Langsung ke konten utama

05/09/2012: VIVA LA VIDA

Ulang tahun dan dapat cerpen sebagai kado. Hhe. Terima kasih, Dika.

-----

Ketika seseorang terbangun dengan jendela di dekat ranjangnya menampakkan pepohonan basah dan kabut gelap, sering ia akan memutuskan bahwa kisahnya hari itu akan dimulai dengan bab mendung. Duka. Dan jika ia telah berduka sebelumnya, itu akan menjadi hari yang tepat untuk mengakhiri semuanya.

Seorang gadis yang kukenal masih berpakaian pesta ketika bangun dari tidurnya, ada botol penuh kapsul tergenggam di tangan kanan. Seekor kucing tambun berbulu putih bergelung di atas perutnya. Sepasang selop tercecer di bawah ranjangnya. Ia berkedip, tersadar, bangun dan menguap. Memandangi tangan seolah ada hantu bersemayam di tiap sela kukunya.

Hujan di luar gerimis, tipis. Dingin. Kucingnya ikut terbangun, mendengkurkan suara manja. Si gadis tersenyum. “Sekarang?”

Gadis itu melempar pakaian pestanya ke perapian yang berdesis kuyu, mandi dan mengganti bajunya. Ia beraroma jeruk dari ujung rambut hingga tumit dan ia bahkan menyemprotkan wewangian serupa ke kucingnya—yang bersin namun tak melawan hingga dipakaikan jas hujan serta dinaikkan ke keranjang sepeda. Pagi itu tak ada matahari, dan jalanan begitu basah dan licin dan sejuk sekaligus gelap meski tak lengang karena banyak anak-anak bermain kelereng di atas lumpur tepian jalan. Mereka bersorak dan tertawa kala roda sepeda mencipratkan lumpur ke wajah-wajah mereka yang tembam, sementara para ibu berteriak mengancam dari dalam rumah sambil mengacungkan adukan telur, atau penggiling adonan.

Seolah bingkai, jalan itu diapit pertokoan yang baru dibuka oleh para pemilik yang mengantuk. Gadis yang kukenal itu pergi ke tempat pelukis kertas dinding, menawar satu yang terbuat dari kertas-plastik khusus dan takkan berlumut. Dipilihnya warna yang paling cerah. Corak paling meriah. Matahari jingga, kemauannya. Pilihan yang menurut sang pelukis sendiri tidak buruk.

"Semakin cerah semakin baik!" kata gadis itu, suaranya nyaring dan tinggi, melengking.

Sang pelukis tergelitik; ada kunang-kunang teperangkap di mata gadis itu. Sebagaimana seniman biasanya, ia percaya pada hal-hal nujum. “Apa Nona lahir di Bulan Agustus?”

"September." jawab gadis itu pasti, menggendong kucingnya yang mulai mengendus kaleng-kaleng lem dengan tertarik. "Lima September."

Pelukis diam, mengira nujumnya salah. Gadis Musim Gugur tidak pernah ceria. Namun ketika gadis itu membungkuk santun, berbalik, dan mengapit gulungan kertas dinding di tangannya, ia kembali yakin. Ada sesuatu yang terasa berbeda dari warna emas rambutnya, atau putih kulitnya, atau riang langkahnya. Dan dengan suara terakhir lonceng pintu, ia pergi.

Suara roda sepeda membelah jalanan basah di tempat itu, sementara kebanyakan orang akan memilih berteduh di kanopi-kanopi halte. Gadis itu santai saja memegang setang dengan satu tangan, satu tangannya yang lain memegang payung yang menaungi tubuhnya seraya sesekali memutar-mutarnya hingga percik air menari di jalan yang ia lewati. Ia tersenyum pada setiap orang yang dilihatnya; pengemis, laki-laki yang berangkat kerja, nenek-nenek yang dipegangi cucunya, anjing yang bertikai dengan kucing di atas pohon…

"Pagi."
"Pagi. Hari baik!"
"Hari hujan. Ramalan tidak mengatakan apapun soal ini."
"Ah, tetap ini hari yang baik. Mau berkunjung ke rumahku?"
"Bolehkah?"
"Ya, aku memanggang kue hari ini. Maka aku membutuhkan tepung, gula, batang cokelat, buah…"

Kucing itu berbagi keranjang dengan tas berisi buah, tepung, cokelat, sirup, dan beragam pernak-pernik. Hewan itu terlihat lucu terjepit di sana, mengeong pelan, menatap majikannya yang masih tersenyum pada setiap orang dan menyapa, mengundang siapapun untuk berpesta di rumahnya. Dan ketika hewan itu akhirnya diturunkan, majikan itu sibuk mengoles lem di dinding dan merekatkan kertas hias di dinding yang tadinya kelabu. Ia menggelar karpet Turki. Ia mencampur tepung dan buah-buahan dan membuat rumah itu wangi ketika roti dikeluarkan dari dalam pemanggang. Madu dan sirup dingin, tempat itu tak lagi bernuansa muram hujan.

Ketika tamu pertama memencet bel pintu, ia diminta masuk dengan membuka pintu sendiri dan seketika hujan kertas warna dan permen mengenai kepalanya.

"KENA!" gadis itu tertawa.

Kemudian tamu yang lain, dan yang lain, datang. Mereka memenuhi ruang tengah, makan, bercakap, bergosip, tertawa bersama, lupa mengenai hujan di luar. Semua setuju bahwa gadis itu begitu tahu apa yang harus dilakukan untuk bersenang-senang. Sehari terasa seolah satu jam hanya dengan berada di dekatnya. Ketika mereka akhirnya lelah, dengan perut kenyang, dan perasaan riang, mereka mohon diri dan membuka payung-payung mereka yang berwarna-warni, seperti permen.

