Langsung ke konten utama

Eva

Misa terakhir usai tepat pada pukul setengah sembilan malam.

Jemaat yang tinggal adalah mereka yang mendapatkan label paling taat. Wajah-wajah sama; yang sebelah tangannya hilang karena perang, janda yang mengelus jabang bayi dalam kandungan terus-terusan menawari Tuhan dengan banyak suap supaya suami yang tengah bertugas di medan perang bisa kembali dengan selamat, seorang kekasih juga bapak dari empat belas anak menangis pilu meminta wanita pujaannya bangkit dari kubur. Harapan yang sama (“Terima kasih atas semua yang telah kau berikan. Tapi kiranya kau memang Tuhan yang tanpa cela, berikanlah lagi satu kesempatan supaya ia tetap selamat!”

Ucap syukur kupanjatkan padamu, tapi kalau boleh berikanlah kedamaian dalam tidur dan penghapusan dosa hamba. Supaya jangan ada lagi suara tanpa tubuh yang menghantui!”

  “Berikan hamba cinta, berikan hamba penghiburan!”).

Rutinitas membosankan (Nah, terus saja. Litani Orang Kudus. Litani kepada Bunda Maria. Ampunan, ampunan!)

          Lalu saya. Mata menghadap altar, jauh di pandangan itu. Lekat berusaha menerka siapa dia yang sosoknya berukuran tiga kali orang sebenarnya, di kayu salib.

          Itulah patung yang selama ini membuat saya bertanya-tanya. Apakah di setiap gereja selalu ada benda itu, pada penampangnya yang paling agung tampak seperti piala bersimbah darah? Mungkinkah  di gereja-nya, Eva melihat sosok yang sama seperti yang saya lihat? Apakah memang benda itu sudah ada dari awal dan apa yang saya lihat selama ini ketika saya ke gereja―sesosok ular berkepala manusia dengan lidah bercabang, punya tangan, punya kaki digantung terbalik―Cuma ilusi?

          “Selamat malam,” seseorang menyapa, menghamburkan pikiran saya.

          “Malam,” saya menyahut.

          “Boleh saya duduk?”

          “Tentu, silahkan,” akhirnya saya bergeser semakin melengsak memasukkan dua kaki diantara bantalan berlutut dan kursi duduk kayu.

          “Anda baru di kota ini?”

          “Saya baru sampai sore tadi,” saya menggumam sambil lalu. Memuji lidah yang semakin pintar membohongi diri sendiri. “Ini gereja yang bagus. “

          “Dibangun jauh sebelum presiden pertama tampil sebagai pemimpin,” orang itu mengangguk dengan bangga seperti bapak yang menunjukkan banyak piagam anaknya. “Baru tahun lalu dijadikan icon wisata provinsi.”

          “Bapak sepertinya tahu banyak.”

          “Saya sudah ditugaskan di paroki ini selama tiga belas tahun. Ini tahun ke tiga belas, bulan keempat saya di sini. Malu kalau sampai tidak memiliki pengetahuan yang luas mengenai tempat pelayanan sendiri.”

          “Seperti tidak mengenali bentuk kemaluan sendiri, ya?”

          Orang itu hampir-hampir meledak tertawa yang kemudian disamarkan menjadi sebuah dengusan keras. Beberapa orang di sayap kanan, kira-kira empat meter jauhnya, mengernyit memandangi kami. Tapi alih-alih menatap mencela, mereka malah maklum kemudian kembali lagi tenggelam dalam doa-doa mereka (...litani orang kudus. Litani Bunda Maria... Litani Busuk. HA!).

          “Bisa jadi, bisa jadi, tapi frasa vulgar seperti itu agaknya tidak pantas. Bagaimanapun tempat ini adalah rumah Allah. Metafor semacam itu agaknya hanya pantas ditulis di kolom opini koran minggu atau pada narasi cerita pendek murahan.”

          “Tapi maaf, bukan bermaksud menyinggung anda,” lawan bicara saya buru-buru menambahkan. Dikiranya saya akan marah, mungkin. Padahal segala ocehan, ya sah-sah saja. Saya penganut manusia-goa dalam teori Plato. Nilai dan moral saya berbeda.

