Koor
gereja berkumandang hampir menjelang pukul tiga sore.
Jumat Agung. Langit mendung, sangat
berangin. Gemerisik yang terdengar dari kanan kiri gereja lebih mirip dengan
suara kerumunan yang bersungut-sungut; lebih bising daripada lautan jemaat berpakaian
serba hitam yang tengah khusyuk menghaturkan sepenggalan kalimat mengiba.
Beberapa ada yang sibuk mengelap kucuran air mata dari pelupuk mata mereka
masing-masing, sebagian ditelan sunyi yang kelewat pekat. Ada yang sedikit
berdengik ketika kesadaran mereka semakin menyatu dengan suara nyanyian koor
gereja hampir seperti terkena asma. Sedih dan sedih. Dari berkabung menjadi
duka panjang yang melengking bernada.
Meski
demikian, ada juga yang tertawa.
Itu, di sana, di sebelah patung Bunda Maria yang
terbuat dari pualam dihiasi terlalu banyak lilin permohonan. Seorang kakek tua
dengan rambut kelabu kusut tidak bisa menghentikan dirinya sendiri dari
serangan tawa yang datang mendadak. Di sekitaran mengabaikan perilakunya, meski
mengernyitkan kening masing-masing sewaktu mata mereka tanpa sengaja mendapati
getaran pada bahu si kakek.
Biasa, batin mereka. Yang ini
diyakini mengidap penyakit langka; kesulitan mengekspresikan diri sedari kecil
akibat nyaris seumur hidupnya menatap nyalang pada tembok gila di rumah
bintang—tempat penampungan bagi mereka yang tidak memiliki sanak saudara. Di
berkatilah dia karena ia selalu dengan tanpa daya tertawa disaat seharusnya
menangis dan menghilang kesadarannya ke dunia antah berantah ketika kegembiraan
paling hebat berhasil membuat dadanya membuncah. Tuhan tahu, Tuhan mengerti. Di
berikanlah segala kemudahan untuk si tua yang syaraf-syarafnya berkhianat itu.
Lalu lonceng berdentang tiga kali.
Seluruh jemaat meledak dalam kesedihan paling sunyi. Misteri Illahi dirayakan,
dua ribu tahun sebelumnya tepat pada jam yang sama, Yesus Kristus wafat di kayu
salib. Seterusnya turun hujan. Deras sekali. Seperti menangisi bumi yang
terlalu basi hampir mati.
***
“Saya
pernah bertanya apakah saya menaruh iman pada klenik lebih daripada kepercayaan
saya pada Tuhan saya?”
Masih turun hujan.
Deras sekali.
Seperti menangisi bumi yang terlalu basi mungkin
mati.
“Lalu
apa kamu menemukan jawabannya?”
“Menurut
kamu bagaimana?”
“Jelas
tidak. Kamu masih percaya yang baik datangnya dari kebiasaan mengetuk pintu
tiga kali, memutar kenop tujuh kali melawan arah jarum jam. Bukannya dari
Tuhan.”
“Yah….”
“Imanmu
mati.”
“Tidak
jugalah. Saya masih ke gereja. “
“Kalau
saya gak ngajak juga memangnya kamu mau susah payah banting setir ke sini?”
“Ya
mau.”
“Lalu
menyisihkan waktumu berdoa novena?”
“Tidak
terlalu banyak keperluan mendesak untuk mengadu pada Bunda Maria.”
“Doamu
pamrih. Bukan secara cuma-cuma, apalagi cinta.”
“Iya,
saya tahu.”
“Ya
sudah. Terus apa faedahnya melontarkan pertanyaan itu?”
“Ya
saya tidak mengharapkan jawaban apapun.”
“Tapi
bertanya?”
“Sifatnya
retoris.”
“Baiklah.”
“Baiklah.”
***
Pak
Tua Ketawa, panggilan saya.
Dipanggil
begitu karena tubuh saya makin hari makin menggila. Padahal rambut tinggal
sisa-sisa saja. Lemas dan berminyak! Letoy dan bau tanah. Busuk. Busuk. Busuk! Hidup
saya di Rumah Bintang. Sendirian, tanpa sanak saudara. Dari dulu di vonis
menderita gangguan syaraf. Penyakit binal bikin kacau, hidup merana!
