Langsung ke konten utama

Tentang Maria


Diam-diam, dalam hati, aku bersumpah untuk tetap mengunjungi Maria setiap hari.
Tapi janji tidak selalu mudah untuk ditepati.


Ibu bilang, Maria dilahirkan oleh sebuah kutukan.
Terlepas dari namanya yang berarti penguasa lautan atau anak yang didoakan, Ibu sempat berujar jika nama tersebut juga mengandung arti lain. Nama Maria itu berarti lautan kepahitan dan lautan kemalangan. Jadi, menurut kesimpulan ibuku, pantas saja Maria dipanggil Maria sebab kemalangan tidak pernah selangkah lebih jauh daripada kepahitan.  
Ibu tidak pernah melarangku bergaul dengan Maria. Tapi ia juga bukannya pihak yang vokal menyetujui jam mainku dihabiskan bersama Maria. Bukan hanya Ibu, hampir seluruh wanita seumuran ibu yang memiliki anak sepantaran aku, menyarankan anak-anaknya supaya mencari teman bermain yang lain.
Suatu hari aku bertanya kenapa Ibu selalu menyarankan aku bermain bersama Mona, anak perempuan bertubuh gemuk yang tinggal dua rumah dari rumahku. Ibu hanya menukas, sedikit tidak sabar, “Mona anak yang baik. Tidak nakal dan selalu menghabiskan pudding hitam buatanku. Sedangkan Maria… Lebih baik kau jauh-jauh dari Maria. Anak itu bawa sial; hidupnya pahit dan penyakitan.,” Ibu menggerus gandum di dapur. Kurasa menu makan malam hari itu hanya bubur gandum polos. “Masa kau tidak bisa lihat dengan dua matamu?”
“Penyakitan?”
“Wajahnya beruntusan. Merah-merah seperti isi buah delima. Kau pikir apa jadinya mukamu kalau sampai bentol kemerahan itu pecah dan isinya terciprat di wajahmu?” Ibu sibuk di tungku perapian, mengaduk-aduk gandum dalam campuran air kental. “Bisa-bisa kau ketularan kutukannya dan wajahmu jadi jelek.”
“Tapi Mona tidak mempunyai boneka untuk main rumah-rumahan, bu,” jelasku. “Maria punya banyak sekali.”
“Ya terserah saja kalau kau mau terus-terusan bermain sama anak itu. Ibu hanya memperingati saja. Tapi ingat kau itu….”
“…jangan terlalu dekat dengannya dan mencuci tangan sehabis main sebelum makan. Oke. Aku mengerti, bu.”
“Ya, itu,” tukas ibu. “Ingat ya!”
Saat itu aku tidak balas menyahut. Aku langsung menyambar boneka hadiah dari Rosetta, kakak perempuanku, dan berlari menghambur keluar rumah. Aku berlari dan terus berlari sampai ujung jalan. Berbelok ke kiri setelah melewati rumah Mona dan melesat jauh ke arah sungai. Sebuah pondok kecil berkanopi hijau kusam muncul di ujung pandangan. Itulah rumah Maria.
Langkahku semakin bersemangat, senyumku semakin melebar. Sudah banyak cerita mengenai permainan rumah-rumahan tersusun dalam kepalaku. Aku berteriak memanggil nama Maria di pekarangan rumahnya yang ditanami sekian jenis bunga berwarna-warni. Senang karena telah mengantongi izin ibu untuk bermain dengan Maria.
Sore itu kuhabiskan bermain bersama Maria yang wajahnya memerah karena bentol-bentol halus. Kami tergelak akibat lelucon mengenai monster bubur gandum yang menculik Romanov, boneka Maria, dan kesedihan Peter, bonekaku, atas pohon spaghetti yang tidak tumbuh-tumbuh.
***
Aku senang bermain bersama Maria.
Di balik wajahnya yang penuh bentol merah dan kaki serta tangannya yang penuh  koreng, gadis itu memiliki tawa renyah. Pengetahuannya cukup luas. Ia bahkan mengajariku merajut sampai aku bisa membuat topi untuk hamsterku. Saat aku tanya dari mana ia belajar mengenai teknik merajut, Maria menjawab sembari tersenyum dikulum. Dari salah satu buku merajut yang ada di perpustakaan ayahnya, kata Maria.
Sekali waktu, Maria pernah membuatkanku dua bungkus kue kering. Satu bungkus kami makan bersama sementara yang lain kusimpan untuk dimakan di rumah. Saat kutanya apakah ibunya mengajari cara membuat kue, Maria hanya menggelengkan kepala dan tersenyum agak sedih. Ia bilang, dirinya belajar membuat kue dari buku.
