Waktu kecil, ia bermimpi didatangi rasa nyaman dan aman dan Tuhan dan diceritakannya semua itu pada ayahnya. "Pertanda bagus, Nak. Berarti rasa nyaman dan aman dan Tuhan sayang sama kamu," kata ayah menyeruput kopi. Berbekal rasa berbunga di dadanya, Ia pergi mencari petualangan di dada seorang perempuan tua yang pernah melahirkan kakak perempuannya. Perjalanannya jauh nan kisruh penuh dengan rasa kalah dan peluh dan guratan luka yang tak kunjung sembuh. Bertahun-tahun setelahnya bebungaan di dadanya rontok hingga tinggal satu tangkai. Ia sadar itulah waktunya pulang menuju ayahnya berada. Sampai di beranda rumah, ia tidak menemukan ayahnya ada di mana-mana. "Apa ayah pergi ke pintu dapur surga?" ia bertanya. Ia lunglai di lantai. Ternyata benar: Hati yang patah tidak memiliki suara. ________________________ Kolaborasi: Sekumpulan Tanya Kunjungi juga blog written words, twisted thoughts. dan @xditania / @dit...
stories, words, and everything worth to be told