Lalu menyerah adalah keputusan
yang paling mudah diambil.
Tidak
ada dari kita yang mau mengatakannya. Kita Cuma memilih untuk menjalaninya
masing-masing sebagai bentuk dari keseharian biasa. Hal-hal sederhana dipandang
sebelah mata. Bukan berarti tanpa alasan. Kita paham betul bahwa masalah
sebenarnya bukanlah siapa yang paling kuat yang akan bertahan nantinya. Ini Cuma
perkara siapa yang akan meninggalkan siapa duluan. Dan kesederhanaan mendadak
malah membuat semuanya menjadi terlalu sentimental.
Awalnya
selalu bersumber dari prasangka. Lalu tiba-tiba ia berubah menjadi awang yang
menjalar seperti tanaman rambat; liar. Di sini memori tidak lebih berarti dibandingkan
debu tebal diantara buku-buku usang. Maka diam adalah pilihan kita berdua. Maka
diam, adalah cara paling mudah untuk mengabaikan segala jenis kesimpulan yang
sudah mengakar dalam benak masing-masing.
Setelahnya apa?
Kita beranjak. Kita selalu beranjak. Hanya saja bersamaan
dengan kesadaran itu, kita pecah menjadi dua bagian. Kita menjadi saya, lalu kamu.
Kemudian Kita, tenggelam entah ke mana.
Komentar
Posting Komentar