Langsung ke konten utama

Tentang Seorang Pelukis dan Mimpinya


Di antara bau pelitur dan perkakas penuh bercak warna, seorang pelukis tenggelam dalam mimpi yang panjang.  

Pada mimpinya itu ia berada di tengah-tengah dua dunia yang berbeda: tangan kanannya berada di sisi hitam dunia dan tangan kirinya berada di sisi putih dunia. Ia merasa asing dengan dirinya sendiri. Sementara ia tahu betul dirinya pernah melihat warna merah, atau ungu, atau kuning, atau biru teal di langit siang yang mendung, segala pengetahuan itu mulai mengabur meninggalkan warna putih, abu-abu, dan hitam.

Panik mulai menjalari sekujur tubuhnya.

Si pelukis mulai berjalan. Meski tak tahu ke mana arah yang ia tuju, si pelukis bertekad mencari sebercak warna dalam dunia tersebut. Dalam pikirannya, sebuah suara mulai mengisi relung kosong dalam kepalanya dengan gagasan-gagasan jahat yang samar, yang merusak, yang menjalar, yang membuat dadanya semakin sesak seiring dengan langkah kakinya.

Dan ketika semuanya semakin tidak tertahankan, si pelukis mulai menambah laju kecepatan langkahnya hingga berlari.

Terus ia berlari sementara gagasan-gagasan jahat samar dalam kepalanya mulai berubah menjadi bisikan. Dari bisikan berubah menjadi teriakan. Terus ia berlari, hingga akhirnya si pelukis kehabisan napas, terantuk bebatuan hitam, dan jatuh terjerembab. Rasa sakit menyengat dahinya. Ia yakin sepenuhnya jika dahinya berdarah. Si pelukis berusaha meraba wajahnya, tapi merah bukanlah pertama yang ia lihat.

Sudut pandangannya menangkap hitam lalu putih. Mendadak saja, sebuah kuas dengan gagang penuh ukiran muncul di hadapannya. Si pelukis sontak merangkak cepat berusaha mendekati kuas tersebut. Suara-suara jahat kembali bergaung di kepalanya.

Pada akhirnya, berat kembali menguasai dada si pelukis. Diambilnya kuas tersebut, dihujamkannya ke jantung. Sakit yang membuncah harusnya sebanding dengan darah merah yang keluar dari dadanya, begitu pikir si pelukis. Namun, alih-alih warna merah, berbutir-butir kebahagiaan meleleh dari lubang kecil di dadanya, tanpa merah, tanpa biru, tanpa ungu, tanpa warna−hanya sebuah asap yang hilang di udara.

Si pelukis mengerang. Sakit dan pedih menyelubungi keberadaannya. Tubuhnya melayu, hitam dan putih mulai menelan kaki,

kemudian tangan,

kemudian mata…


***

               
Esok hari, ibu si pelukis mengetuk pelan pintu kamar. Bau pelitur masih pekat di udara dan bercak warna masih tampak di perkakas lukis. Diantara keduanya, seorang pelukis tenggelam dalam mimpi yang panjang.  Dan bangun bukanlah kemewahan yang ia miliki lagi selamanya. 




23 Maret 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psalter of Undone Girls

Book I: Of Hunger Psalm I. The Starvation Game She starved at the table of touch. Every smile was rationed. She learned to chew absence, to swallow glances like crumbs. The hunger taught her that even neglect has calories. Psalm II. The Mouth as Wound The mouth opens for speech, but bleeds instead. Desire leaks, iron-tasting. A kiss is just a suture failing. What is voiced is not heard, what is heard is not held. Psalm III. Banquet of Absence We sit around a feast of plates. The cutlery gleams with nothing. We praise the spread of air, raise a toast to lack. Our bellies groan like choirs, our hollow becomes our hymn. Psalm IV. The Body as Empty House Her ribs are doorframes, her lungs the dusty halls. Every step echoes. She lies in bed with drafts for companions, the wallpaper peeling like memory. Hunger is not only of the stomach, but of the rooms no one enters. Psalm V. Communion of Ash They offered her bread that dissolved into soot. They poured her wine that tasted of vinegar and s...

Aku, Cthulhu

Neil Gaiman, 1986, https://www.neilgaiman.com/Cool_Stuff/Short_Stories/I_Cthulhu Ilustrasi Cthulhu oleh Disse86 dari DeviantArt I.   Cthulhu, begitu mereka memanggilku. Cthulhu yang Agung.    Tidak ada seorangpun yang bisa mengeja namaku dengan benar.   Apa kau menulis semua ini? Kata per kata?   Bagus. Harus kumulai dari mana—mm?   Ya sudah, kalau begitu. Dari awal. Tulis apa yang kubilang, Whateley.   Aku dilahirkan ribuan tahun yang lalu, dalam kabut gelap Khaa’yngnaiih (tidak, tentu saja aku tidak tahu bagaimana mengejanya. Tulis saja sesuai bunyinya) dari orang tua mimpi buruk tak bernama, di bawah bulan yang bungkuk. Bukan bulan dari planet ini, tentu saja, aku lahir di bawah bulan sungguhan. Di malam-malam tertentu, bulan itu memenuhi lebih dari separuh langit dan saat bulan tersebut naik, kau bisa menyaksikan darah merah jatuh dan menetesi wajahnya yang bengkak, menodai wajahnya merah, sampai pada titik ketinggian di mana cahayanya menyirami r...

Ragu Menyengat

Kamu tahu, apa yang angin hadirkan padaku malam itu? Ragi, ragu, keringat udara musim penghujan berbau menyengat. Sedikit manis lalu asam membaur di permukaan lidah. Rontok segala yang ada di dada meski jarak tidak seberapa. Ujung-ujungnya aku terengah menjadi gerah dan lelah Gelitik hari itupun runut selantunan kecapi pada telinga ia berbuah rasa hangat yang hanya bertalu-talu di dada bukan tipikal rindu yang mudah dinikmati Kilasan pertemuan, tawa yang menjemukan, cinta yang mengharukan, Tidak pernah sederhana malah menuai petaka Lalu setelah ini apa? "Mari kita menyerah dan tanggalkan  harapan masing-masing sebelum hilang selamanya." 25 Agustus 2013.