Gadis itu melambai melepas kepergian mereka di pintu, mukanya penuh coretan tinta hukuman permainan dan membatin—hujan belum juga berhenti semenjak pagi.

"Nah…"

Gadis itu berbalik, melihat kerusuhan di rumahnya. Mengangkat bahu, mengambil sapu, mulai bebersih. Mengembalikan pajangan kelinci porselin kembali ke tempatnya, menggulung karpet, mencuci muka dengan sabun beraroma jeruk. Gadis yang kukenal itu melakukan semuanya dengan riang—ia bahkan menyanyikan lagu yang sedang populer keras-keras dengan pendengar kucingnya seorang—dari pagi hingga malam, ia, bintang yang tak akan pernah redup.

Barangkali.

Barangkali jika aku tidak memerhatikan, aku tidak akan tahu. Tentang ia yang selalu kembali ke kamarnya dengan pakaian pesta dan menghadap ke nakas di dekat ranjangnya. Di sana ia kembali menimang botol berisi kapsul, dan duduk, memandang ke arah jendela. Seolah menghitung tetes hujan yang turun membasahi bunga-bunga hortensia yang keunguan. Langit yang tak berbintang, tak berbulan. Tubuhnya basah oleh keringat, asin. Matanya ikut membasah, pelan-pelan.

Malamnya terlalu sepi.

"….." ia menggigit bibirnya kuat-kuat. Menahan sebisa-bisanya. Gadis kuat, ia, dan tak akan menangisi sesuatu yang sudah dibuangnya. Kucing putihnya yang tambun menyuruk kakinya, menyapui tumitnya dengan ujung ekor. Gadis yang kukenal itu tersenyum dan menggendong si kucing ke pangkuannya. "Sekarang?" tanyanya.

Ia minum beberapa kapsul. Merebahkan diri di ranjangnya yang pasti dibeli dengan pertimbangan dua orang. Lamat ia lelap, kala langit-langit yang berwarna gelap itu mulai berbayang. Lumut yang tumbuh tercetak di sana membentuk pola-pola yang membuat imajinasinya bermain; tangan, sayap, peta negeri yang sangat jauh, kepala biola, awan gemuk, bunga cattleya, kura-kura…

…ia lelap. Lelap untuk mengulang kegiatan yang sama di esok hari, karena hujan di sana hanya berhenti ketika ia tidur. Selebihnya, langit lah yang menggantikannya menangis. Keras dan sedih.

Setiap, tiap, harinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psalter of Undone Girls

Book I: Of Hunger Psalm I. The Starvation Game She starved at the table of touch. Every smile was rationed. She learned to chew absence, to swallow glances like crumbs. The hunger taught her that even neglect has calories. Psalm II. The Mouth as Wound The mouth opens for speech, but bleeds instead. Desire leaks, iron-tasting. A kiss is just a suture failing. What is voiced is not heard, what is heard is not held. Psalm III. Banquet of Absence We sit around a feast of plates. The cutlery gleams with nothing. We praise the spread of air, raise a toast to lack. Our bellies groan like choirs, our hollow becomes our hymn. Psalm IV. The Body as Empty House Her ribs are doorframes, her lungs the dusty halls. Every step echoes. She lies in bed with drafts for companions, the wallpaper peeling like memory. Hunger is not only of the stomach, but of the rooms no one enters. Psalm V. Communion of Ash They offered her bread that dissolved into soot. They poured her wine that tasted of vinegar and s...

Aku, Cthulhu

Neil Gaiman, 1986, https://www.neilgaiman.com/Cool_Stuff/Short_Stories/I_Cthulhu Ilustrasi Cthulhu oleh Disse86 dari DeviantArt I.   Cthulhu, begitu mereka memanggilku. Cthulhu yang Agung.    Tidak ada seorangpun yang bisa mengeja namaku dengan benar.   Apa kau menulis semua ini? Kata per kata?   Bagus. Harus kumulai dari mana—mm?   Ya sudah, kalau begitu. Dari awal. Tulis apa yang kubilang, Whateley.   Aku dilahirkan ribuan tahun yang lalu, dalam kabut gelap Khaa’yngnaiih (tidak, tentu saja aku tidak tahu bagaimana mengejanya. Tulis saja sesuai bunyinya) dari orang tua mimpi buruk tak bernama, di bawah bulan yang bungkuk. Bukan bulan dari planet ini, tentu saja, aku lahir di bawah bulan sungguhan. Di malam-malam tertentu, bulan itu memenuhi lebih dari separuh langit dan saat bulan tersebut naik, kau bisa menyaksikan darah merah jatuh dan menetesi wajahnya yang bengkak, menodai wajahnya merah, sampai pada titik ketinggian di mana cahayanya menyirami r...

Ragu Menyengat

Kamu tahu, apa yang angin hadirkan padaku malam itu? Ragi, ragu, keringat udara musim penghujan berbau menyengat. Sedikit manis lalu asam membaur di permukaan lidah. Rontok segala yang ada di dada meski jarak tidak seberapa. Ujung-ujungnya aku terengah menjadi gerah dan lelah Gelitik hari itupun runut selantunan kecapi pada telinga ia berbuah rasa hangat yang hanya bertalu-talu di dada bukan tipikal rindu yang mudah dinikmati Kilasan pertemuan, tawa yang menjemukan, cinta yang mengharukan, Tidak pernah sederhana malah menuai petaka Lalu setelah ini apa? "Mari kita menyerah dan tanggalkan  harapan masing-masing sebelum hilang selamanya." 25 Agustus 2013.