Langsung ke konten utama

Tentang Asap


Rama tidak sedang berteori ketika ia menghabiskan kopi hitamnya yang pertama di hari minggu sore berlangit lembayung itu. Kalau boleh saya bilang ia cuma melempar sejumput sekam ke dalam bakaran panas api. Ia melawan kodrat, menjadi sesuatu yang bukan dirinya—-sesuatu yang semestinya saya tertawakan sedari awal ia menyeret tangan saya dan mendudukkan saya di sebuah kursi taman kayu menghadap ke bayangan pekat pohon fir yang indah.

Tapi katanya ini cuma penyekadaran dari sebuah keadaan. Bahwa ingatkan lagi pada dunia diluar sana dengan menuliskan ini; Ia bukanlah sekadar. Tidak akan pernah menjadi sebuah sekadar.

“Sekadar apa?” Saya bertanya.

“Sekadar menjadi diri sendiri. Sekadar saya yang selalu menari diantara taman bunga melati, diantara serbuk bunga mewangi. Sekadar saya yang menggunting kelopekan borok bernanah bumi dan menghargainya dengan segenap hati sementara kakak bilang itu adalah batu kali,” demikian ia menjawab.

Saya terpekur memandangi binar-binar yang masih terlihat di mata Rama. Tidak nampak sedemikian jelasnya seperti ketika lelaki yang kesehariannya berperangai seperti bocah lugu tersebut berperilaku, tapi binar-binar itu masih tetap sama. Pancarannya kuat, mengesankan. Merasuknya melebihi kedalaman sukma.

“Coba bilang pada saya apa alasannya?”

“Alasan apa ya kak?”

“Penyekadaran kamu.”

Humph…

“Memangnya semua itu harus ada alasannya, ya kak?”

“Loh? Bukannya semua asap itu berasal dari api?”

“Tapi kan tidak semua api menyebabkan asap hitam,” ujarnya kalem, senyuman yang muncul di wajahnya adalah yang pertama kali ini saya lihat. Terkelim begitu rupa pada mimik tenang, semakin cantik ditambah dengan leret-leret samar antusiasme di mata nanarnya. Ia menyeruput kopi hitamnya lagi.

“Alasan memangnya asap?”

“Tidak, sih.”

“Nah…”

Rama menggelengkan kepalanya, tergelak. Tawanya adalah untaian nada-nada paling riang piano hitam pengiring musik sekolah minggu. Renyah, ringan, kalis. Jemarinya yang kurus menarik tangan saya, menepuk-nepuki punggung tangannya seolah itu adalah sebuah bantalan jarum beledu empuk—-mainan kesayangan. “Tapi beneran deh, tidak ada alasan. Cuma penyekadaran. Kalau sebuah penyekadaran saja sudah dibilang asap… susah kak. Asap itu kan ada untuk hilang. Hembuskan sekali, semakin lama juga bakalan semakin memudar. Hilang tidak punya jejak. Penyekadaran berbeda. Tetap ada biar tidak terlihat, sumber kelangsungan dari sebuah api—-dari sebuah aksi.”

“Tunggu, tunggu…” Saya menghalau kata-kata berentetan tersebut dengan segaris gerakan tangan. Mata saya mengerjap, pun menghalau sekian memori putar balik ke berbagai topik yang lewat sebelum akhirnya kami bermuara pada soal asap-api ini. Kami bicara mengenai rumah, mengenai belahan hati, mengenai kecintaan masing-masing terhadap ranting dan daun…

“Maksudnya apa sih?”

Kenapa tiba-tiba jadi membicarakan hal seperti ini?

“Penyekadaran—-”

Ah, iya… Penyekadaran…

Rama menggenggam dua tangan saya dan menurunkanya pelan. Jantung saya bergemuruh. “—-kakak saya tersayang, bukanlah alasan,” kembali ia menegaskan. Panas tangannya seolah menjalar dari tangan sampai ke pipi saya, hampir seperti menggerogoti saya. “Kepingin saja begitu, maka saya lakukan.”

“Supaya apa kamu lakukan itu, sih?”