Segala
dari saya di salah artikan. Saat ingin sekali menangis, saya tertawa. Saat
ingin sekali tertawa, kening saya berkerut, mata saya menolak menyipit. Orang
bilang saya seperti kebelet berak. Kelihatan marah, kelihatan ingin makan
jabang bayi. Saya diolok sudah dari kecil. Jarang ada yang mau bicara dengan
saya hingga saya lupa bagaimana caranya mengucapkan lafal nama saya sendiri.
Maka sebisa mungkin saya berpura-pura. Jadi yang hidup tanpa panca indra
sajalah sekalian. Tidak dengar lucu-lucu, tidak dengar omongan jahat di
belakang. Biar marah, sedih, gembira, kesal, disamaratakan jadi ketiadaan
daripada bikin orang sekeliling terganggu karena saya.
Anehnya
gereja tidak pernah membuat saya bisa menjadi ketiadaan. Semuanya menjadi
bercampur adukan bahkan ketika saya Cuma mendengar suara lonceng berdentang.
Cuma bunyi tang tang tang, saya meraung pedih. Bibir saya gigit keras-keras
supaya tawa sedih saya tidak mengganggu orang banyak. Bahu saya bergetar.
Keterlaluan.
Cuma
di sini saya menyerah menjadi ketiadaan. Sudah sekian kali mencoba, sekian kali
gagal. Khotbah pastur terkadang membuat saya tidak terkendali. Marah lalu
sedih. Lalu diam, kebanyakan hampa. Menangis karena tidak benar-benar mengerti
bagaimana saya bisa tertawa sewaktu ada yang membuat perut saya tergelitik. Dan
salib di tengah ruangan itu menjadi benda yang paling saya dambakan.
Seorang
pemuda tergelantung di sana. Telapak tangannya berdarah. Kepalanya berdarah.
Saya ngeri sekaligus iri. Orang mati di tengah ruangan. Mati. Tapi seperti
dianggap penting. Terlalu penting. Disembah, dipuji. Padahal mati. Sedang saya,
syaraf susah di ambil kendali, ditepis dari pembicaraan. Bukan sekali!
Mungkin
dia dewa. Ingat dulu waktu kecil ada yang pernah bilang dewa-dewa dari dulu di
sembah oleh orang banyak. Ah, dewa. Dewa. Dewa mati, di tempatkan di paling
tengah ruangan besar gereja. Bikin iri, dengki, lebih banyak sedih yang dalam
sekali sampai-sampai bahu saya bergetar, perut saya tergelitik. Tawa saya
keluar, butuh gigit bibir!
Dewa….
Dewa… kasihan sekali.
Yang
di tengah sana kenapa malah terus diperingati. Tiap tahun saya kemari,
kebanyakan dari mereka yang datang, semacam orang berbaju hitam menangis terus
tak terkendali. Agnus Dei. Agnus Dei!
Ah…
dewa… dewa….
Saya
sedih…. Maaf dewa. Tawa ini tetap tidak terkendali.
***
“Tapi
bagusnya kamu menyambut ajakanku ke gereja. Tri hari suci tidak berlangsung
setiap hari.”
“Iya.
Dua puluh tahun hidup; ini kali ketiga saya datang di pekan suci. Makasih.”
“Sama-sama.”
“….”
“Lalu?”
“Lalu
apa?”
“Masih
terus memikirkan pertanyaanmu yang, eh, maaf, retoris tadi?”
“Masih.”
“Dan
anggapanmu sendiri?”
“Saya
murtad. Mungkin karena menaruh harapan terlalu besar pada klenik.”
“Mungkin
Cuma sedikit tersesat?”
“Entahlah.
Yang pasti menimbulkan banyak rasa nelangsa berlebihan. Sekarang ini saya sedih
sekali.”
“Karena?”
“Merasa
berdosa sekali. Bodoh sekali. Ingin memutar kenop pintu sekali.”
“Sembari
berharap langsung bisa mengintip pintu surga?”
“Tidak
juga.”
“…..”
“…..yah
sedikit sih.”
“….”