Maria bercerita kalau ibunya sudah lama tidak pulang. Beberapa tahun lalu, ibu Maria selalu berkunjung sekali sebulan. Namun saat itu, Maria mengatakan kalau ibunya sudah hampir delapan bulan terakhir tidak lagi menampakkan wajahnya. Maria yakin betul ibunya telah memiliki keluarga lain di desa sebelah. “Bisa jadi ia telah memiliki anak lain yang harus ia urus,” tambah Maria.
Ayah Maria sudah lama meninggal. Sakit keras sampai tinggal tulang, begitu Maria bercerita mengenai kondisi ayahnya di bulan-bulan terakhir hidupnya. Gadis itu dengan setia berada di sebelah sisi tempat tidur si ayah dan terus menunggui ayahnya yang membacakan beragam cerita dari buku-buku miliknya. Mungkin dari situlah gadis itu sangat menyukai waktu kegiatan membaca. Bisa jadi dengan membuka buku dari perpustakaan di rumahnya, Maria dapat merasakan kehadiran figur ayahnya. Entahlah.
Tidak seperti aku dan Mona, Maria jarang keluar dari rumahnya. Aku pernah berpendapat Maria seperti seorang ibu-ibu. Kerjanya hanya menyapu, memasak, mencuci baju, dan menyikat lantai. Maria sama seperti Ibuku, tidak pernah pergi ke sekolah untuk belajar matematika atau sejarah.
“Apa kau tidak pernah merasa bosan?” tanyaku suatu waktu.
“Tidak. Soalnya kau selalu datang setiap hari untuk main dan bercerita banyak mengenai sekolah,” ujarnya seolah bersenandung sembari mengganti baju bonekanya. “Kecuali kalau kau memutuskan untuk tidak ke sini. Mungkin aku akan kesepian.”
Diam-diam, dalam hati, aku bersumpah untuk tetap mengunjungi Maria setiap hari.
Tapi janji tidak selalu mudah untuk ditepati.
Seiring berjalannya waktu, aku mendapati diriku sendiri semakin sibuk dengan urusan sekolah dan urusan rumah. Tugas yang menumpuk dan beban membantu urusan rumah selalu menjadi penghalangku pergi mengunjungi Maria.
Tiba-tiba saja, di suatu hari bulan Agustus, aku menyadari kalau Maria dan aku sudah tidak pantas lagi disebut sebagai teman. Aku sudah jarang pergi ke rumah Maria. Bahkan ketika pernah kami berpapasan, aku malah membuang muka dan terus berjalan seolah-olah tidak pernah melihat gadis itu. Aku sungkan bertanya mengapa sekarang bajunya semakin kotor, tangan dan kakinya semakin penuh dengan koreng dan bentol-bentol di wajahnya mengeras atau apakah ibunya sekarang tidak pernah lagi mengunjungi rumahnya.
Ada sebuah perasaan tidak nyaman yang selalu muncul ketika pikiranku mulai bertanya-tanya mengenai Maria.
Perasaan itu muncul tidak lama setelah sepotong percakapan bersama ibuku. Ibu makin khawatir akan kedekatanku dan Maria, mengingat wajahnya tetap kemerahan karena bentol-bentol kecil dan tubuhnya penuh luka koreng. Seluruh desa semakin keras menggembar-gemborkan keadaan Maria yang terjadi akibat sebuah kutukan turunan.
Penyakit kulit yang tidak kunjung sembuh, ayah yang meninggal karena sakit keras, ibu yang tidak jelas keberadaannya ada di mana. Tidak ada penjelasan lebih masuk akal daripada terkena kutuk, kata Ibuku. Lagi ia menambahkan, jika mungkin keadaan Maria seperti itu akibat ulah ayahnya yang suka main judi semasa muda dan ibunya yang jalang. Maria sendiri dikatakan merupakan hasil hubungan tidak resmi  ayahnya yang diduga menghamili adik perempuannya sendiri. 
Saat itu aku belum begitu paham arti jalang dan seberapa buruknya menghamili adik sendiri. Tapi dari nada bicara ibu, aku tahu betul hal-hal yang dikatakan ibu mengenai Maria sama sekali tidak bisa diterima oleh orang-orang. Sebuah perasaan ganjil mulai menjalari tubuhku dan tahu-tahu aku tidak bisa lagi melihat Maria sebagai seorang gadis berpengetahuan luas yang mengajariku cara merajut. Alih-alih, aku menghindar dan memilih untuk melupakan waktu-waktu semasa kecilku bermain bersama Maria.

