Kamu tahu, apa yang angin hadirkan padaku malam itu?
Ragi, ragu, keringat
udara musim penghujan berbau menyengat.
Sedikit manis lalu asam membaur di permukaan lidah.
Rontok segala yang ada di dada
meski jarak tidak seberapa.
Ujung-ujungnya aku terengah
menjadi gerah
dan lelah
Gelitik hari itupun runut selantunan kecapi
pada telinga ia berbuah rasa
hangat yang hanya bertalu-talu di dada
bukan tipikal rindu yang mudah dinikmati
Kilasan pertemuan,
tawa yang menjemukan,
cinta yang mengharukan,
Tidak pernah sederhana
malah menuai petaka
Lalu setelah ini apa?
"Mari kita menyerah dan tanggalkan
harapan masing-masing sebelum hilang selamanya."
25 Agustus 2013.
Ragi, ragu, keringat
udara musim penghujan berbau menyengat.
Sedikit manis lalu asam membaur di permukaan lidah.
Rontok segala yang ada di dada
meski jarak tidak seberapa.
Ujung-ujungnya aku terengah
menjadi gerah
dan lelah
Gelitik hari itupun runut selantunan kecapi
pada telinga ia berbuah rasa
hangat yang hanya bertalu-talu di dada
bukan tipikal rindu yang mudah dinikmati
Kilasan pertemuan,
tawa yang menjemukan,
cinta yang mengharukan,
Tidak pernah sederhana
malah menuai petaka
Lalu setelah ini apa?
"Mari kita menyerah dan tanggalkan
harapan masing-masing sebelum hilang selamanya."
25 Agustus 2013.
Komentar
Posting Komentar