pasang, masing-masing? Putri Salju membatin, dan memang begitulah adanya. Semua perabotan di sana ada tujuh.
Tujuh kursi karyu mengelilingi perapian dan meja makan. Tujuh pasang kaus kaki terlampir di atas rak perapian. Tujuh handuk putih dan tujuh puluh tujuh anak tangga menuju lantai dua. Putri salju sudah mempersiapkan diri untuk melihat tujuh pintu kamar, tapi―ah, cuma ada satu pintu di lantai atas. Meski di dalamnya ada tujuh buah tempat tidur mini!
Bekas airmatanya membuat wajah kaku dan pemandangan tempat tidur empuk tertutup kain putih linen membuat Putri Salju tiba-tiba mengantuk. Gadis itu terjatuh dalam buai letih, napasnya kemudian ditarik pelan―damai.
Baru belakangan ia tahu bahwa pemilik pondok itu adalah tujuh pria berbadan kecil penambang bebatuan berharga di sekitar tempat mereka tinggal. Ada situs yang terlupakan dan mereka berusaha menimbun harta mereka kembali―pajak kerajaan, kata mereka, sangatlah besar. Waktu Raja masih berkuasa sedikit lebih baik, kata salah seorang dari mereka. Tapi begitu Ratu yang mengambil wewenang, perserikatan dagang kurcaci mini bagian barat menolak habis-habisan perombakan besar-besaran peraturan perundangan kerajaan.
“Licik benar betina itu, tahu? Licik benar! Ladey-Lad beri kami tempat untuk tinggal setengah mil jauhnya dari pusat kerajaan. Tapi Ratu licik itu terus mendesak kami supaya bayar pajak,” seseorang dari antara para kurcaci mengomel waktu makan malam, roti sup perancisnya diketok ke pinggiran mangkuk. Marah. Yang lain ikut melakukan hal yang serupa. Nada tok-tok-tok terdengar sinkron ditelinga.
“Kami bangkrut dan harus cari duit di dalam hutan. Cari-cari batu buat dijual. Licik benar! Licik benar!”
Putri Salju berusaha paham, berusaha lihat dari sisi cerita mereka. “Tapi Ladey-Lad tidak menolong kalian,” ia menggumam.
“Tidak ada yang berani, soalnya. Sulit buat bikin Ladey-Lad alihkan perhatian. Dan serikat dagang kurcaci bagian barat masih terikat kontrak dengan kerajaan,” salah seorang kurcaci berseru. Umpatan bahasa kasar meluncur dari mulut yang lain. “Kami jadi tidak terbuka pada orang baru. Malas, tahu. Uang juga pas-pasan buat bikin kue kering masing-masing satu.”
Purti Salju bergerak gelisah.
“―tapi kami suka padamu. Kau boleh tinggal,” pekik kurcaci yang riang, mukanya memerah lebih bahagia dari yang lain. “Makannya tidak banyak, tapi cukup. Kalau kau bisa menjahit untuk kami, memasak, membersihkan pondok, merapikan tempat tidur dan memasakkan kami cemilan, kau bisa mendapatkan apapun yang kau mau.”
Wajah gadis itu bersemburat merah, senang. “Tentu,” ia mengangguk. “Aku bisa melakukannya.”
Maka begitulah mereka habiskan sehari yang pertama, berlanjut pada hari-hari selanjutnya dengan Putri Salju sebagai peserta makan kedelapan.
Dimana kelak, Putri Salju mendapat perlindungan dari dua kali percobaan pembunuhan gagal; satu waktu Ratu jahat menyamar menjadi seorang pedagang tudung yang mencekik Putri Salju sampai pingsan (tapi akhirnya digagalkan oleh kurcaci yang cepat pulang dan melepaskan tudungnya) dan satu waktu Ratu jahat menyamar kembali menjadi seorang nenek tua penjual sisir (yang diracuni tentu, tapi berhasil dicegah kematiannya oleh kurcaci yang cepat pulang dan di beri penawar racun), dan satu pembunuhan betulan yang melibatkan apel beracun.