          “Tidak masalah, Bapa,” suara yang keluar cukup terkendali. Dua telapak tangan pada masing-masing lutut. “Saya cukup senang anda datang dan menyapa.”

          “Kota ini kecil, nak. Mayoritas penduduknya datang ke tempat ini untuk berdoa. Sangat aneh untuk saya sendiri jika saya tidak datang pada anda dan menyapa lebih dahulu.” Ia tersenyum khidmat. “Apalagi jika memang anda adalah wartawan yang seharusnya datang hari ini.”

          “Ah...” Saya tersenyum. Pantas saja daritadi tercium bau parfum yang menyengat. Dari manakah datangnya bau itu? Baju si lawan bicara atau gelagatnya? “Tentu. Tapi, Bapa, saya sedang tidak bertugas.” Kemarin baru dipecat sehabis memecahkan botol bir ke kepala rekan kerja sendiri. Biasalah.

          “Oh iya, saya tahu itu! Kita dijadwalkan bertemu besok. Tenang saja, saya ingat dengan jelas. Tapi tidak ada salahnya untuk menyapa bukan begitu, nak?” Lawan bicara saya tertawa.

          Saya tertawa.

          “Kalau begitu sampai bertemu besok?”

          “Ya. Pukul lima sore?”

          “Oh, pukul lima?” ia mengernyit heran. “Aneh. Saya ingat betul seharusnya pukul tiga.”

          “Saya baru kasih tahu yang mengatur jadwal supaya diundur sesampainya saya di sini, sebelum misa tadi. Maaf, salah saya. Ada janji yang tidak saya catat.”

          “Tidak apa-apa,” si lawan bicara mengiyakan maklum.

          “Senang berkenalan dengan anda, Bapa.....” saya mengulurkan tangan.

          “Kefas,”  ia menyambut uluran tangan saya dengan mantap. “Dan anda adalah....”

          “Adam.”

          “Adam,” sekali lagi ia mengeja nama saya, seperti berusaha merekamnya dalam ingatan. “Anda sudah mendapatkan penginapan?”

          “Untungnya sudah. Kerabat saya tinggal di sini. Alamatnya.... tunggu sebentar,” Di mana lembar kertas sialan itu? “Jalan Antasari nomor..... lima.”

          Si Lawan bicara memincingkan matanya. “Anda kerabat Nona Eva?”



          “Ya.”


          Bukan.



          “Saya...... kerabatnya.”





          ....... suaminya.

***
Saya adalah ciptaan Tuhan yang paling mulia, diberi nama Adam. Rumah saya di Eden, sebuah taman rimbun dengan sebuah pohon besar yang seolah menopang langit supaya tidak runtuh. Tuhan pernah bilang pada saya bahwa pohon itu di namai Pohon Pengetahuan, buahnya terlarang, tidak seharusnya di makan. Maka saya patuh. Makan dari buah pohon lain, saya mengacuhkan pohon di tengah taman itu.

Di keseharian saya sebelum bertemu dengan yang menyerupai sosok saya, saya senang berjalan-jalan sepanjang taman. Kaki-kaki kokoh dan seluruh otot-otot besar ini bukan diciptakan untuk maksud yang kecil. Maka saya memanjati seluruh dahan pohon paling besar, saya berenang diantara ikan-ikan yang saya namai satu persatu, dan saya bergulat dengan singa dalam sebuah cerita imajiner mengenai pertempuran besar untuk merebut daerah kekuasaan. Lalu pada malam hari, saya akan bergelung diantara kaki-kaki pohon sembari menghitung bintang di langit sebelum akhirnya jatuh dalam tidur.

Pada sebuah pagi saya mendapati makhluk asing tidur dekat saya. Ia menyerupai saya dengan kesan yang jauh lebih lembut daripada saya. Rambutnya panjang bergelombang menutupi pundak sampai ke punggung; matanya seperti opal dan bibirnya penuh. Sepasang buah menggantung di dadanya, ranum. Saya pikir ia cantik.

Kemudian langit merekah dan semacam pengertian merasuk ke dalam benak saya. Makhluk ini diberi nama perempuan untuk jenisnya, seorang penolong yang sepadan. Tapi kenapa penolong memiliki kesan lemah dan bukannya seperti saya? Penolong macam apa, yang pada segi apa bisa memberikan pertolongan dengan dua buah menggantung di dadanya dan semak-semak di antara selangkangannya? Tuhan tidak menjawab. Ia bungkam.

