Gadis itu datang lagi berkunjung, padahal misa pagi di hari Selasa minggu pertama bulan Mei belum juga dimulai. Ia selalu datang dengan pakaian seragam sekolah yang nyaris lengkap. Kemeja putih dengan emblem pendidikan yang telah menguning, rok biru keabu-abuan sepanjang lutut kaki lemas, kaus kaki yang warnanya hampir selalu tidak bisa ditebak dan sepatu pantofel berwarna coklat. Ia tidak terlihat memakai ikat pinggang seperti teman-teman sekolahnya. Ikat pinggang miliknya sudah lama rusak dan ia tidak memiliki uang untuk membeli yang baru. Gadis itu hampir selalu melangkahkan kakinya dengan terseok, duduk di barisan kursi misa paling belakang dan memandang salib besar di tengah gereja. Ia tidak berlutut atau berdoa seperti kebanyakan orang tua yang bangun kelewat pagi dan bersusah payah merapalkan doa supaya mereka hidup lebih lama lagi. Ia hanya duduk, menerawang jauh. Pandangannya tertutup kabut tak kasat mata, sedih, seolah dunianya telah lama runtuh. Tidak ada satupun doa y...
stories, words, and everything worth to be told