Langsung ke konten utama

Tentang Sementara


Puncaknya barangkali adalah kebosanan.

Sedang mengenai alasan-alasan yang mendorong perasaanmu sampai ke titik tersebut bukannya berarti lebih dari sekadar iri hati dan dengki. Sekejut saja, kecil saja; bersumber pada ketidaksukaanmu terhadap caranya menyebut nama perempuan lain itu, caranya bercerita mengenai dahulu mereka yang tidak pernah ada kamunya lalu selintas gambaran rupa perempuan yang sama; yang selalu ia pasang di penampang tampilan ponselnya. Tapi yang kecil-kecil itu saja sudah cukup―menumpuk, tumpang tindih. Lalu tiba-tiba saja kau merasa muak kemudian jenuh. 

Lucunya, kau sempat merasa bisa menipunya. Sindiran yang terlalu tepat mengenai kebodohan lelaki itu memang samar. Ibarat panah beracun, barangkali yang jenisnya cuma terasa perih di kulit ari sebelum akhirnya menyebar ke seluruh pembuluh darah; membunuh. Hanya saja, apalah arti kalimat yang kau ucapkan sewaktu dulu kalian bertemu dan menemukan banyak persamaan-persamaan bodoh itu? Tentang sebenarnya kalian adalah satu jiwa yang dibelah oleh kenamaan bernama takdir? 

Ia toh sudah merasa aneh, kemungkinan besar jengah ketika lagi-lagi kau melempar pandang pada sekelebatan pepohonan yang berarak di kanan-kiri taksi yang melaju kencang sepanjang belasan kilometer tersebut. Maka sudah sepantasnya kau tidak bisa marah. Katamu pada diri sendiri; siapa kamu? Apa hakmu? Bukankah kalian cuma disatukan oleh sebuah okasi acak―sebuah permainan dadu takdir yang penuh dengan ilmu reka-mereka? 

"Kau baik?" ia memulai, jemarinya yang kokoh menelusup ke sela-sela jemarimu. 

"Baik," Kau tersenyum. 

"Cuma berniat diam sepanjang jalanan saja?"

"Karena lebih menyenangkan cuma bengong-bengong memandangi jalanan begini."

"Daripada harus bicara denganku?"

Jantungmu mencelos. “Tidak juga,” tukasmu, menolak untuk berpandangan. ”Mungkin.” 

"Jadi sebenarnya kau tidak baik." 

"Aku baik."

"Jangan bohong."

"Sungguhan."

"Lalu?"

Adalah jeda yang menelusup kemudian, membuat lidahmu kelu. Spontanitas yang membuatmu menatap matanya lurus-lurus sepenuhnya merupakan kebodohan. Karena akhirnya jantungmu terasa nyeri, karena akhirnya kau berhenti lalu tersesat seperti orang idiot.

"Bukan apa-apa," putusmu kemudian. 

Lelaki itu mendekatkan wajahnya kepadamu dan begitulah sapuan napasnya terasa begitu dekat. “Lantas?”

"Ya begitu saja." 

Ia menghela napas, membuang pandangan. Tapi tangannya tetap berada di sela jemarimu, malahan semakin erat. “Permainan tebak-tebakan ini menyebalkan.”

"Aku tahu."

"Harusnya kau bilang saja kalau aku berbuat salah padamu."

Kaupun terdiam. 

"Kenapa diam lagi?" ujarnya berbisik, frustasi. "Kau marah?"

"Kenapa harus marah tanpa alasan?"

"Kau marah. Sudah jelas." 

"Itu asumsimu."

"Oh, ayolah…"

Kau menghela napas. “Gak. Oke, lupakan. Sudahlah. Gak penting. Masalah bulanan mungkin. Hormon gak seimbang. There, itu alasannya.” 

"Yang benar saja…" 

"Benar. Sungguh." 