Setelahnya perempuan itu bergerak dalam tidurnya menuju kesadaran. Matanya terbuka lebar seperti sekian banyak dari yang baru bangun dari penciptaan, terbelalak menatap saya. Lebih banyak bingung dengan segala miliknya sendiri; rambutnya, wajahnya, tubuhnya.

Adalah naluri yang mendorong disertai dengan degupan jantung yang makin mengeras sewaktu tangan-tangan ini menyentuh kulit mulus si perempuan. Tentang mata yang bersirobok satu sama lain, tentang sensasi yang berdenyar mengalir ke seluruh tubuh, tentang sentuhan demi sentuhan.

“Eva,”

Itulah nama si perempuan.
***

          “Permisi.”

          “Ya?”

          “Jalan Antasari.... sebelah mana, ya pak?”

        “Antasari.... dari sini belok ke kanan. Ketemu pertigaan, Masnya belok ke kanan. Lurus terus sampai mentok baru belok kiri. Di sana sudah Antasari.”
  
        “Makasih, Pak.”

          “Ya.. sama-sama.”

          “Mau saya antar, Den? Sepuluh ribu sajalah ke sana.”

          “....”

          “Cukup jauh itu. Atau tujuh ribu saja deh. Gimana, den?”

          “Baiklah.”

          “Ayo naik, Den.”

          “....”

          “Aden baru di sini?”

          “Iya.”

          “Oh, pantas baru lihat. Kerja, den?”

          “Nengok sodara.”

          “Di antasari nomor berapa, Den?”

          “Lima.”

          “Loh! Sodaranya Non Eva?”

          “Iya.”

          “Wah! Berarti gak salah saya. Pantesan sodara. Mirip. Sama-sama kasep.”

          “Bapak kenal Eva?”  

          “Aduh den, siapa yang gak kenal Non Eva. Kota ini kecil, Den. Yang tinggal kalo bukan nini-nini ya budak bengal. Jarang yang sudah remaja masih tinggal. Kebanyakan mah pergi ke kota, kerja. Paling banter ya si Asih, anaknya yang punya warung di deket lampu merah. Terus ya Non Eva.”

          “Oh...”

          “Non Eva baek ya, Den. Udah gitu cantik lagi. Tapi masih aja sendiri ya, Den? Heran, padahal pinter. Terus ramah. Oh iya, Den. Kalau jam segini Non Eva suka gak ada di rumahnya. Aden mau tetep di turunin di rumahnya aja apa gimana?”

          “Memang dia ke mana, pak?”

          “Bebantu warung minum mak Darsih. Nih tinggal belok kanan.”

          “Kalau begitu ke sana aja pak.”

          “Siap, Den. Aden asal mana?”

          “Surga.”

          “Hah? Sebelah mana aya kota namanya surga, Den? Aya-aya wae.”

          “Sebelahnya neraka, Pak.”

          “Hiii... ngeri ah. Ulah kitu, Den. Pamali. Aden ngomongnya serius amat.”

          “Bercanda, Pak.”

          “Haihhhh. Sesenengannya bercandaan. Non Eva juga sering ngomong aneh-aneh kayak Aden. Katanya dia sebelum pindah ke sini tinggalnya di taman.... taman apa itu bapak lupa namanya. Memang di sana asri banget ya den, sampe adanya pohon-pohonan semua? Aya jurigna nteu?”

          “Setan banyak, pak. Gak Cuma di tempat banyak pohon.”

          “Iya den. Di rumah bapak juga katanya ada. Anaknya bapak juga sering di gangguin. Mau tidur aja sampe gak tenang. Nah tapi ini yang aneh. Waktu itu Non Eva dateng ke rumah bapak. Terus dia jalan keliling-keliling sembari ngomong sendiri. Eh, terus besok-besoknya masa rumah kayaknya adem kitu, Den. Asa jurigna tiba-tiba ilang! Bapak sampe heran.”

          “Perasaan bapak aja mungkin?”