Karena memang sebenarnya masih tersisa naïf yang sama pada gadis itu, rasa percaya yang sama sampai-sampai pada akhirnya Putri Salju terbujur kaku. Tujuh kurcaci menangisi putri mereka yang bodoh dan naïf, merangkum profil tubuhnya pada pembaringan sempurna kotak kaca transparan bertabur bunga.
Putri Salju sudah mati.
***
….
….sudah mati.
Atau mungkin tidak juga.
Takdir itu aneh. Buah perkawinan waktu dan gravitasi dalam banyak arti. Sementara Sang Ratu jahat bersukaria diantara kesenangannya berhasil membunuh Putri Salju, seorang pangeran secara kebetulan melaju melintasi hutan. Ia tersesat, tidak juga menemukan jalan untuk pulang ke rumahnya. Kerajaan miliknya ada di balik hutan ini dan perburuannya yang terlalu jauh sempat mencemaskan dirinya karena ia mendengarnya sendiri, kerajaan tetangga bukanlah rumah bagi tamu asing macam dirinya.
Pangeran itu lantas mengikuti nalurinya―mendengarkan gemerisik angin dan, ah! Suara apa itu? Ia mendengar gerutuan, raungan susul menyusul dari balik sesemakan. Lantas pangeran langsung memacu kudanya menembus dedaunan, mendapati seorang gadis tergeletak dalam lingkup kaca dan tujuh orang kurcaci menangis.
“Apa yang terjadi? Siapa yang tergeletak di sana?” Suara Sang Pangeran berusaha menyela suara yang tersedu sedan. Alisnya impresif, eskpresinya diantara simpatik dan sarkas. Khas.
“Pemakaman, Tuan! Ini adalah pemakaman bagi putri kami!” seru yang pertama.
“Pemakaman, Tuan! Istirahat yang kekal bagi belahan jiwa kami!” seru yang kedua.
“Pemakaman, Tuan! Putri Salju tertidur dalam kematian!”
Pangeran itu mendekat, topinya diturunkan tanda berbela sungkawa. Jikalau benar memang ini adalah upacara pemakamannya, maka ini terlalu berlebihan, ia membatin. Gadis yang ada di dalam gelas kaca, cantik. Sangat cantik. Dan kematian bukan melunturkan kecantikannya malah membuatnya makin menjadi-jadi.
Sang Pangeran memutari peti kaca itu. Pandangannya terpancang pada bagaimana tubuh ringkih tersebut dilingkupi selubung tipis mati yang tampak seperti tidur. Rasa-rasanya ia bisa mendengar suara gadis ini bernapas. Rasa-rasanya ia bisa mendengar degup jantungnya―atau itu malah degup jantungnya sendiri? Entahlah. Oh, salahkan tubuhnya―desir aneh pria yang seketika menemukan belahan jiwanya diantara keadaan miris ini.
Ia gila, kau tahu. Gila.
Jatuh cinta pada mayat seorang gadis. Sinting.
Jemarinya mengelus kulit seputih salju milik gadis itu, merapikan anak rambut sehitam eboni dan terus turun menyentuh bibir ranum yang terbaring kaku. Putri Salju, begitukah gadis ini dipanggil? Tidak buruk. Malahan sangat pas, ia membatin.
“Maaf, Nona. Aku turut bersimpati,” ia menggumam, tatapannya lembut. Hilang nada sinisnya, meski bagaimanapun terdengar begitu khas. Tubuhnya condong ke depan, mengecup kening sebagai tanda perpisahan terakhir di negri tersebut. Dan ia tahu seharusnya hal itu berhenti di sana. Tapi Sang Pangeran bergeming pada posisinya. Mata hijau cemerlang memandang pelupuk mata kemerahan Putri Salju.
Sang Pangeran mencium bibir ranum sewarna darah gadis tersebut.
Lembut dan hangat.
Basah.
“Setidaknya sekali sebelum aku tidak lagi bia melihatmu lagi,” ia membisik.