***

Di umurku yang keenam belas tahun, aku menikahi seorang pria dari kota sebelah. Kami memutuskan untuk tinggal di rumah milik suamiku dan meneruskan usaha pembuatan topi milik mertuaku. Tidak pernah lagi aku mendengarkan khabar mengenai Maria dan lambat laun aku mulai melupakan bagaimana perasaan serta ingatan-ingatan masa kecilku bersama gadis tersebut.
Ibu sering mengirimkan surat setiap bulannya. Dalam suratnya, ia menceritakan bagaimana kondisi desaku dan keadaan rumah. Mona telah keluar dari desa dan bekerja sebagai perawat di kota. Rosetta, kakak perempuanku, sekarang tengah mengandung anak keempat dan sering datang berkunjung ke rumah membawa serta ketiga ponakanku yang lain. Namun beberapa bulan terakhir ibu tidak lagi mengirimkan apa-apa sampai akhirnya selembar surat sampai ke tanganku.
Bukan ibu yang menulis surat itu, melainkan ayahku. Dalam surat itu ia mengatakan bahwa ibu tengah sakit keras dan ia memintaku untuk pulang.
Malam itu pula, aku berkemas. Kukatakan pada suamiku bahwa aku akan pulang ke rumah untuk beberapa hari. Ia berjanji akan menyusulku ke rumah beberapa hari kemudian. Setelah menyelesaikan keperluan kebutuhan produksi, aku langsung bergegas pergi. Butuh waktu dua hari perjalanan menggunakan kereta kuda dengan tiga perhentian utama untuk sampai ke desa tempatku dulu tinggal.
Tiba di rumah ibu, aku melihat banyak orang berkerumun di depan halaman. Ayah keluar dari balik barisan orang yang memenuhi pintu depan rumah. Wajahnya memerah, rambutnya yang keabu-abuan basah akibat keringat. Saat melihatku muncul, mata ayah merebak. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya tapi aku bisa mengetahui dengan pasti dari seluruh tubuhnya; ibu telah meninggal. Dua hari setelahnya, ibu dikuburkan di pemakaman desa. Hampir seluruh penduduk desa turut menghantarkan kepergian ibuku kecuali Maria.

