Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2017

Tentang Maria

Diam-diam, dalam hati, aku bersumpah untuk tetap mengunjungi Maria setiap hari. Tapi janji tidak selalu mudah untuk ditepati. Ibu bilang, Maria dilahirkan oleh sebuah kutukan. Terlepas dari namanya yang berarti penguasa lautan atau anak yang didoakan, Ibu sempat berujar jika nama tersebut juga mengandung arti lain. Nama Maria itu berarti lautan kepahitan dan lautan kemalangan. Jadi, menurut kesimpulan ibuku, pantas saja Maria dipanggil Maria sebab kemalangan tidak pernah selangkah lebih jauh daripada kepahitan.   Ibu tidak pernah melarangku bergaul dengan Maria. Tapi ia juga bukannya pihak yang vokal menyetujui jam mainku dihabiskan bersama Maria. Bukan hanya Ibu, hampir seluruh wanita seumuran ibu yang memiliki anak sepantaran aku, menyarankan anak-anaknya supaya mencari teman bermain yang lain. Suatu hari aku bertanya kenapa Ibu selalu menyarankan aku bermain bersama Mona, anak perempuan bertubuh gemuk yang tinggal dua rumah dari rumahku. Ibu hanya menukas, s...

Nasi Tumpeng

“Boss besar sedang berbaik hati.” “Nampaknya begitu.” “Bukan ah, ini kan memang perkara kewajiban aja.” Keringat mengucur deras. Boss Besar belum juga muncul. Padahal waktu yang disertakan di surel jelas-jelas pukul 3 sore. Sementara itu, romusha modern penggerak perusahaan telah berdiri mengelilingi sebuah meja dengan nasi tumpeng menjulang tinggi lengkap bersama lauk pauknya. Lima belas menit berlalu, Boss Besar belum juga muncul. Kerumunan karyawan perusahaan mulai gelisah. Salah seorang pria diantara kerumunan karyawan perusahaan itu, Yus, nampak lebih gelisah daripada rekan kerjanya yang lain. Ia agak sedikit membungkuk sebab perutnya seperti ditusuk oleh jarum setebal kuku kaki. Sudah hampir tiga hari ini ia makan hanya sekali sehari demi mengulur jumlah gaji yang tinggal seberapa. Dari tempatnya berdiri, sekitar tiga meter jauhnya dari nasi tumpeng besar dan hanya sejengkal jaraknya di sebelah Mus, sahabat karibnya, Yus menelan ludah sus...