Di bulan Maret, seorang penulis
bersikeras memutuskan jika dirinya membenci tulisan, kata, cerita, dan membakar buku di
perpustakaannya dengan api senyala buah plum.
Ia sempat mengira dirinya gila
serta hampir yakin ada sebuah keyakinan sesat terhirup oleh hidungnya sesaat
setelah hujan reda. Jika bukan karena keyakinan sesat yang terkandung dalam bau
setelah hujan, mana mungkin ia dengan mudahnya membuang semua peralatan tulis,
mesin tik, laptop, dan jurnal-jurnal dari masa lampaunya ke dalam api yang
menjilat-jilat di pelataran belakang rumahnya. Mana mungkin dengan mudahnya ia
menghempas segala gagasan ideal mengenai dirinya sendiri yang seorang penulis
tersebut ke tempat pembakaran sampah di belakang rumahnya.
Si penulis terhenyak memandangi
kata-kata yang sekarat keluar dari buku, peralatan tulis, mesin tik, laptop dan
jurnal-jurnal masa lampaunya. Ia meneliti perasaannya sendiri, meraba hingga
bagian terdalam lubang kosong di dadanya. Sempat ia mengernyit, mengantisipasi
rasa sakit yang bisa saja muncul mendadak seperti hentakan batu di belakang
kepalanya.
Namun tidak ada satupun perasaan
yang timbul dan segala usahanya untuk bertahan melihat darah mengucur keluar
dari kata-kata yang ia kumpulkan selama hidup tidak lebih daripada sekedar
kesedihan palsu.
Si penulis paham betul bahwa
dirinya telah berubah menjadi seonggok omong kosong dan mimpi buruk yang
menjelma daging.
Komentar
Posting Komentar