***

Setelah pemakaman ibu, aku memutuskan untuk tinggal beberapa hari lagi di rumah. Seluruh kerabat dan penduduk desa muncul silih berganti menghantarkan ucapan bela sungkawa lengkap dengan kemilau air mata di pipi serta wajah prihatin kepada keluargaku. Entah mereka benar-benar kehilangan sosok ibuku atau sekedar ingin mencicipi masakan buatan Rosetta yang enak dan gratis. Kami sekeluarga tidak terlalu peduli mana motif sesungguhnya para penduduk desa datang menghampiri kediaman kami. Yang manapun, sejujurnya sama saja. Malah kehadiran mereka yang menceritakan banyak hal mengenai ibu terdengar jauh lebih menghibur daripada harus berdiam diri dan tenggelam dalam kesedihan ditinggal orang yang dikasihi.
Suamiku tiba di hari ketiga setelah pemakaman ibu. Hujan rintis menyambut kedatangannya ke rumah semasa kecilku. Ia bercerita mengenai cuaca yang mulai tidak dapat diprediksi dan berbagai kesulitan yang ia hadapi untuk sampai ke desa.
“Untung ada seorang perempuan baik hati yang menunjukkanku jalan desa ini di malam hari. Kalau tidak aku bisa saja tersesat entah mengetuk rumah siapa,” ujar suamiku sembari membuka jasnya.
“Perempuan siapa?” tanyaku seraya merapihkan tempat tidur.
“Aku tidak bisa melihat wajahnya. Tapi jelas ia memiliki perawakan yang hampir mirip denganmu. Perempuan muda, umurnya kurang lebih sama denganmu. Rambutnya ikal berantakan, coklat. Perutnya besar, sepertinya hamil.”
Aku berpikir keras, mencari-cari dalam ingatan siapa yang kira-kira di desa sekecil ini, seorang perempuan yang berbaik hati menolong suamiku dan menghantarkannya sampai ke depan rumah dengan ciri-ciri yang ia sebutkan barusan.
“…kalau tidak salah namanya.. Mm… M-Marge? Marry? Sepertinya Marry…”
Sebuah entakan menghantam ulu hatiku. “Maria?”
“Ya! Itu namanya.”
Suamiku bercerita lebih lanjut mengenai betapa Maria sangat senang mengetahui pria yang ia tolong adalah suamiku. Tak hentinya Maria bercerita mengenai waktu-waktu semasa kami masih kecil dulu. Aku tidak mengatakan hal apapun kali itu dan kami berbaring di tempat tidur tidak lama setelahnya. Malam itu, aku gelisah sebab sebuah perasaan ganjil yang telah lama kukubur perlahan muncul kembali ke permukaan.  
Hari-hari berikutnya, perasaan ganjil tersebut tidak kunjung surut. Perasaan itu mulai mengganggu hingga makin kronis, mencekik tenggorokanku dengan keinginan mau muntah yang tak tertahankan. Beberapa hari setelahnya aku coba mencari tahu mengenai kabar terakhir mengenai Maria. Namun tidak seorang pun yang tahu lebih detail atau setidaknya menunjukkan setitik kepedulian mengenai keadaan Maria sekarang.
Dari beberapa orang yang kutanya, beberapa mengatakan ibu Maria tidak pernah lagi kelihatan batang hidungnya di desa. Antara sudah menikah lagi atau meninggal, tidak ada yang tahu. Selama ini Maria tinggal sendiri dan kondisi tubuhnya makin parah. Namun yang paling mengejutkan, beberapa bulan lalu Maria ketahuan hamil.
Tidak ada seorang pun di desa mau mengakui anak yang dikandung dalam rahimnya. Desas-desus mengatakan Maria telah diperkosa oleh bandit yang menjadikan hutan di sebelah tenggara desa kami sebagai tempat persembunyian mereka. Ada pula yang mengatakan gadis itu telah melakukan sihir terhadap seorang saudagar muda yang berkunjung ke desa dan menipunya dengan berbagai macam godaan untuk tidur dengannya.
“Siapapun orangnya yang menghamili si perempuan terkutuk itu sejujurnya malang sekali,” tukas Yves, seorang janda beranak satu yang tiba-tiba nimbrung pembicaraanku dan beberapa teman di rumah minum.“Tidak bisa kubayangkan bagaimana susah payahnya lelaki itu memejamkan mata saat bersenggama dengan Maria.”
Dengusan tawa pecah menjadi gelak tawa menghina di balik telapak tangan wanita-wanita desa.
Mengenai cerita manakah yang paling benar mengenai Maria, aku tidak tahu. Aku tidak bisa memastikan. Entah karena beberapa orang yang kutanyai mengiringi pernyataannya dengan dengusan geli atau karena jauh di dalam hatiku aku sedikit banyak mempercayai bagian-bagian terburuk dari cerita mereka. Yang pasti sesuatu mengganjal itu semakin besar dan menyumbat bagian belakang kerongkonganku.
Di mataku, Maria telah lama menjelma sesuatu yang buruk dan patut dijauhi.

***

Di hari keberangkatanku pulang ke kota, hujan turun cukup deras sampai hari menjelang siang.
Suamiku mengatakan tidak akan ada gunanya menerjang cuaca yang ganas, hanya akan membawa bencana di pertengahan jalan. Namun aku bersikeras untuk segera pulang. Kukatakan padanya, sudah pasti ada pesanan topi lain yang harus kami kerjakan minggu ini. Pria itu mengalah dan menukas jika kami akan berangkat ketika hujan sudah agak mereda.
Setelah hujan mereda, mendekati sore, kami mulai perjalanan membelah desa menuju kota. Rumah-rumah semua orang desa melesat begitu saja dari pandangan. Setiba di area pemakaman, roda kereta kami terperangkap tanah basah. Suamiku turun dari kereta dengan menggerutu.
Akupun turut keluar dari kereta. Udara lembab dan dingin sehabis hujan menghantam semua panca inderaku. Dengan sedikit berjingkat aku melangkah ke tepian jalan yang ditumbuhi rerumputan. Sepertinya perlu waktu lama untuk mengeluarkan roda dari perangkap tanah basah dan suamiku terlihat sama sekali tidak senang dengan kondisi tersebut.
Tiba-tiba dari sudut mataku, aku melihat sesosok bayangan terayun-ayun di sebuah pohon terbesar di area pemakaman desa, beberapa meter jauhnya dari tempat kami berdiri. “Oh, Tuhanku!” aku berteriak.
Suamiku dan dua orang kusir kereta kami pun melihat ke sosok yang sama. Dengan cepat, suamiku langsung bergegas mendekati pohon besar, aku menyusul dibelakangnya. Rasanya sebuah godam menghantam perutku. Di bawah pohon terbesar area pemakaman desa, tubuh Maria yang kurus terayun angin dingin di bulan September, tak bernyawa.
Suamiku langsung memeluk tubuhku yang gemetar tak keruan. “Demi Tuhan, siapa yang tega melakukan hal ini,” ia berbisik.
“Tuhanku…. Maria… Maria…”

