Gadis itu datang lagi berkunjung, padahal misa pagi di hari Selasa minggu pertama bulan Mei belum juga dimulai.
Ia selalu datang dengan pakaian seragam sekolah yang nyaris lengkap. Kemeja putih dengan emblem pendidikan yang telah menguning, rok biru keabu-abuan sepanjang lutut kaki lemas, kaus kaki yang warnanya hampir selalu tidak bisa ditebak dan sepatu pantofel berwarna coklat. Ia tidak terlihat memakai ikat pinggang seperti teman-teman sekolahnya. Ikat pinggang miliknya sudah lama rusak dan ia tidak memiliki uang untuk membeli yang baru.
Gadis itu hampir selalu melangkahkan kakinya dengan terseok, duduk di barisan kursi misa paling belakang dan memandang salib besar di tengah gereja. Ia tidak berlutut atau berdoa seperti kebanyakan orang tua yang bangun kelewat pagi dan bersusah payah merapalkan doa supaya mereka hidup lebih lama lagi. Ia hanya duduk, menerawang jauh. Pandangannya tertutup kabut tak kasat mata, sedih, seolah dunianya telah lama runtuh.
Tidak ada satupun doa yang dapat menghiburnya.
Jadi buat apa ia datang ke rumah Tuhan?
Kuharap aku tahu alasannya. Aku hanya bisa berandai-andai mengenai beragam alasan yang mendorong gadis itu datang setiap pagi-pagi buta dari sebuah gang kecil kumuh dekat gereja sehingga aku dapat menceritakan detailnya padamu. Tapi tidak, aku tidak tahu, dan aku tidak berniat mengganggunya dengan berbagai pertanyaan bersifat personal.
Kurasa, siapapun mereka yang mulai akrab melihat gadis itu muncul sebelum misa pagi setiap hari akan sependapat denganku: gadis itu nampaknya hanya membutuhkan waktu sendiri berbincang dengan Tuhan. Sendirian, tanpa terusik urusan remeh seperti ucapan selamat pagi.
Tapi aku sadar, bukan hal itu yang ingin kau dengar. Sudah pasti jika ada seorang tokoh yang muncul dalam sebuah tulisan, para pembaca membutuhkan alasan dan cerita mengapa sampai keadaannya seperti demikian.
Maka baiklah, akan kuberitahu kira-kira mengapa ia pergi ke sini setiap hari, sesuai dengan cerita yang tumbuh dalam benakku mengenai gadis itu:
Sebut saja namanya Kembang. Sebab ia memakai seragam sekolah menengah atas, maka kira-kira usianya tujuh belas tahun.
Lahir dari pasangan yang tidak direstui baik secara hukum agama atau sipil, Kembang tumbuh dengan angan-angan memiliki rumah beralamat lengkap agar paket atau selembar surat dapat terkirim tanpa kekurangan sesuatu sedikitpun.
Rumah Kembang ini terletak di pinggiran kota dan tak jauh dari jalan tol. Tanpa kotak pos, tanpa alamat pasti, Kembang khawatir ia tidak akan mendapatkan teman pena untuk bertukar cerita ketika ia sudah lebih besar sedikit dan mengetahui cara baca tulis.
Selama itu, Kembang merasa kesepian. Rumahnya berdiri sendiri di tanah luas, tanpa tetangga yang memiliki anak seusianya untuk diajak bermain rumah-rumahan, membuat masa kecil Kembang hanya sebatas duduk di depan televisi kecil; menghapal setiap acara kartun yang tayang setiap harinya.
Sebab itu pula, Kembang selalu senang jika ia diharuskan pergi ke sekolah. Setiap pagi, jam lima subuh, Kembang bangun dengan mata bercahaya dan perandaian akan melakukan petualangan apa hari itu bersama teman baiknya, Rosa. Bisa mencari ulat kecil di daun tertutup sekolahnya, bisa mengadakan uji nyali mengunjungi toilet kotor dan kumuh di pojokan sekolahnya.
Kembang, si anak baik, selalu memakai seragam sekolah dengan bangga dan ingin cepat-cepat pergi ke sekolahnya di kota. Datang lebih awalpun tak apa, ia senang menunggu. Ia senang menjelajahi sekolahnya yang kosong dan mematri semua gambaran itu dalam kepalanya.
Namun sama seperti bentuk kebahagiaan lainnya, kebahagiaan kecil Kembang itu tidak tercipta untuk selamanya.
Prahara datang ketika Ayah Kembang jatuh sakit. Kalau sebelumnya Kembang hanya perlu menunggu seminggu atau dua minggu dari waktu kehadiran ayahnya di rumah, kali itu Kembang menanti hingga satu bulan penuh di depan rumahnya.