Sang Pangeran menarik tubuhnya. Pandangannya masih terpancang pada sosok gadis itu sebelum membalikkan tubuh perlahan. Yang ada di dalam dadanya berdentum-dentum keras dan statis. Nyeri. Gejala kronis yang Cuma dipahami oleh mereka yang pernah jatuh cinta dan mati harapan dicekik kenyataan.
“Apakah kalian berkenan memberikan peti mati beserta tubuh gadis ini padaku?” Ia bangkit berdiri, tahu pikirannya gila, tapi tetap meminta.
Tujuh pasang mata memandang bingung, tujuh pasang mata kemudian membelalak lebar begitu sentuhan di pergelangan tangannya membuat Sang Pangeran kembali menatap peti mati.
Gadis itu terbangun, tangannya dingin.
Hijau cemerlang bersirobok dengan manik kecubung.
“…siapa?”
Sang Pangeran yang mulanya kaget kemudian tersenyum. Menekuk lututnya, lelaki rupawan itu menarik tangan Putri Salju. Matanya tajam menatap dalam-dalam. Ia tertawa geli, embusan hangat napasnya menggelitik Putri Salju. Wajah gadis itu memerah padam.
“Seorang pangeran negeri tetangga. Yang tersesat. Yang dipimpin oleh raungan tujuh kurcaci untuk cepat sampai dan bertemu denganmu―kau yang terbaring di sini dalam keadaan mati,”―suara tujuh kurcaci kedengaran mengumpat, senang, berbahagia sekaligus kesal dalam waktu yang sama, sementara Sang Pangeran masih mencium punggung tangan Putri Salju.
Gadis itu menarik tangannya, kikuk.
“Jadi boleh aku bertanya sesuatu, hmm?” ia menggumam, mencondongkan wajah. Senyumnya lebar. “Kenapa kau… sekarang kembali setelah mati?”
Wajah Putri Salju merona, mulutnya kelu.
“Tidak mau menjawab?” Alis Sang Pangeran naik, lelaki itu sigap menarik si gadis dalam pelukannya. Putri Salju memekik pelan―tangannya mencengkram pundak Sang Pangeran cepat. “Nanti kuturunkan. Setelah kau sampai di rumahku dan kita mendapatkan upacara yang pantas sebagai peresmian pernikahan.”
***
Beritanya menyebar dengan cepat seolah terbawa angin. Negri sebrang sudah memiliki Raja baru juga Ratu yang baru. Kisah yang ada dibalik pertemuan mereka menjadi misteri, inspirasi bagi banyak musisi kerajaan dan sampai juga ke telinga ibu tiri Putri Salju. Desas-desus mengatakan Ratu yang baru cantik, cerminnya juga mengatakan hal yang sama. Maka tambah geramlah si wanita jahat, amarah meledak-ledak dan ia mengutuk semesta tanpa mengetahui bahwa Ratu yang baru adalah anak tirinya.
Ratu jahat tiba di kerjaan tersebut. Perayaan besar-besaran masih berlangsung, dengan pakaian terbagusnya ia melenggang. Wanita itu mempersiapkan banyak hadiah bagus-bagus lantas mendengar sendiri bahwa Raja yang baru di negeri itu terkesan, bertambah besar kepalalah dia.
“Ada hadiah bagus,” kata Raja yang baru. “Yang harus Yang Mulia pakai sebagai ucapan rasa terima kasihku dan isteriku.”
Lantas Ratu yang jahat itu memakai hadiah yang diberikan oleh Raja yang baru―sepasang sepatu besi yang sebelumnya sudah dipanasi diatas bara api. Kakinya langsung melepuh kemudian, ia menjerit kesakitan. Kakinya berjingkat-jingkat kemudian, berusaha menghindari panas yang melelehkan kukunya sembari memohon ampunan. Ya, karena akhirnya ia tahu siapa Ratu yang baru. Ia adalah Putri Salju dan semesta menghukumnya atas segala tindakan terhadap gadis tersebut―dengan berdansa sampai mati.
Komentar
Posting Komentar