Satu-satunya
cara terbaik mengingatmu memang hanya dengan menutup mata.
Segera
setelah gelap, segalanya perlahan hadir kembali. Adalah sebuah kafe
dengan banyak foto menggantung di dindingnya yang saya pilih sebagai tempat
kita bertemu. Udara dingin menyambut kita hampir secara bersamaan dengan musik
yang tiba-tiba menjadi fokus utama setelah pembicaraan yang berlangsung cukup
lama mendadak patah di pertengahan. Bincang-bincang di sekitar, bincang-bincang di kepala. Seorang pelayan
menyodorkan satu pesanan lagi di meja kita, lalu kamu duduk di sebelah saya; memandang layar televisi yang menampilkan sesosok wajah artis kenamaan tengah
melenggokkan tubuhnya secara dramatis mengikuti alunan musik.
Tapi
kamu tidak sedang berada bersama saya saat itu. Kamu tengah masuk ke dalam
dirimu sendiri, ke sebuah tempat yang sama sekali tidak bisa saya jangkau. Saya tetap bertahan di sebelah kamu. Membisu dalam penantian, menunggu dengan
sabar ditemani asap rokok yang memuakkan dan segelas kopi yang sudah lama mendingin.
***
Sebelumnya, kamu mengaku bahwa kamu
sedang goyah.
Ayolah,
jangan seperti ini. Sampai saat ini saya berada di titik ini. Jangan mendorong
saya terus sampai ke titik yang lebih tinggi, kamu bilang sembari tersenyum
gugup. Kamu meminta saya untuk berhenti. Kamu bilang saya orang paling
menyebalkan, karena biarpun dengan pelbagai wacana yang secara gampang saja
kamu lontarkan (dan yang sedikit sekali bisa kamu realisasikan), saya tetap
pada pendirian saya yang menunggui kamu; yang percaya bahwa janji-janji itu
kelak akan kamu tepati suatu hari nanti.
Mungkin itu sebabnya mengapa kamu
tetap tinggal bersama saya di kafe tersebut sampai waktu menunjukkan tepat
pukul tujuh malam. Tenggelam dalam pembicaraan patah, sekadar diam sembari
bertukar senyum. Atau karena kamu tidak sampai hati mengabaikan rengekan saya
untuk menghabiskan waktu bersama kamu lebih lama? Entahlah. Saya lebih memilih
opsi kedua. Saya tidak berani menambahkan dosis angan-angan melebihi yang saya
konsumsi sehari-hari.
Namun ada satu hal yang saya sadari.
Saya adalah si pandir yang memang kelewat sombong. Saya selalu merayakan kejujuran
dalam bentuk kata-kata dan tulisan lantas menyebutnya sebagai sebuah humor
miris. Kamu tahu itu, kamu sering mendengarnya langsung dari saya. Tapi kamu
selalu tersenyum menyambut apapun yang saya utarakan.
Kamu bilang saya adalah orang yang
paling membuat kamu tidak bisa berkata apa-apa. Padahal justru kamulah yang
membuat saya geragapan setiap kali kamu tersenyum.
“Kalau saya menyerah, ini tidak bakal
jadi menarik lagi,” kamu bilang.
“Kalau saya yang menyerah?”
Kamu cuma tertawa pelan.
***
Hampir
pukul tujuh malam, akhirnya kamu kembali bersama saya. Pandangan kita
bersirobok. Kamu tersenyum, saya tersenyum. Mungkin bukan untuk alasan yang
sama. Meski demikian, saya lega kamu kembali. Lalu sekelumit kalimat meluncur
mulus dari bibirmu, membuat saya tertegun. Kamu mengajak saya pulang. Ada
terlalu banyak kewajiban menunggu selewat pukul tujuh hari ini sampai beberapa
bulan ke depan.
Kita beranjak dan perjalanan kembali
ke tempat kamu menjemput saya tadi bukannya jenis perjalanan yang bisa
benar-benar dinikmati. Tapi bukannya waktu seperti begini adalah kemewahan
tersendiri? Apakah pantas bagi pungguk seperti saya untuk menuntut bulan turun
dari langit dan menikmati keindahannya sendiri?
Malam itu, ketika kamu memeluk saya
kemudian, sesuatu tengah runtuh dalam pemikiran saya. Sesuatu tengah jatuh. Lagi.
Jakarta, 8 Februari 2014
Jakarta, 8 Februari 2014
Komentar
Posting Komentar