          “Eh, enggak Den! Anak bapak juga bilang begitu. Abisan Non Eva dateng ke rumah, udah jarang ada yang gangguin dia. Hebat euy pokoknya Non Eva. Bukan Cuma orang yang tunduk, jurig juga lewat...”

          “.....”

          “Nah, sampe dah. Ini rumah minumnya.”

          “Makasih.”

          “Kembaliannya ini, Den.”

          “Buat Bapak saja.”

          “Aih.... Den! Deeen!”
***

Itu bukan pagi pertama
Sewaktu kita sekali lagi saling sapa
‘Hallo Adam...’
‘Hallo Eva...’
Dan seringai kesenangan muncul begitu saja.

Eva, Eve, perempuan kesayangan
Berjalan dengan dua kaki rampingnya
Melenggang dan menari bersama burung merpati
Berjingkat, menyanyi, lalu lenyap dari pandangan

Sewaktu senja tiba ia kembali lagi dari ujung mata
Dua tangan dibelakang, sembunyikan sesuatu
Wajahnya gelisah dan suaranya berbisik semangat
Katanya, ‘Mari, kita coba sesuatu yang menyenangkan!’
Dua tangan diperlihatkan, ada dua buah pohon pengetahuan!

‘Eva kamu gila! Tuhan nanti marah!’ Kataku
‘Tuhan tak lihat. Ular itu bilang padaku. Tuhan tidak punya mata!’
‘Ini bertentangan dengan kata Tuhan’
‘Ini enak seperti buatan Tuhan. Nanti kita jadi Tuhan. Kita jadi tahu rasa Tuhan.’

‘Ayo coba.’
‘Eva!’
‘Bersama-sama. Satu... dua... ‘

Pengetahuan dikunyah, di telan.
Rasanya basi!
Leher, perut dan kepala seperti meledak
Eva menggerung, menangis, basian di tenggorokan menggumpal
:setelahnya kita baru tahu itulah kesedihan pertama

Dan langit merekah merah; Tuhan murka. 

‘Bukan saya! Perempuan yang Engkau kirim itu yang memberikan buah itu!
‘Saya tidak bersalah.
‘Saya tidak bersalah!
‘SAYA TIDAK BERSALAH!’
‘Ular itu yang membujuk saya! Ular itu jahat!
‘Saya tidak bersalah.
‘Saya tidak bersalah.
‘SAYA TIDAK BERSALAH!’

Mendadak tidak ada lagi Eden.
Setelahnya Cuma padang pasir
;tandus dan kering
Kesedihan makin menggumpal diiringi benci yang ditumpahkan.

Eva tidak lagi ada di sebelah Adam.
***

....
..........
.....................

Setelah itu bagaimana?
Apanya?

Adam dan Hawa?
Mereka bertemu, tentu saja. Di rumah minum itu. Saling bicara.

Apa yang mereka bicarakan?
Masalah mereka selama ini. Masalah komunikasi.

Halah, basi!
Basi?

Ya basi!
Dari mananya basi?

Karena kamu tidak memikirkan hal yang berbeda. Ambil perspektif berbeda! Sudah tahu sampai sejauh mana si Adam itu lalu si Eva itu bagaimana? Kok bisa-bisanya kamu terperangkap romantisme yang sama. LAGI!
Ia memandang lawannya, heran.

Tolol. Begini; Bagaimana jika seandainya tidak pernah ada Adam dan Eva dari semenjak permulaan? Bahwa pada kenyataanya Adam dan Hawa saling membenci?
Seorang terlibat diskusi dengan seorang yang lainnya.

Bagaimana jika Adam ternyata tidak ditakdirkan dengan Hawa?
Seorang yang lainnya itu mendengus.

Ayolah, kita coba berlogika.
Jemarinya mengetuk meja tidak sabaran.

Lalu pada siapa yang ditakdirkan untuk Adam, kalau begitu?
Mungkin Juno, atau Cecilia, atau siapa. Kenapa kita harus terpaku pada dua tokoh yang sudah usang?        
Dua pasang mata mereka saling membelalak.

Please, jangan bercanda.
Please, jangan kuno!  

Esensnya ada di cerita itu sendiri!
Esensnya hilang sudah lama. Nah bukannya kita di sini mau mencari esens itu? Kok hilang fokus?

