Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2013

Ragu Menyengat

Kamu tahu, apa yang angin hadirkan padaku malam itu? Ragi, ragu, keringat udara musim penghujan berbau menyengat. Sedikit manis lalu asam membaur di permukaan lidah. Rontok segala yang ada di dada meski jarak tidak seberapa. Ujung-ujungnya aku terengah menjadi gerah dan lelah Gelitik hari itupun runut selantunan kecapi pada telinga ia berbuah rasa hangat yang hanya bertalu-talu di dada bukan tipikal rindu yang mudah dinikmati Kilasan pertemuan, tawa yang menjemukan, cinta yang mengharukan, Tidak pernah sederhana malah menuai petaka Lalu setelah ini apa? "Mari kita menyerah dan tanggalkan  harapan masing-masing sebelum hilang selamanya." 25 Agustus 2013.

Benih

Siang tidak bolong dan malam belum lagi menebar benih rindu di bawah bantal "Apa yang kamu harapkan?" kamu bilang. Mungkin sepotong subuh yang telah lama mengendap dalam segelas cangkir dan dilupakan orang. "Kuharap aku mengerti apa yang kamu inginkan," kamu bilang. Benih rindu akhirnya ditebar malam Dipaksanya bibirku untuk tersenyum di bawah penerangan lampu temaram. Ah, kupikir Mungkin memang benar :yang saling menyayangi belum tentu saling mengerti.

Retak

Asin itu mengucur perih; lamat dan perlahan, pada muara pergantian. Harapan seperti juga sayang habis digunduli sama sekali. Kita telah lewat pada tahap tertentu sembari mengaku-aku; "Maaf, ini bukan aku," Sentimental dan miris! Batok kepala ini berseru mengenai sesuatu yang kalis Tapi ah, cermin sudah retak, hai aku; rekah dan mengucur darah merah lalu satu-satunya yang tertinggal rindu yang bernanah. 25 Agustus 2013

Tentang Seorang Kamu

KAMU : Kamu, manisan terpahit.  Kamu, membawaku jauh ke balik Neverland. Kamu, matahari di musim gugur. Kamu, detak pada jam di dinding. Kamu. Pemberi kecupan. Kamu. Cangkir yang hampir pekat.   Kamu, obat malarindu. Kamu. Kamu. Kamu. Kamu. Mimpi paling menggelisahkan. Kamu, jatuh yang luluh lantak. Kamu, harapan basah yang digenggam sewaktu tidur. Kamu, sebuah halaman hampir penuh. Kamu, diam yang membeku. Kamu, kenangan yang datang untuk menghilang. Kamu, cerita yang belum dimulai tapi terlanjur selesai.

05/09/2012: VIVA LA VIDA

Ulang tahun dan dapat cerpen sebagai kado. Hhe. Terima kasih, Dika. ----- Ketika seseorang terbangun dengan jendela di dekat ranjangnya menampakkan pepohonan basah dan kabut gelap, sering ia akan memutuskan bahwa kisahnya hari itu akan dimulai dengan bab mendung. Duka. Dan jika ia telah berduka sebelumnya, itu akan menjadi hari yang tepat untuk mengakhiri semuanya. Seorang gadis yang kukenal masih berpakaian pesta ketika bangun dari tidurnya, ada botol penuh kapsul tergenggam di tangan kanan. Seekor kucing tambun berbulu putih bergelung di atas perutnya. Sepasang selop tercecer di bawah ranjangnya. Ia berkedip, tersadar, bangun dan menguap. Memandangi tangan seolah ada hantu bersemayam di tiap sela kukunya. Hujan di luar gerimis, tipis. Dingin. Kucingnya ikut terbangun, mendengkurkan suara manja. Si gadis tersenyum. “Sekarang?” Gadis itu melempar pakaian pestanya ke perapian yang berdesis kuyu, mandi dan mengganti bajunya. Ia beraroma jeruk dari ujung rambut hingga ...