Di sini saya menarik tangan saya dan menghalau panas itu membuat jantung saya bergemuruh. Pada udara sore saya mencibir. Kenyamanan anyaman yang saya jalin rapih-rapih dengan usus dua belas jari dan ketekunan setiap hari mengurai perlahan. Pelan yang terlalu pasti.

“Habis semua harus selalu dibawa susah sama kakak.”

“Kok?”

Rama terdiam, senyumnya beku di wajah—-sepertinya tengah bergulat dengan diri sendiri untuk memutuskan sesuatu. Secangkir kopi pahit setengah isi tergeletak begitu saja di meja. Kalau saja saya mema. Secangkir kopi pahit setengah isi tergeletak begitu saja di meja. Kalau saja saya memang terlalu beromantis pada saat tersebut, mungkin uap asap memutih yang merangkak naik menuju kehilangan di atasnya dan senyum rama bisa berarti sebuah ironi. Tapi saya menunggu. Berharap, barangkali, bahwa jawaban Rama adalah cuma semacam letupan penghiburan kecil yang manis.

Tanpa sesuatu, ya, begitu.  

______
2012 November, 06.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psalter of Undone Girls

Book I: Of Hunger Psalm I. The Starvation Game She starved at the table of touch. Every smile was rationed. She learned to chew absence, to swallow glances like crumbs. The hunger taught her that even neglect has calories. Psalm II. The Mouth as Wound The mouth opens for speech, but bleeds instead. Desire leaks, iron-tasting. A kiss is just a suture failing. What is voiced is not heard, what is heard is not held. Psalm III. Banquet of Absence We sit around a feast of plates. The cutlery gleams with nothing. We praise the spread of air, raise a toast to lack. Our bellies groan like choirs, our hollow becomes our hymn. Psalm IV. The Body as Empty House Her ribs are doorframes, her lungs the dusty halls. Every step echoes. She lies in bed with drafts for companions, the wallpaper peeling like memory. Hunger is not only of the stomach, but of the rooms no one enters. Psalm V. Communion of Ash They offered her bread that dissolved into soot. They poured her wine that tasted of vinegar and s...

Aku, Cthulhu

Neil Gaiman, 1986, https://www.neilgaiman.com/Cool_Stuff/Short_Stories/I_Cthulhu Ilustrasi Cthulhu oleh Disse86 dari DeviantArt I.   Cthulhu, begitu mereka memanggilku. Cthulhu yang Agung.    Tidak ada seorangpun yang bisa mengeja namaku dengan benar.   Apa kau menulis semua ini? Kata per kata?   Bagus. Harus kumulai dari mana—mm?   Ya sudah, kalau begitu. Dari awal. Tulis apa yang kubilang, Whateley.   Aku dilahirkan ribuan tahun yang lalu, dalam kabut gelap Khaa’yngnaiih (tidak, tentu saja aku tidak tahu bagaimana mengejanya. Tulis saja sesuai bunyinya) dari orang tua mimpi buruk tak bernama, di bawah bulan yang bungkuk. Bukan bulan dari planet ini, tentu saja, aku lahir di bawah bulan sungguhan. Di malam-malam tertentu, bulan itu memenuhi lebih dari separuh langit dan saat bulan tersebut naik, kau bisa menyaksikan darah merah jatuh dan menetesi wajahnya yang bengkak, menodai wajahnya merah, sampai pada titik ketinggian di mana cahayanya menyirami r...

Ragu Menyengat

Kamu tahu, apa yang angin hadirkan padaku malam itu? Ragi, ragu, keringat udara musim penghujan berbau menyengat. Sedikit manis lalu asam membaur di permukaan lidah. Rontok segala yang ada di dada meski jarak tidak seberapa. Ujung-ujungnya aku terengah menjadi gerah dan lelah Gelitik hari itupun runut selantunan kecapi pada telinga ia berbuah rasa hangat yang hanya bertalu-talu di dada bukan tipikal rindu yang mudah dinikmati Kilasan pertemuan, tawa yang menjemukan, cinta yang mengharukan, Tidak pernah sederhana malah menuai petaka Lalu setelah ini apa? "Mari kita menyerah dan tanggalkan  harapan masing-masing sebelum hilang selamanya." 25 Agustus 2013.