Pada bulan kesekian di tahun terpanas itu kita mengutuk malam. Sebab kita tahu, pada waktu pagi memaksakan kedatangannya, kelak kita akan berpisah dan menghapus keberadaan berdua tanpa ampun.
Dan sejelas itulah kita tidak mempunyai daya yang cukup untuk mengatakan tidak. Entah pada pagi, atau pada takdir yang kemudian berjalan. Kita berpisah di simpang ampat, tapi masing-masing dari kita masih tetap menunggu satu sama lain untuk selepasnya menentang keinginan semesta untuk menjauh, berjalan lambat-lambat. Masing-masing dari kita menoleh ke arah yang berlawanan dengan arah pulang, pada simpang ampat sembari berharap bahwa akan ada lagi esok malam yang akan kita lewati berdua; bersama-sama.
Oh, pagi Hastina.
Ia adalah musuh paling pedas yang merasuk mata. Ibarat tempat berlabuh, jendela besar Keputrenan selalu kusambangi dan kugantungi dengan untaian harapan-harapan basah juga basi. Aku menolak melihat sinar matari, menolak melihat kembang sepatu merekah di bawah pengaruhnya. Menolak; karena memang tidak pernah ada sosokmu yang disirami sinarnya pada setiap ingatanku.
Selalu bulan yang menjadi pengiring kita. Antara kau dan aku, juga seluruh perandai-andaian yang tidak ada habisnya. Semua kata berbalik begitu cepat, juga tawa.
Tapi kesempatan tidak pernah bertahan lebih dari satu malam. Juga janji. Juga ilusi tentang aku yang bicara sembari mengelus-elus rambutmu.
Angin tidak lagi bicara,
kau tidak lagi bicara.
Malam…. Tidak lagi terjaga, untuk sebuah “kita”.
Dan sejelas itulah kita tidak mempunyai daya yang cukup untuk mengatakan tidak. Entah pada pagi, atau pada takdir yang kemudian berjalan. Kita berpisah di simpang ampat, tapi masing-masing dari kita masih tetap menunggu satu sama lain untuk selepasnya menentang keinginan semesta untuk menjauh, berjalan lambat-lambat. Masing-masing dari kita menoleh ke arah yang berlawanan dengan arah pulang, pada simpang ampat sembari berharap bahwa akan ada lagi esok malam yang akan kita lewati berdua; bersama-sama.
Oh, pagi Hastina.
Ia adalah musuh paling pedas yang merasuk mata. Ibarat tempat berlabuh, jendela besar Keputrenan selalu kusambangi dan kugantungi dengan untaian harapan-harapan basah juga basi. Aku menolak melihat sinar matari, menolak melihat kembang sepatu merekah di bawah pengaruhnya. Menolak; karena memang tidak pernah ada sosokmu yang disirami sinarnya pada setiap ingatanku.
Selalu bulan yang menjadi pengiring kita. Antara kau dan aku, juga seluruh perandai-andaian yang tidak ada habisnya. Semua kata berbalik begitu cepat, juga tawa.
Tapi kesempatan tidak pernah bertahan lebih dari satu malam. Juga janji. Juga ilusi tentang aku yang bicara sembari mengelus-elus rambutmu.
Angin tidak lagi bicara,
kau tidak lagi bicara.
Malam…. Tidak lagi terjaga, untuk sebuah “kita”.
Komentar
Posting Komentar