Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2017

Tentang Si Penulis yang Menjelma Seonggok Omong Kosong

Di bulan Maret, seorang penulis bersikeras memutuskan jika dirinya membenci tulisan, kata, cerita, dan membakar buku di perpustakaannya dengan api senyala buah plum. Ia sempat mengira dirinya gila serta hampir yakin ada sebuah keyakinan sesat terhirup oleh hidungnya sesaat setelah hujan reda. Jika bukan karena keyakinan sesat yang terkandung dalam bau setelah hujan, mana mungkin ia dengan mudahnya membuang semua peralatan tulis, mesin tik, laptop, dan jurnal-jurnal dari masa lampaunya ke dalam api yang menjilat-jilat di pelataran belakang rumahnya. Mana mungkin dengan mudahnya ia menghempas segala gagasan ideal mengenai dirinya sendiri yang seorang penulis tersebut ke tempat pembakaran sampah di belakang rumahnya. Si penulis terhenyak memandangi kata-kata yang sekarat keluar dari buku, peralatan tulis, mesin tik, laptop dan jurnal-jurnal masa lampaunya. Ia meneliti perasaannya sendiri, meraba hingga bagian terdalam lubang kosong di dadanya. Sempat ia mengernyit, mengantisipasi...

Tentang Seorang Pelukis dan Mimpinya

Di antara bau pelitur dan perkakas penuh bercak warna, seorang pelukis tenggelam dalam mimpi yang panjang.   Pada mimpinya itu ia berada di tengah-tengah dua dunia yang berbeda: tangan kanannya berada di sisi hitam dunia dan tangan kirinya berada di sisi putih dunia. Ia merasa asing dengan dirinya sendiri. Sementara ia tahu betul dirinya pernah melihat warna merah, atau ungu, atau kuning, atau biru teal di langit siang yang mendung, segala pengetahuan itu mulai mengabur meninggalkan warna putih, abu-abu, dan hitam. Panik mulai menjalari sekujur tubuhnya. Si pelukis mulai berjalan. Meski tak tahu ke mana arah yang ia tuju, si pelukis bertekad mencari sebercak warna dalam dunia tersebut. Dalam pikirannya, sebuah suara mulai mengisi relung kosong dalam kepalanya dengan gagasan-gagasan jahat yang samar, yang merusak, yang menjalar, yang membuat dadanya semakin sesak seiring dengan langkah kakinya. Dan ketika semuanya semakin tidak tertahankan, si pelukis mulai menamb...