Lelaki itu kembali menatap matamu. Lurus saja, seperti mencari setitik belangga di nila. Sementara kau teguh dengan pendirianmu, benakmu hitam ditutupi jelaga iri dengki dan kecemburuan yang jelas. Lantas ia mulai mendekatkan kembali wajahnya dan bibirnya mulai melumat bibirmu. Pelan, basah, penuh penekanan seolah frustasi. Dan begitu sajalah berlalunya sentuhan yang membuatmu merasa utuh kembali. 

Ia diam, kau diam. Pada akhirnya kalian sama-sama saling menyerah kalah; masing-masing saling mengecup pipi dan bersenderan satu sama lain. Sementara saja begini. Sementara yang lain, karena sejelasnya esok, hal ini menjadi sama tidak berartinya dengan asap yang memudar. 

Selalu begitu.












16 Desember 2012

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psalter of Undone Girls

Book I: Of Hunger Psalm I. The Starvation Game She starved at the table of touch. Every smile was rationed. She learned to chew absence, to swallow glances like crumbs. The hunger taught her that even neglect has calories. Psalm II. The Mouth as Wound The mouth opens for speech, but bleeds instead. Desire leaks, iron-tasting. A kiss is just a suture failing. What is voiced is not heard, what is heard is not held. Psalm III. Banquet of Absence We sit around a feast of plates. The cutlery gleams with nothing. We praise the spread of air, raise a toast to lack. Our bellies groan like choirs, our hollow becomes our hymn. Psalm IV. The Body as Empty House Her ribs are doorframes, her lungs the dusty halls. Every step echoes. She lies in bed with drafts for companions, the wallpaper peeling like memory. Hunger is not only of the stomach, but of the rooms no one enters. Psalm V. Communion of Ash They offered her bread that dissolved into soot. They poured her wine that tasted of vinegar and s...

Aku, Cthulhu

Neil Gaiman, 1986, https://www.neilgaiman.com/Cool_Stuff/Short_Stories/I_Cthulhu Ilustrasi Cthulhu oleh Disse86 dari DeviantArt I.   Cthulhu, begitu mereka memanggilku. Cthulhu yang Agung.    Tidak ada seorangpun yang bisa mengeja namaku dengan benar.   Apa kau menulis semua ini? Kata per kata?   Bagus. Harus kumulai dari mana—mm?   Ya sudah, kalau begitu. Dari awal. Tulis apa yang kubilang, Whateley.   Aku dilahirkan ribuan tahun yang lalu, dalam kabut gelap Khaa’yngnaiih (tidak, tentu saja aku tidak tahu bagaimana mengejanya. Tulis saja sesuai bunyinya) dari orang tua mimpi buruk tak bernama, di bawah bulan yang bungkuk. Bukan bulan dari planet ini, tentu saja, aku lahir di bawah bulan sungguhan. Di malam-malam tertentu, bulan itu memenuhi lebih dari separuh langit dan saat bulan tersebut naik, kau bisa menyaksikan darah merah jatuh dan menetesi wajahnya yang bengkak, menodai wajahnya merah, sampai pada titik ketinggian di mana cahayanya menyirami r...

Ragu Menyengat

Kamu tahu, apa yang angin hadirkan padaku malam itu? Ragi, ragu, keringat udara musim penghujan berbau menyengat. Sedikit manis lalu asam membaur di permukaan lidah. Rontok segala yang ada di dada meski jarak tidak seberapa. Ujung-ujungnya aku terengah menjadi gerah dan lelah Gelitik hari itupun runut selantunan kecapi pada telinga ia berbuah rasa hangat yang hanya bertalu-talu di dada bukan tipikal rindu yang mudah dinikmati Kilasan pertemuan, tawa yang menjemukan, cinta yang mengharukan, Tidak pernah sederhana malah menuai petaka Lalu setelah ini apa? "Mari kita menyerah dan tanggalkan  harapan masing-masing sebelum hilang selamanya." 25 Agustus 2013.