Langsung ke konten utama

Nasi Tumpeng

“Boss besar sedang berbaik hati.”

“Nampaknya begitu.”

“Bukan ah, ini kan memang perkara kewajiban aja.”

Keringat mengucur deras. Boss Besar belum juga muncul. Padahal waktu yang disertakan di surel jelas-jelas pukul 3 sore. Sementara itu, romusha modern penggerak perusahaan telah berdiri mengelilingi sebuah meja dengan nasi tumpeng menjulang tinggi lengkap bersama lauk pauknya. Lima belas menit berlalu, Boss Besar belum juga muncul. Kerumunan karyawan perusahaan mulai gelisah.

Salah seorang pria diantara kerumunan karyawan perusahaan itu, Yus, nampak lebih gelisah daripada rekan kerjanya yang lain. Ia agak sedikit membungkuk sebab perutnya seperti ditusuk oleh jarum setebal kuku kaki. Sudah hampir tiga hari ini ia makan hanya sekali sehari demi mengulur jumlah gaji yang tinggal seberapa.

Dari tempatnya berdiri, sekitar tiga meter jauhnya dari nasi tumpeng besar dan hanya sejengkal jaraknya di sebelah Mus, sahabat karibnya, Yus menelan ludah susah payah. Hidungnya bisa mencium bau kunyit dan ketumbar yang terserap disetiap butir nasinya. Pikirannya mulai berlomba menciptakan angan akan si pembuat yang tengah menghaluskan bumbu sebelum mencampurkannya pada beras yang telah diberi santan.

Semua inderanya seakan dikibuli.

Yus melihat jam dinding. Mus, di sebelahnya, sibuk dengan ponsel baru hasil mencicil di calon mertuanya. Rekan-rekan kerjanya yang lain mulai berani. Bisikan percakapan berubah menjadi dengungan.

Mus mendecakkan lidahnya. “Elah, lama.”

“Namanya juga Boss Besar, sesuka dialah,” tukas Yus, pandangannya tidak lepas dari nasi tumpeng.

“Menurut gue sih, daripada buang-buang waktu begini, mendingan gausah dikumpulin. Selametan yaudah kasih aja martabak atau apaan kek. Taruh aja di meja depan. Gausah seformal ini sampe harus ngumpulin semua orang,” Mus memasukkan ponselnya ke dalam kantong. 

“Nanti kalau ada kerjaan yang belom beres ujung-ujungnya kita yang disalahin. Padahal dia sendiri gak tepat waktu gitu datengnya. Ujung-ujungnya kita juga yang jadi korban, kan?”

“Yah mau gimana lagi sih, Mus,” tutur Yus tabah.

“Pasrahan amat lo,” Mus menggelengkan kepalanya. “Jangan pasrah-pasrah amat lah, Yus..”

“Bawaan dari lahir, bro.”

Lagi, Mus menggelengkan kepalanya, tiba-tiba ia menepuk pundak Yus, seakan baru teringat akan sesuatu. “Eh, yang kemaren gimana?”

“Apanya?”

“Itu loh, sepokat… sepokat,”

“Oh…”

“Udah sampe belom paket sepatu lu?” tanya Mus.

“Harusnya sih hari ini. Nggak tahu. Gue belom ngecek.”

“Mantap. Kalau udah dateng hari ini, pake dong besok kalo ke kantor.”

“Sayang nggak sih? Setiap hari lagi becek begini…” Yus meringis, membayangkan sepatu Air Jordan 4 metaliknya harus menghadapi cobaan musim hujan.

“Ya buat apa lo beli kalo gitu.”

“Hadiah, reward, apalah lo nyebutnya…”

“Gak ada beda sama tumpeng itu, dong.”

“Beda dong… kan kalau sepatu ini bisa dijual. Nasi tumpeng itu mana bisa dijual lagi. Antara jadi tenaga atau tai.”

Mus menggeleng. “Sama aja. Sama-sama simbol kemenangan bukan syukuran.”