“Jangan
mesem. Saya makin merasa berdosa. Ingat sebelum ini memutar kenop pintu tujuh
kali itu buat apa.”
“Buat
apa?”
“Dulu
sekali pernah ada salesman mengetuk pintu rumah saya.”
“Lalu?”
“Dibukakan
pintunya oleh istri saya. Anak perempuan saya menyusul keluar pintu, sembunyi
dibalik rok panjang istri saya. Dari gerakannya dia sepertinya penasaran sekali
dengan siapa itu yang mengetuk pintu rumah.”
“Dipersilahkan
masuk?”
“Iya.
Sebelumnya si tamu bilang dia dari agen penjualan jasa.”
“Asuransi?”
“Bukan.
Jasa pengabulan permintaan.”
“Waduh!”
“Saya
sedang baca koran di ruang tengah waktu itu. Istri saya kedengaran bingung.
Anak saya berisik sekali. ‘Kayak jin dari cerita Aladdin, paaa!’ Saya
penasaran, ikut keluar. Tanya sama istri saya, Cuma di jawab pakai raut muka
melongo. Yang jawab malah si salesman. Katanya, dari agen penjualan jasa
pengabulan permintaan. PT Perkara Mudah. Dia sudah duduk saja di ruang tamu.
Senyum.”
“Mencurigakan!”
“Mengherankan,
Mbak! Dia kasih selebaran berisi paket. Perkenalkan diri, menjabarkan paket di
selebaran. Setengah jam saya sama istri saya melongo pandang-pandangan. Seperti
semacam lelucon tolol. Akhirnya istri saya tidak tahan, dia ketawa. Ngejek. Saya
juga ikutan istri saya. Kedengarannya konyol. Tapi salesmannya kelihatan tidak
senang.”
“Lantas?”
“Lantas
dia nantang. Katanya, kalau tidak percaya ya silahkan di coba. Tapi catatannya
berarti saya sudah pakai jasa dia. Saya harus bayar.”
“Permintaan
apa yang kamu bilang ke dia?”
“Hidup
abadi.”
“Sumpah?!”
“Sumpah.
Saya pikir guyonan. Ya sudah. Yang pertama terlintas itu yang keluar.”
“……”
“Tahu-tahu
ada cahaya putih. Saya hilang sadar. Tahu-tahu saya buka mata, saya terkapar di
tempat tidur. Istri saya bilang saya kolaps waktu merokok di depan rumah.”
“Alah!
Ngimpi toh!”
“Saya
juga semula mikir begitu. Ngimpi di siang bolong.”
“Taik!”
“Besoknya
saya sekeluarga pergi ke gereja. Jumat Agung. Kecelakaan. Istri dan anak saya
meninggal.”
“……”
“Saya
merasa berdosa. Dosa. Dosa. Dosa. Berdosa. Hampir bunuh diri. Depresi. Cerita
saya dianggap taik, kayak yang baruan kamu omongin. Asumsi orang, saya kena
halusinasi. Kerabat banyak yang datang menghibur. Bawa ini itu. Kasih ayat yang
begini dan begitu. Saya marah sekali. Akhirnya tidak mau dengar siapapun lagi.
“Lalu
salah satu kerabat yang paling jauh datang; dia percaya klenik. Dia bilang
begini; coba kamu ketuk pintu tiga kali, putar kenop tujuh kali. Lawan jarum
jam, jangan sampai tidak lakukan setiap hari. Lalu jangan lupa bilang permisi.
Suatu waktu bisa jadi Tuhan memberi izin untuk menengok anak istri.”
“Kamu
gila!”
“Saya
gila, Mbak? Saya?!”
“Sudah!
Sudah! Kamu bakal ikut saya ke tempat teman saya. Biar dibereskan pikiran
acak-kadutmu! Di kuliti semua setan yang bercokol di kepalamu!”
“Tolonglah,
jangan histeris begini! Kejadiannya sudah lama! Biasa saja!”
“Mari,
Mas!!!”
Keduanya menerobos hujan yang jatuh
keras seperti hujaman jutaan duri.
Deras sekali.
Hujan berlaku seolah menangisi
Tuhan-nya yang pernah mati,
dua ribu tahun yang lalu sampai
saat ini.
Komentar
Posting Komentar