Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2018

Habis

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. (Mama, 84)” ―  Pramoedya Ananta Toer ,  Child of All Nations Maaf, Papa Pram,  tapi beberapa orang  memang tidak pernah menjadi  (apa yang mereka idam-idamkan).  Suara mereka telah padam ditelan angin,  tidak akan abadi,  tidak berarti;  tidak sekarang  atau di kemudian hari. :Mampuslah mereka d imakan rasa rendah diri  dan ketidakpercayaan terhadap tangan sendiri. 

Jalan Pulang ke Halaman

Bu Guru mengetuk papan tulis dan berpesan  supaya kami kembali ke halaman masing-masing. . Kami pulang bergandeng tangan; menyusuri alinea, menggebah titik dua, melompati spasi dan akhirnya berbelok ke marjin kiri. . Kami sampai  di lembar sendiri; setelah saling membuka diri, merasa lebih asing dan tak berarti. _____________________________ 23 April 2018 Selamat Hari Buku Sedunia

Dan Postingan

Ia pergi mencari luka supaya hidupnya tidak berhenti Ia pergi menimba murka supaya harinya tidak cuma diisi dengan tangisan yang sia-sia. Lewat tangannya ia ada, melalui sedihnya ia nyata. Katanya: "Lihatlah aku dari segala perbuatan dan perkataan,  pemikiran dan postingan." . "Sukai aku dari ujung kepala hingga jempol kaki, celana hingga kutil di pipi." Jempol-jempol jatuh dari langit menimpa kepalanya yang sesak terisi seribu argumen sengit.

Petualangan Ayah

Teman ibuku bercerita  tentang ayah: "Siang malam ia berpetualang mencari labuhan hati dan kepala lewat tawa membahana di alun-alun kota." Teman ibuku mendesah, menyoal ayah: "Siang malam ia tak pulang-pulang nyangsang di kedai minum seorang perempuan murah. Lewat mereka kamu lahir ke dunia."  Aku berderap pulang ke rumah, mengobrak abrik kepala mencari ayah.  Sampai Mei tidak juga kutemukan ia Sampai tenggorokanku tercekik  tidak juga kutemukan ia. Barangkali ayah masih saja  berbaring menghangatkan ranjang  Bunda Maria.

Jalan Tikus

Waktu kakak sakit, dengan berkalung rosario mini Ibu pergi ke got di depan rumah untuk memerangkap harap.  Sendirian ia tebarkan harap-harap itu. Sendirian ia jahitkan hingga jadi selimut berwarna biru. Ibu pergi ke dapur meniup tungku hingga berkobar tangan putihnya mengaduk panci berisi air mata dan segenggam sabar.  Tapi air mata dan sabar  tidak pernah menyelamatkan.  Kakak justru pamit tanpa kabar. Lewat jalan tikus, ia pergi ke Eden. Setelah kakak lama pergi, dengan berkalung rosario mini, Ibu mematahkan kedua kaki Lewat jalan kucing, ia berusaha kembali.

Requiescant in pace

Malam tadi, aku terbaring  di sisi kanan ranjang; mata terpejam,  tubuh terpuruk, gigi gemeretuk. "Kapan semua ini berlabuh di sudah? Bukankah kita telah kalah  waktu memutuskan untuk beribadah  siang malam tanpa kenal lelah?" begitu bisik-bisik di kepala menyuar. Pagi datang, aku tenggelam jauh ke balik selimut mataku panas tersegut-segut. Kugali kulitku begitu dalam hingga berdarah dan segalanya padam.

Tamasya Bulan April

Tamasya di bulan April dimulai dengan sebuah tafsir kepergian dan kedatangan kehilangan dan keberadaan kelahiran dan kematian yang mengada-ada dan sia-sia Tamasya di bulan April diakhiri dengan beberapa taksir pertemuan dan perpisahan di ujung jalan atau pikiran keputusan beranjak atau bertahan yang seterusnya tanpa harapan dan nihil tujuan.

Pulang

Kamu beku bukan berarti tidak suka.  Kamu beku sudah pasti tidak peduli.  Berlembar-lembar kertas berisi kisahmu berceceran di lantai:  lewat titik dan koma kamu telah kehilangan jalan pulang.

Rindu

Sudah waktunya tidur.  Pelan-pelan aku kembali menggali kubur,  berbaring dengan sakit dan patah dan bolong dan  nganga juga prasangka yang kian subur. Dalam kepalaku,  suaramu terdengar begitu nyaring dan jelas menyuarakan keikhlasan juga perseteruan yang belakangan kuhindari sekuat tenaga.  Aku rindu hangatmu,  aku rindu dinginmu.  Aku rindu.