Kembang belum lagi mengenal kata merana waktu itu, tapi dadanya berat dan napasnya terputus-putus saat ia bertanya kapan ayahnya akan datang untuk membawanya pergi ke mall besar di kota kepada ibunya.
“Papamu sakit. Berdoa saja semoga papamu sembuh,” jawab ibu Kembang.
Oleh karena itulah Kembang berdoa sebisanya. Dengan rapalan terpatah-patah, doa terdengar lebih seperti mantera. Ia merunutkan semuanya sesuai dengan aturan guru agama; supaya permintaanmu didengar, mulailah dengan memanjatkan syukur atas apapun kepemilikanmu, mendoakan keluarga serta teman terdekat, serta menutupnya dengan harapan-harapan akan kehidupan lebih baik.
Sayangnya, doa Kembang tidak didengar.
Ayah si Kembang meninggal. Dokter bilang akibat kanker paru-paru tapi Kembang lebih tahu. Ayahnya hanya terlalu rindu dengan sosok kakak si Kembang yang meninggal lebih dulu. Mendadak, semua kesenangannya direnggut dan ia pergi menuju kota besar yang tidak pernah sekalipun terlintas dalam benaknya akan ia tuju. Kembang belum lagi mengenal definisi keadilan dan dalam hatinya ia merasa berat dan sekarat.
Tahun-tahun berlalu begitu cepat. Si Kembang kecil beranjak dewasa. Kaki dan tangannya memanjang, pinggangnya mekar, dan susunya tumbuh. Seiring dengan kata-kata dan pemahaman mampir bercokol dalam kepalanya, barulah Kembang merasa Tuhan tidak pernah ada untuknya. Kembang mulai meninggalkan doa-doanya dan pergi ke tempat yang lebih manusiawi untuk menumpahkan segala kegelisahan masa remajanya. Kembang menggantikan kehadiran Tuhan dengan buku-buku cerita, ide-ide abstrak, dan angan-angan fana.
Lewat kesenangannya yang baru, Kembang bermimpi menjadi penulis. Ia berharap dapat menjadi tuhan versinya sendiri. Membangun karakter, menguraikan cerita, menuturkan drama, segala kualitas yang kira-kira sama egoisnya seperti tuhan yang ia kenal. Maka berjam-jam ia habiskan di depan komputer tuanya yang diletakan depan jendela besar menghadap taman; membiarkan cerita bergulir seperti bola salju, dari kecil hingga membentuk longsoran besar kesedihan.
Mungkin karena kesombongan serta kemarahan Kembang yang nampak dalam setiap karyanya itulah, Tuhan kembali mendorongnya ke sebuah jurang yang dalam. Keluarga barunya yang terdiri dari tiga pilar perempuan tua hancur; rumah yang dibangun susah payah oleh ayahnya dijual murah, dan uang peninggalan ayahnya rembes entah ke mana. Kembang harus mengungsi ke tempat yang tidak lebih baik dari pada selokan bersama dua kerabatnya yang telah menua, bermulut jahat dan terlalu lelah dengan urusan dunia.
Di saat itulah, aku merasa Kembang butuh tempat selain buku-buku dan cerita-ceritanya. Kembang butuh kehadiran lebih besar daripada manusia dan masalah. Kembang butuh sosok fiktif yang bisa ia persalahkan dan persoalkan. Mungkin karena itulah, Kembang datang ke gereja dengan langkah terseok-seok dan tampang memelas. Meski telah meninggalkan doa, Kembang memulai sebuah percakapan tak putus dengan Tuhan.
Katanya, “Kau boleh ambil semuanya, Tuhan. Toh semuanya memang milikmu. Potong tanganku, tapi jangan pernah Kau ambil kata-kata dari kepalaku.”
Betapa terpuruknya!
Aku menggelengkan kepalaku, menghilangkan segala pemikiran mengenai gadis malang yang duduk di barisan kursi misa paling belakang. Agaknya kepala ini terlalu banyak diberi asupan drama dan cerita usang hingga berani benar menuturkan, merunutkan, dan meruntuhkan kisah hidup orang.
Kuputuskan untuk beranjak dari tempat dudukku dan kembali ke aktivitas yang mematahkan semangat; memanen cerita dari balik benak para pendoa. Perlahan dan pasti, kulewati setiap orang yang berlutut, berjalan menuju pintu besar di penghujung pandangan.
Si gadis yang duduk di barisan kursi misa paling belakang, masih saja menatap jauh ke salib besar di tengah gereja. Kudengar samar-samar serentetan kalimat meluncur dari mulutnya, “Potong tanganku, tapi jangan pernah… Kau ambil kata-kata dari kepala....ku.”
Darah. Darah menetes. Si gadis jatuh terjerembab di atas keramik gereja itu. Banyak rapalan doa terputus dan rengsak di hadapan Tabernakel.
