“Apa kamu seorang fatalis?”
Pertanyaan itu terlontar begitu saja. Mentah. Menimbulkan lebih banyak rasa curiga dibandingkan rasa penasaran, beda dari yang biasanya. Padahal malam itu adalah malam yang sama seperti yang biasa kita habiskan berdua. Dua gelas kopi berpadu dengan singkong goreng di pinggiran jalan dekat tempat kos saya.
Berawalnya juga dari hal yang sama; satu batang rokok yang dibakar, asap-asap yang berkelindan dengan kelebatan hari yang sudah lewat. Banyak obrolan, banyak tawa riang. Tapi kenapa tiba-tiba kamu menanyakan itu, sampai sekarang pun saya tidak tahu.
“Kenapa juga harus menanyakan hal itu?”
“Cuma kepingin tahu,” kamu bilang sembari menyeruput kopi hitammu. “Kalau tidak mau jawab juga tidak apa-apa. Ini pertanyaan iseng.”
Lalu otak saya mengeriput. Saya memutuskan untuk mengunyah singkong goreng yang lain di piring. “Bukan,” jawab saya. “Kamu?”
Pertanyaan itu terlontar begitu saja. Mentah. Menimbulkan lebih banyak rasa curiga dibandingkan rasa penasaran, beda dari yang biasanya. Padahal malam itu adalah malam yang sama seperti yang biasa kita habiskan berdua. Dua gelas kopi berpadu dengan singkong goreng di pinggiran jalan dekat tempat kos saya.
Berawalnya juga dari hal yang sama; satu batang rokok yang dibakar, asap-asap yang berkelindan dengan kelebatan hari yang sudah lewat. Banyak obrolan, banyak tawa riang. Tapi kenapa tiba-tiba kamu menanyakan itu, sampai sekarang pun saya tidak tahu.
“Kenapa juga harus menanyakan hal itu?”
“Cuma kepingin tahu,” kamu bilang sembari menyeruput kopi hitammu. “Kalau tidak mau jawab juga tidak apa-apa. Ini pertanyaan iseng.”
Lalu otak saya mengeriput. Saya memutuskan untuk mengunyah singkong goreng yang lain di piring. “Bukan,” jawab saya. “Kamu?”
Kamu diam sejenak sebelum menjawab, "Agaknya saya percaya takdir.”
“Berarti kamu fatalis.”
“Berarti iya, saya fatalis.”
“Oh…”
Kita diam. Kamu mengunyah, saya menyeruput. Barangkali kita berpikir, atau menerka, atau malah menduga-duga mengenai makna keberadaan masing-masing. Atau sebenarnya cuma saya saja yang mentok di tahap itu? Hampir selama setahun kita sering berbincang, saya masih kesulitan membaca kamu.
Ini serius.
“Lalu?” saya bertanya.
"Ya berarti kita ini takdir. Saya percaya itu.”
“Maksudnya?”
“Pertemuan kita. Kebersamaan kita. Kopi yang kita pesan. Ini sudah digariskan Tuhan.”
“Halah, konyol.” Terlalu melebih-lebihkan, gaya khasmu.
Kamu
tertawa pelan. “Iya, memang. Saya memang konyol. Makanya kamu tahan dengan saya
kan? Karena kamu suka menertawai kekonyolan saya. Karena kamu suka saya.”
Alis mata saya naik. Kamu memang terlalu fasih bicara jujur. Tapi segala yang jujur tentang kamu, entah rasa, pikiran, dan kata terkadang membuat saya menerka-nerka apakah ada sesuatu yang lain dibalik kejujuranmu? Ataukah memang segala pertanyaanmu tidak pernah punya arti? Saya tidak tahu. Saya sepertinya memang belum kenal kamu.
Sebatang
rokok lagi dibakar. “Iya, saya memang suka kamu,” saya mengiyakan. “Tapi bukan
berarti karena kamu konyol.”
“Karena saya cantik? Karena saya memikat?”
“Saya percayanya karena kamu pintar bicara.”
“Sialan,” kamu mendengus.
“Bukan berarti karena kamu gak cantik. Kamu ya cantik. Kamu ya memikat.”
“Meski saya fatalis?”
“Meski kamu fatalis.”
Kamu tersenyum. Sedikit getir, karena kerutannya pada garis bibirmu bukannya guratan yang biasa. “Saya pikir….”
“Kamu pikir…?”
“Ah, enggak. Bukan apa-apa.”
Kamu diam, rekuh dalam basian pahit kopi yang baru saja kamu seruput kembali. Setelahnya kita tidak bicara apapun lagi. Kamu bilang kamu ingin pulang. Maka kita beranjak pergi dari tempat itu dalam balutan dua lapisan baju penghangat dan syal pembebat. Sesampainya kita di tempat tinggalmu, kamu mengucapkan salam perpisahan.
Besoknya
kamu menghilang. Tidak ada secangkir kopi hitam dan singkong goreng lagi
setelah malam itu. Hanya sebuah surat ditujukan pada saya. Kamu menulis dengan gamblang bahwa kamu
lupa bilang kalau-kalau Tuhan juga sudah menggariskan bahwa kita tidak pernah
bakal bisa bersama.
Komentar
Posting Komentar