“Apa kamu seorang fatalis?” Pertanyaan itu terlontar begitu saja. Mentah. Menimbulkan lebih banyak rasa curiga dibandingkan rasa penasaran, beda dari yang biasanya. Padahal malam itu adalah malam yang sama seperti yang biasa kita habiskan berdua. Dua gelas kopi berpadu dengan singkong goreng di pinggiran jalan dekat tempat kos saya. Berawalnya juga dari hal yang sama; satu batang rokok yang dibakar, asap-asap yang berkelindan dengan kelebatan hari yang sudah lewat. Banyak obrolan, banyak tawa riang. Tapi kenapa tiba-tiba kamu menanyakan itu, sampai sekarang pun saya tidak tahu. “Kenapa juga harus menanyakan hal itu?” “Cuma kepingin tahu,” kamu bilang sembari menyeruput kopi hitammu. “Kalau tidak mau jawab juga tidak apa-apa. Ini pertanyaan iseng.” Lalu otak saya mengeriput. Saya memutuskan untuk mengunyah singkong goreng yang lain di piring. “Bukan,” jawab saya. “Kamu?” Kamu diam sejenak sebelum menjawab, "Agaknya saya percaya takdir.” “Berarti kamu fatalis.” ...
stories, words, and everything worth to be told