Ia selalu datang dengan pakaian seragam sekolah yang nyaris lengkap. Kemeja putih dengan emblem pendidikan yang telah menguning, rok biru keabu-abuan sepanjang lutut kaki lemas, kaus kaki yang warnanya hampir selalu tidak bisa ditebak dan sepatu pantofel berwarna coklat. Ia tidak terlihat memakai ikat pinggang seperti teman-teman sekolahnya. Ikat pinggang miliknya sudah lama rusak dan ia tidak memiliki uang untuk membeli yang baru.
Gadis itu hampir selalu melangkahkan kakinya dengan terseok, duduk di barisan kursi misa paling belakang dan memandang salib besar di tengah gereja. Ia tidak berlutut atau berdoa seperti kebanyakan orang tua yang bangun kelewat pagi dan bersusah payah merapalkan doa supaya mereka hidup lebih lama lagi. Ia hanya duduk, menerawang jauh. Pandangannya tertutup kabut tak kasat mata, sedih, seolah dunianya telah lama runtuh.
Tidak ada satupun doa yang dapat menghiburnya.
Jadi buat apa ia datang ke rumah Tuhan?
Kuharap aku tahu alasannya. Aku hanya bisa berandai-andai mengenai beragam alasan yang mendorong gadis itu datang setiap pagi-pagi buta dari sebuah gang kecil kumuh dekat gereja sehingga aku dapat menceritakan detailnya padamu. Tapi tidak, aku tidak tahu, dan aku tidak berniat mengganggunya dengan berbagai pertanyaan bersifat personal.
![]() |
| Illustration by Kalya Risangdaru (@risangdaru) |
Kurasa, siapapun mereka yang mulai akrab melihat gadis itu muncul sebelum misa pagi setiap hari akan sependapat denganku: gadis itu nampaknya hanya membutuhkan waktu sendiri berbincang dengan Tuhan. Sendirian, tanpa terusik urusan remeh seperti ucapan selamat pagi.
Tapi aku sadar, bukan hal itu yang ingin kau dengar. Sudah pasti jika ada seorang tokoh yang muncul dalam sebuah tulisan, para pembaca membutuhkan alasan dan cerita mengapa sampai keadaannya seperti demikian.
Maka baiklah, akan kuberitahu kira-kira mengapa ia pergi ke sini setiap hari, sesuai dengan cerita yang tumbuh dalam benakku mengenai gadis itu:
Sebut saja namanya Kembang. Sebab ia memakai seragam sekolah menengah atas, maka kira-kira usianya tujuh belas tahun.
Lahir dari pasangan yang tidak direstui baik secara hukum agama atau sipil, Kembang tumbuh dengan angan-angan memiliki rumah beralamat lengkap agar paket atau selembar surat dapat terkirim tanpa kekurangan sesuatu sedikitpun.
Rumah Kembang ini terletak di pinggiran kota dan tak jauh dari jalan tol. Tanpa kotak pos, tanpa alamat pasti, Kembang khawatir ia tidak akan mendapatkan teman pena untuk bertukar cerita ketika ia sudah lebih besar sedikit dan mengetahui cara baca tulis.
Selama itu, Kembang merasa kesepian. Rumahnya berdiri sendiri di tanah luas, tanpa tetangga yang memiliki anak seusianya untuk diajak bermain rumah-rumahan, membuat masa kecil Kembang hanya sebatas duduk di depan televisi kecil; menghapal setiap acara kartun yang tayang setiap harinya.
Sebab itu pula, Kembang selalu senang jika ia diharuskan pergi ke sekolah. Setiap pagi, jam lima subuh, Kembang bangun dengan mata bercahaya dan perandaian akan melakukan petualangan apa hari itu bersama teman baiknya, Rosa. Bisa mencari ulat kecil di daun tertutup sekolahnya, bisa mengadakan uji nyali mengunjungi toilet kotor dan kumuh di pojokan sekolahnya.
Kembang, si anak baik, selalu memakai seragam sekolah dengan bangga dan ingin cepat-cepat pergi ke sekolahnya di kota. Datang lebih awalpun tak apa, ia senang menunggu. Ia senang menjelajahi sekolahnya yang kosong dan mematri semua gambaran itu dalam kepalanya.
Namun sama seperti bentuk kebahagiaan lainnya, kebahagiaan kecil Kembang itu tidak tercipta untuk selamanya.
Prahara datang ketika Ayah Kembang jatuh sakit. Kalau sebelumnya Kembang hanya perlu menunggu seminggu atau dua minggu dari waktu kehadiran ayahnya di rumah, kali itu Kembang menanti hingga satu bulan penuh di depan rumahnya.