Tubuh Maria kembali terayun mengikuti hembusan angin dingin bulan September. Dari tubuh itu, sesosok bayi terjatuh di tanah yang basah oleh hujan dan darah. Tidak lama, suara tangisan bayi terdengar nyaring di bukit itu, seolah tidak rela akan kepergian ibunya yang malang. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psalter of Undone Girls

Book I: Of Hunger Psalm I. The Starvation Game She starved at the table of touch. Every smile was rationed. She learned to chew absence, to swallow glances like crumbs. The hunger taught her that even neglect has calories. Psalm II. The Mouth as Wound The mouth opens for speech, but bleeds instead. Desire leaks, iron-tasting. A kiss is just a suture failing. What is voiced is not heard, what is heard is not held. Psalm III. Banquet of Absence We sit around a feast of plates. The cutlery gleams with nothing. We praise the spread of air, raise a toast to lack. Our bellies groan like choirs, our hollow becomes our hymn. Psalm IV. The Body as Empty House Her ribs are doorframes, her lungs the dusty halls. Every step echoes. She lies in bed with drafts for companions, the wallpaper peeling like memory. Hunger is not only of the stomach, but of the rooms no one enters. Psalm V. Communion of Ash They offered her bread that dissolved into soot. They poured her wine that tasted of vinegar and s...

Aku, Cthulhu

Neil Gaiman, 1986, https://www.neilgaiman.com/Cool_Stuff/Short_Stories/I_Cthulhu Ilustrasi Cthulhu oleh Disse86 dari DeviantArt I.   Cthulhu, begitu mereka memanggilku. Cthulhu yang Agung.    Tidak ada seorangpun yang bisa mengeja namaku dengan benar.   Apa kau menulis semua ini? Kata per kata?   Bagus. Harus kumulai dari mana—mm?   Ya sudah, kalau begitu. Dari awal. Tulis apa yang kubilang, Whateley.   Aku dilahirkan ribuan tahun yang lalu, dalam kabut gelap Khaa’yngnaiih (tidak, tentu saja aku tidak tahu bagaimana mengejanya. Tulis saja sesuai bunyinya) dari orang tua mimpi buruk tak bernama, di bawah bulan yang bungkuk. Bukan bulan dari planet ini, tentu saja, aku lahir di bawah bulan sungguhan. Di malam-malam tertentu, bulan itu memenuhi lebih dari separuh langit dan saat bulan tersebut naik, kau bisa menyaksikan darah merah jatuh dan menetesi wajahnya yang bengkak, menodai wajahnya merah, sampai pada titik ketinggian di mana cahayanya menyirami r...

Ragu Menyengat

Kamu tahu, apa yang angin hadirkan padaku malam itu? Ragi, ragu, keringat udara musim penghujan berbau menyengat. Sedikit manis lalu asam membaur di permukaan lidah. Rontok segala yang ada di dada meski jarak tidak seberapa. Ujung-ujungnya aku terengah menjadi gerah dan lelah Gelitik hari itupun runut selantunan kecapi pada telinga ia berbuah rasa hangat yang hanya bertalu-talu di dada bukan tipikal rindu yang mudah dinikmati Kilasan pertemuan, tawa yang menjemukan, cinta yang mengharukan, Tidak pernah sederhana malah menuai petaka Lalu setelah ini apa? "Mari kita menyerah dan tanggalkan  harapan masing-masing sebelum hilang selamanya." 25 Agustus 2013.