Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2013

Adjektiva

Bicara soal sederhana, juga soal cuaca adalah perkara yang lumrah. Biasanya, berawal dari suatu pagi, di mana kami biasa beranjak dari tempat tidur dengan membawa kantuk yang memberatkan langkah. Rasa malas jadi unsur utama kami memilih untuk duduk-duduk saja di warung kopi depan gang. Sementara itu rasa bosan menjadi sebuah alasan pembenaran untuk berbatang-batang rokok yang kami bakar. Padahal kami sudah tahu sejak dari dulu, adjektiva tidak mungkin dimaknai dengan satu standarisasi. Beda, kami pikir. Perbedaan yang seterusnya membuat kami merasa humor perlu untuk diselipkan dalam beberapa kesempatan supaya pada akhir hari masing-masing terhanyut dalam kepala sendiri. Beda, seterusnya berbeda. Tapi kenapa argumen tentang adjektiva ini tidak putus dan berhenti? Selalu ada yang baru. Selalu ada hal usang yang berusaha di perbaharui. Ah… sekali lagi segurat senyuman muncul. Sialan.

Jumat Agung

Koor gereja berkumandang hampir menjelang pukul tiga sore.             Jumat Agung. Langit mendung, sangat berangin. Gemerisik yang terdengar dari kanan kiri gereja lebih mirip dengan suara kerumunan yang bersungut-sungut; lebih bising daripada lautan jemaat berpakaian serba hitam yang tengah khusyuk menghaturkan sepenggalan kalimat mengiba. Beberapa ada yang sibuk mengelap kucuran air mata dari pelupuk mata mereka masing-masing, sebagian ditelan sunyi yang kelewat pekat. Ada yang sedikit berdengik ketika kesadaran mereka semakin menyatu dengan suara nyanyian koor gereja hampir seperti terkena asma. Sedih dan sedih. Dari berkabung menjadi duka panjang yang melengking bernada. Meski demikian, ada juga yang tertawa.  Itu, di sana, di sebelah patung Bunda Maria yang terbuat dari pualam dihiasi terlalu banyak lilin permohonan. Seorang kakek tua dengan rambut kelabu kusut tidak bisa menghentikan dirinya sendiri dari serangan ...