Kembang belum lagi mengenal kata merana waktu itu, tapi dadanya berat dan napasnya terputus-putus saat ia bertanya kapan ayahnya akan datang untuk membawanya pergi ke mall besar di kota kepada ibunya.
“Papamu sakit. Berdoa saja semoga papamu sembuh,” jawab ibu Kembang.
Oleh karena itulah Kembang berdoa sebisanya. Dengan rapalan terpatah-patah, doa terdengar lebih seperti mantera. Ia merunutkan semuanya sesuai dengan aturan guru agama; supaya permintaanmu didengar, mulailah dengan memanjatkan syukur atas apapun kepemilikanmu, mendoakan keluarga serta teman terdekat, serta menutupnya dengan harapan-harapan akan kehidupan lebih baik.
Sayangnya, doa Kembang tidak didengar.
Ayah si Kembang meninggal. Dokter bilang akibat kanker paru-paru tapi Kembang lebih tahu. Ayahnya hanya terlalu rindu dengan sosok kakak si Kembang yang meninggal lebih dulu. Mendadak, semua kesenangannya direnggut dan ia pergi menuju kota besar yang tidak pernah sekalipun terlintas dalam benaknya akan ia tuju. Kembang belum lagi mengenal definisi keadilan dan dalam hatinya ia merasa berat dan sekarat.
Tahun-tahun berlalu begitu cepat. Si Kembang kecil beranjak dewasa. Kaki dan tangannya memanjang, pinggangnya mekar, dan susunya tumbuh. Seiring dengan kata-kata dan pemahaman mampir bercokol dalam kepalanya, barulah Kembang merasa Tuhan tidak pernah ada untuknya. Kembang mulai meninggalkan doa-doanya dan pergi ke tempat yang lebih manusiawi untuk menumpahkan segala kegelisahan masa remajanya. Kembang menggantikan kehadiran Tuhan dengan buku-buku cerita, ide-ide abstrak, dan angan-angan fana.
Lewat kesenangannya yang baru, Kembang bermimpi menjadi penulis. Ia berharap dapat menjadi tuhan versinya sendiri. Membangun karakter, menguraikan cerita, menuturkan drama, segala kualitas yang kira-kira sama egoisnya seperti tuhan yang ia kenal. Maka berjam-jam ia habiskan di depan komputer tuanya yang diletakan depan jendela besar menghadap taman; membiarkan cerita bergulir seperti bola salju, dari kecil hingga membentuk longsoran besar kesedihan.
Mungkin karena kesombongan serta kemarahan Kembang yang nampak dalam setiap karyanya itulah, Tuhan kembali mendorongnya ke sebuah jurang yang dalam. Keluarga barunya yang terdiri dari tiga pilar perempuan tua hancur; rumah yang dibangun susah payah oleh ayahnya dijual murah, dan uang peninggalan ayahnya rembes entah ke mana. Kembang harus mengungsi ke tempat yang tidak lebih baik dari pada selokan bersama dua kerabatnya yang telah menua, bermulut jahat dan terlalu lelah dengan urusan dunia.
Di saat itulah, aku merasa Kembang butuh tempat selain buku-buku dan cerita-ceritanya. Kembang butuh kehadiran lebih besar daripada manusia dan masalah. Kembang butuh sosok fiktif yang bisa ia persalahkan dan persoalkan. Mungkin karena itulah, Kembang datang ke gereja dengan langkah terseok-seok dan tampang memelas. Meski telah meninggalkan doa, Kembang memulai sebuah percakapan tak putus dengan Tuhan.
Katanya, “Kau boleh ambil semuanya, Tuhan. Toh semuanya memang milikmu. Potong tanganku, tapi jangan pernah Kau ambil kata-kata dari kepalaku.”
***
Betapa terpuruknya!
Aku menggelengkan kepalaku, menghilangkan segala pemikiran mengenai gadis malang yang duduk di barisan kursi misa paling belakang. Agaknya kepala ini terlalu banyak diberi asupan drama dan cerita usang hingga berani benar menuturkan, merunutkan, dan meruntuhkan kisah hidup orang.
Kuputuskan untuk beranjak dari tempat dudukku dan kembali ke aktivitas yang mematahkan semangat; memanen cerita dari balik benak para pendoa. Perlahan dan pasti, kulewati setiap orang yang berlutut, berjalan menuju pintu besar di penghujung pandangan.
Si gadis yang duduk di barisan kursi misa paling belakang, masih saja menatap jauh ke salib besar di tengah gereja. Kudengar samar-samar serentetan kalimat meluncur dari mulutnya, “Potong tanganku, tapi jangan pernah… Kau ambil kata-kata dari kepala....ku.”
Darah. Darah menetes. Si gadis jatuh terjerembab di atas keramik gereja itu. Banyak rapalan doa terputus dan rengsak di hadapan Tabernakel.

Komentar
Posting Komentar