Yus mengangkat bahu. Dadanya sempat mencelos karena rasa bersalah. Ia tahu dirinya lebih butuh makan ketimbang sepatu. Lebih baik mengirimi sebagian uang ke kampung untuk bapak ibunya. Tapi ia tidak melakukan semua yang baik, malah dengan gampangnya membeli sepatu berjuta-juta.

Ia akui ia merasa menang, sama seperti Boss Besar yang mengumpulkan mereka di ruang pertemuan luas dan memandangi Nasi Tumpeng di tengah meja reyot setelah klien setuju menandatangani kontrak kerja sama selama 6 bulan ke depan. Tapi mungkin Boss Besar jauh lebih baik daripada Yus.

Ketimbang membeli sepatu seharga berjuta-juta, Boss Besar memberi makan Yus yang menahan lapar sampai dua minggu ke depan. Atau mungkin Boss Besar punya uang yang terlalu banyak, bingung bagaimana caranya menghabiskan uang sisa itu, dan menghamburkannya begitu saja dengan membeli simbol.

Entahlah.


Tidak ada yang tahu.  






17 April 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psalter of Undone Girls

Book I: Of Hunger Psalm I. The Starvation Game She starved at the table of touch. Every smile was rationed. She learned to chew absence, to swallow glances like crumbs. The hunger taught her that even neglect has calories. Psalm II. The Mouth as Wound The mouth opens for speech, but bleeds instead. Desire leaks, iron-tasting. A kiss is just a suture failing. What is voiced is not heard, what is heard is not held. Psalm III. Banquet of Absence We sit around a feast of plates. The cutlery gleams with nothing. We praise the spread of air, raise a toast to lack. Our bellies groan like choirs, our hollow becomes our hymn. Psalm IV. The Body as Empty House Her ribs are doorframes, her lungs the dusty halls. Every step echoes. She lies in bed with drafts for companions, the wallpaper peeling like memory. Hunger is not only of the stomach, but of the rooms no one enters. Psalm V. Communion of Ash They offered her bread that dissolved into soot. They poured her wine that tasted of vinegar and s...

Aku, Cthulhu

Neil Gaiman, 1986, https://www.neilgaiman.com/Cool_Stuff/Short_Stories/I_Cthulhu Ilustrasi Cthulhu oleh Disse86 dari DeviantArt I.   Cthulhu, begitu mereka memanggilku. Cthulhu yang Agung.    Tidak ada seorangpun yang bisa mengeja namaku dengan benar.   Apa kau menulis semua ini? Kata per kata?   Bagus. Harus kumulai dari mana—mm?   Ya sudah, kalau begitu. Dari awal. Tulis apa yang kubilang, Whateley.   Aku dilahirkan ribuan tahun yang lalu, dalam kabut gelap Khaa’yngnaiih (tidak, tentu saja aku tidak tahu bagaimana mengejanya. Tulis saja sesuai bunyinya) dari orang tua mimpi buruk tak bernama, di bawah bulan yang bungkuk. Bukan bulan dari planet ini, tentu saja, aku lahir di bawah bulan sungguhan. Di malam-malam tertentu, bulan itu memenuhi lebih dari separuh langit dan saat bulan tersebut naik, kau bisa menyaksikan darah merah jatuh dan menetesi wajahnya yang bengkak, menodai wajahnya merah, sampai pada titik ketinggian di mana cahayanya menyirami r...

Ragu Menyengat

Kamu tahu, apa yang angin hadirkan padaku malam itu? Ragi, ragu, keringat udara musim penghujan berbau menyengat. Sedikit manis lalu asam membaur di permukaan lidah. Rontok segala yang ada di dada meski jarak tidak seberapa. Ujung-ujungnya aku terengah menjadi gerah dan lelah Gelitik hari itupun runut selantunan kecapi pada telinga ia berbuah rasa hangat yang hanya bertalu-talu di dada bukan tipikal rindu yang mudah dinikmati Kilasan pertemuan, tawa yang menjemukan, cinta yang mengharukan, Tidak pernah sederhana malah menuai petaka Lalu setelah ini apa? "Mari kita menyerah dan tanggalkan  harapan masing-masing sebelum hilang selamanya." 25 Agustus 2013.