Ya bukannya hilang fokus atau bagaimana tapi―
Alah sudahlah!

Ya sudah!
Lalu akhirnya?

Adam minta Eva kembali ke Eden. Maksa.
Urusan kelamin lagi....

Urusan pikiran! Bukan kelamin!

Halah sudahlah. Diskusi ini mentok!
Halah sudahlah. Kau memang tidak punya imajinasi!

***
“Adam… Adam…”

“Eva… Eve… Kembali…”

 “Kembali…”

“Adam, saya―”

“KEMBALI!”

DOR!

Teriakan. Banyak teriakan. Meja-meja berderit waktu banyak orang di sana menghambur keluar, berdesak-desakan. Saya dengar mulutnnya memanggil nama saya dalam jerit keputus asaan, tubuh limbung, ada yang panas menghantam hati saya. Darah, darah, darah merembes keluar. Eva menatap moncol pistol keperakan saya dengan ngeri. Lucu. Lucu sekali wajahnya itu. Bikin saya susah menahan senyum.

DOR! DOR! DOR!

Jeritan, jeritan yang lirih. Eva tidak akan pernah bisa pergi lagi. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psalter of Undone Girls

Book I: Of Hunger Psalm I. The Starvation Game She starved at the table of touch. Every smile was rationed. She learned to chew absence, to swallow glances like crumbs. The hunger taught her that even neglect has calories. Psalm II. The Mouth as Wound The mouth opens for speech, but bleeds instead. Desire leaks, iron-tasting. A kiss is just a suture failing. What is voiced is not heard, what is heard is not held. Psalm III. Banquet of Absence We sit around a feast of plates. The cutlery gleams with nothing. We praise the spread of air, raise a toast to lack. Our bellies groan like choirs, our hollow becomes our hymn. Psalm IV. The Body as Empty House Her ribs are doorframes, her lungs the dusty halls. Every step echoes. She lies in bed with drafts for companions, the wallpaper peeling like memory. Hunger is not only of the stomach, but of the rooms no one enters. Psalm V. Communion of Ash They offered her bread that dissolved into soot. They poured her wine that tasted of vinegar and s...

Aku, Cthulhu

Neil Gaiman, 1986, https://www.neilgaiman.com/Cool_Stuff/Short_Stories/I_Cthulhu Ilustrasi Cthulhu oleh Disse86 dari DeviantArt I.   Cthulhu, begitu mereka memanggilku. Cthulhu yang Agung.    Tidak ada seorangpun yang bisa mengeja namaku dengan benar.   Apa kau menulis semua ini? Kata per kata?   Bagus. Harus kumulai dari mana—mm?   Ya sudah, kalau begitu. Dari awal. Tulis apa yang kubilang, Whateley.   Aku dilahirkan ribuan tahun yang lalu, dalam kabut gelap Khaa’yngnaiih (tidak, tentu saja aku tidak tahu bagaimana mengejanya. Tulis saja sesuai bunyinya) dari orang tua mimpi buruk tak bernama, di bawah bulan yang bungkuk. Bukan bulan dari planet ini, tentu saja, aku lahir di bawah bulan sungguhan. Di malam-malam tertentu, bulan itu memenuhi lebih dari separuh langit dan saat bulan tersebut naik, kau bisa menyaksikan darah merah jatuh dan menetesi wajahnya yang bengkak, menodai wajahnya merah, sampai pada titik ketinggian di mana cahayanya menyirami r...

Ragu Menyengat

Kamu tahu, apa yang angin hadirkan padaku malam itu? Ragi, ragu, keringat udara musim penghujan berbau menyengat. Sedikit manis lalu asam membaur di permukaan lidah. Rontok segala yang ada di dada meski jarak tidak seberapa. Ujung-ujungnya aku terengah menjadi gerah dan lelah Gelitik hari itupun runut selantunan kecapi pada telinga ia berbuah rasa hangat yang hanya bertalu-talu di dada bukan tipikal rindu yang mudah dinikmati Kilasan pertemuan, tawa yang menjemukan, cinta yang mengharukan, Tidak pernah sederhana malah menuai petaka Lalu setelah ini apa? "Mari kita menyerah dan tanggalkan  harapan masing-masing sebelum hilang selamanya." 25 Agustus 2013.