Langsung ke konten utama

Malam Menolak Terjaga

Pada bulan kesekian di tahun terpanas itu kita mengutuk malam. Sebab kita tahu, pada waktu pagi memaksakan kedatangannya, kelak kita akan berpisah dan menghapus keberadaan berdua tanpa ampun.

Dan sejelas itulah kita tidak mempunyai daya yang cukup untuk mengatakan tidak. Entah pada pagi, atau pada takdir yang kemudian berjalan. Kita berpisah di simpang ampat, tapi masing-masing dari kita masih tetap menunggu satu sama lain untuk selepasnya menentang keinginan semesta untuk menjauh, berjalan lambat-lambat. Masing-masing dari kita menoleh ke arah yang berlawanan dengan arah pulang, pada simpang ampat sembari berharap bahwa akan ada lagi esok malam yang akan kita lewati berdua; bersama-sama.

Oh, pagi Hastina.

Ia adalah musuh paling pedas yang merasuk mata. Ibarat tempat berlabuh, jendela besar Keputrenan selalu kusambangi dan kugantungi dengan untaian harapan-harapan basah juga basi. Aku menolak melihat sinar matari, menolak melihat kembang sepatu merekah di bawah pengaruhnya. Menolak; karena memang tidak pernah ada sosokmu yang disirami sinarnya pada setiap ingatanku.

Selalu bulan yang menjadi pengiring kita. Antara kau dan aku, juga seluruh perandai-andaian yang tidak ada habisnya. Semua kata berbalik begitu cepat, juga tawa.

Tapi kesempatan tidak pernah bertahan lebih dari satu malam. Juga janji. Juga ilusi tentang aku yang bicara sembari mengelus-elus rambutmu.

Angin tidak lagi bicara,
kau tidak lagi bicara.


 Malam…. Tidak lagi terjaga, untuk sebuah “kita”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psalter of Undone Girls

Book I: Of Hunger Psalm I. The Starvation Game She starved at the table of touch. Every smile was rationed. She learned to chew absence, to swallow glances like crumbs. The hunger taught her that even neglect has calories. Psalm II. The Mouth as Wound The mouth opens for speech, but bleeds instead. Desire leaks, iron-tasting. A kiss is just a suture failing. What is voiced is not heard, what is heard is not held. Psalm III. Banquet of Absence We sit around a feast of plates. The cutlery gleams with nothing. We praise the spread of air, raise a toast to lack. Our bellies groan like choirs, our hollow becomes our hymn. Psalm IV. The Body as Empty House Her ribs are doorframes, her lungs the dusty halls. Every step echoes. She lies in bed with drafts for companions, the wallpaper peeling like memory. Hunger is not only of the stomach, but of the rooms no one enters. Psalm V. Communion of Ash They offered her bread that dissolved into soot. They poured her wine that tasted of vinegar and s...

Malaikat yang Menyamar - T.S. Arthur (1851)

Malaikat yang Menyamar atau An Angel in Disguise (1851) tampil dalam koleksi cerita T.S. Arthur yang berjudul After a Shadow and Other Stories .  "Manisnya anak yang sakit itu, yang selalu memandangnya dalam cinta, kesabaran, dan rasa syukur seperti madu bagi jiwanya, dan dia menggendongnya dalam hatinya juga dalam pelukannya, sebuah beban yang berharga." Hmayak Artsatpanyan, Sick Child, 1900 Kemalasan, sifat buruk, dan konsumsi alkohol berlebih telah melakukan tugas mengerikan, dan Si Ibu yang mati itu terbujur kaku di tengah anak-anaknya yang malang. Wanita itu jatuh di ambang pintu rumahnya dalam keadaan mabuk, dan meninggal di tengah keberadaan anak-anaknya yang masih kecil serta ketakutan. Kematian menyentuh rasa kemanusian paling mendasar. Wanita ini telah dihina, diolok, dan dikecam oleh hampir setiap lelaki, wanita, dan anak-anak di desa tersebut; tapi sekarang, bersamaan dengan kabar kematiannya yang disebarkan dari mulut ke mulut dengan nada mura...

Tentang Anu

Nganuannya saya sederhana, sebenarnya.  Kalau nganu sama si anu harus bisa anu yang pelan-pelan. Pendekatan anunya juga harus luar biasa sabarnya, kayak anu-anuan yang ditahan. Tapi kalau begitu jadinya gampang banget, ya gak sih? Anu sama si anu harus anu yang pelan-pelan; keanuaan yang terjadinya lama dan pelan-pelan pastilah nganu sampe langgeng; sayangnya bukan cuma itu aturannya. Ada ratusan aturan peranuan yang harus ditepati dengan konsekuensi berikut ketika aturan-aturan anu itu tidak dianukan; “Tidak melakukan aturan anu yang benar, maka anuan selanjutnya pasti kacau. Tidak memasukan anu pada anu yang tepat, bisa bikin kepala dipenuhi keanuanuan yang bikin anu makin besar. Salah membaca anu malah melakukan anu, luar biasa bodohnya.” Nganu? Ya, anu bangetlah.  Tapi yang nganu-nganu itu, juga peraturan-peraturannya bisa menganukan hidup jadi tenang. Mata jadi anu, hidung jadi anu. Telinga juga dengarnya yang anu-anu saja. Hati terbebas dari anu bahkan jiwa m...