Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2018

Ayah Sayang

Waktu kecil, ia bermimpi didatangi rasa nyaman dan aman dan Tuhan dan diceritakannya semua itu pada ayahnya. "Pertanda bagus, Nak. Berarti rasa nyaman dan aman dan Tuhan sayang sama kamu," kata ayah menyeruput kopi. Berbekal rasa berbunga di dadanya, Ia pergi mencari petualangan di dada seorang perempuan tua yang pernah melahirkan kakak perempuannya. Perjalanannya jauh nan kisruh penuh dengan rasa kalah dan peluh dan guratan luka yang tak kunjung sembuh. Bertahun-tahun setelahnya bebungaan di dadanya rontok hingga tinggal satu tangkai. Ia sadar itulah waktunya pulang menuju ayahnya berada. Sampai di beranda rumah, ia tidak menemukan ayahnya ada di mana-mana. "Apa ayah pergi ke pintu dapur surga?" ia bertanya. Ia lunglai di lantai. Ternyata benar: Hati yang patah tidak memiliki suara. ________________________ Kolaborasi: Sekumpulan Tanya Kunjungi juga blog  written words, twisted thoughts.   dan  @xditania  /  @dit...

Kunjungan

Sesekali kamu akan datang mengunjungi ranjangku, merebahkan tubuh dan pikiran, menghangatkan pembaringan kanan. Saat itu (biasanya malam) kamu memilin-milin renda gaun tidurku menyusuri garis tubuh menggumam menyoal taman Getsemani (dan apa yang harusnya terjadi di sela-sela narasi ini). Suaramu perlahan membangunkan minat dan keinginan tuk minggat kata-katamu lantas menelusup dalam kepala; patah, tanggal, dan tinggal. "Aku membawa sebuah kisah yang menggerogotiku," katamu sebelum bibirmu tanpa ampun kamu lumat. Lampu minyak meredup dan malam kembali takluk pada pertanyaan, perandaian, kemudian peraduan. Di atas kasur, batas antara benar dan salah memutuskan sudah waktunya ia berlibur. "Aku membawa sebuah kisah. Ia menggerogotiku." Kamu masih melumat sebelum akhirnya melunak lalu luluh lantak. Luluhkah kamu? Lantakkah kamu? Sungguhkah itu? Sering kali (biasanya pagi hari) kamu akan beranjak menjauhi ranjang, membangunkan...