Langsung ke konten utama

Tentang Si Penulis yang Menjelma Seonggok Omong Kosong

Di bulan Maret, seorang penulis bersikeras memutuskan jika dirinya membenci tulisan, kata, cerita, dan membakar buku di perpustakaannya dengan api senyala buah plum.

Ia sempat mengira dirinya gila serta hampir yakin ada sebuah keyakinan sesat terhirup oleh hidungnya sesaat setelah hujan reda. Jika bukan karena keyakinan sesat yang terkandung dalam bau setelah hujan, mana mungkin ia dengan mudahnya membuang semua peralatan tulis, mesin tik, laptop, dan jurnal-jurnal dari masa lampaunya ke dalam api yang menjilat-jilat di pelataran belakang rumahnya. Mana mungkin dengan mudahnya ia menghempas segala gagasan ideal mengenai dirinya sendiri yang seorang penulis tersebut ke tempat pembakaran sampah di belakang rumahnya.

Si penulis terhenyak memandangi kata-kata yang sekarat keluar dari buku, peralatan tulis, mesin tik, laptop dan jurnal-jurnal masa lampaunya. Ia meneliti perasaannya sendiri, meraba hingga bagian terdalam lubang kosong di dadanya. Sempat ia mengernyit, mengantisipasi rasa sakit yang bisa saja muncul mendadak seperti hentakan batu di belakang kepalanya.

Namun tidak ada satupun perasaan yang timbul dan segala usahanya untuk bertahan melihat darah mengucur keluar dari kata-kata yang ia kumpulkan selama hidup tidak lebih daripada sekedar kesedihan palsu.


Si penulis paham betul bahwa dirinya telah berubah menjadi seonggok omong kosong dan mimpi buruk yang menjelma daging. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psalter of Undone Girls

Book I: Of Hunger Psalm I. The Starvation Game She starved at the table of touch. Every smile was rationed. She learned to chew absence, to swallow glances like crumbs. The hunger taught her that even neglect has calories. Psalm II. The Mouth as Wound The mouth opens for speech, but bleeds instead. Desire leaks, iron-tasting. A kiss is just a suture failing. What is voiced is not heard, what is heard is not held. Psalm III. Banquet of Absence We sit around a feast of plates. The cutlery gleams with nothing. We praise the spread of air, raise a toast to lack. Our bellies groan like choirs, our hollow becomes our hymn. Psalm IV. The Body as Empty House Her ribs are doorframes, her lungs the dusty halls. Every step echoes. She lies in bed with drafts for companions, the wallpaper peeling like memory. Hunger is not only of the stomach, but of the rooms no one enters. Psalm V. Communion of Ash They offered her bread that dissolved into soot. They poured her wine that tasted of vinegar and s...

Aku, Cthulhu

Neil Gaiman, 1986, https://www.neilgaiman.com/Cool_Stuff/Short_Stories/I_Cthulhu Ilustrasi Cthulhu oleh Disse86 dari DeviantArt I.   Cthulhu, begitu mereka memanggilku. Cthulhu yang Agung.    Tidak ada seorangpun yang bisa mengeja namaku dengan benar.   Apa kau menulis semua ini? Kata per kata?   Bagus. Harus kumulai dari mana—mm?   Ya sudah, kalau begitu. Dari awal. Tulis apa yang kubilang, Whateley.   Aku dilahirkan ribuan tahun yang lalu, dalam kabut gelap Khaa’yngnaiih (tidak, tentu saja aku tidak tahu bagaimana mengejanya. Tulis saja sesuai bunyinya) dari orang tua mimpi buruk tak bernama, di bawah bulan yang bungkuk. Bukan bulan dari planet ini, tentu saja, aku lahir di bawah bulan sungguhan. Di malam-malam tertentu, bulan itu memenuhi lebih dari separuh langit dan saat bulan tersebut naik, kau bisa menyaksikan darah merah jatuh dan menetesi wajahnya yang bengkak, menodai wajahnya merah, sampai pada titik ketinggian di mana cahayanya menyirami r...

Ragu Menyengat

Kamu tahu, apa yang angin hadirkan padaku malam itu? Ragi, ragu, keringat udara musim penghujan berbau menyengat. Sedikit manis lalu asam membaur di permukaan lidah. Rontok segala yang ada di dada meski jarak tidak seberapa. Ujung-ujungnya aku terengah menjadi gerah dan lelah Gelitik hari itupun runut selantunan kecapi pada telinga ia berbuah rasa hangat yang hanya bertalu-talu di dada bukan tipikal rindu yang mudah dinikmati Kilasan pertemuan, tawa yang menjemukan, cinta yang mengharukan, Tidak pernah sederhana malah menuai petaka Lalu setelah ini apa? "Mari kita menyerah dan tanggalkan  harapan masing-masing sebelum hilang selamanya." 25 Agustus 2013.