Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2012

Biasa Saja

“Mas…” “Hmm?” “Kopinya..” “Hmm..” “Mas…” “Hmm?” “Baca apa sih?” “….” “Serius banget deh, kayak lagi upacara.” “…” “Mas…” “…ya?” “Kok diem aja?” “…” “Masih baca?” “Iya.” “Mas…” “Kenapa?” “Boleh nanya?” “Dari tadi bukan nanya?” “Kok jutek?” “Siapa yang jutek?” “Lah, kamu loh mas…” “….” “Mas…” “….” “…serius loh, aku mau nanya.” “….” “Haaahhh…” “Mas…” “….” “Kok kita gak pernah bisa santai, ya?” “……” “Mas pernah mikir kenapa, enggak?” “Karena kamu gak bisa biasa aja.” “Begitu ya?” “Iya.” “Oh, iya ya… Mas dulu pernah bilang begitu juga. Biasa aja ya?” “Iya.” “Biasa itu, yang gimana sih, Mas?”  “…” “Biasanya kita itu yang gimana, Mas?” “…” “…” “Hhhhh…” “Loh? Mas? Mas mau kemana?” “Tidur. Capek.” “Mas, kok kamu begitu sih? Mas! Mas!!” ____ 2012 November, 15. Sembari setengah ngantuk, kaki cena...

Tentang Asap

Rama tidak sedang berteori ketika ia menghabiskan kopi hitamnya yang pertama di hari minggu sore berlangit lembayung itu. Kalau boleh saya bilang ia cuma melempar sejumput sekam ke dalam bakaran panas api. Ia melawan kodrat, menjadi sesuatu yang bukan dirinya—-sesuatu yang semestinya saya tertawakan sedari awal ia menyeret tangan saya dan mendudukkan saya di sebuah kursi taman kayu menghadap ke bayangan pekat pohon fir yang indah. Tapi katanya ini cuma penyekadaran dari sebuah keadaan. Bahwa ingatkan lagi pada dunia diluar sana dengan menuliskan ini; Ia bukanlah sekadar. Tidak akan pernah menjadi sebuah sekadar. “Sekadar apa?” Saya bertanya. “Sekadar menjadi diri sendiri. Sekadar saya yang selalu menari diantara taman bunga melati, diantara serbuk bunga mewangi. Sekadar saya yang menggunting kelopekan borok bernanah bumi dan menghargainya dengan segenap hati sementara kakak bilang itu adalah batu kali,” demikian ia menjawab. Saya terpekur memandangi binar-binar yang masih terl...