Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2017

Ajal

Tanpa perundingan apa-apa kamu ungkap sebuah kebutuhan yang mengada-ada  dan sia-sia. Di ujung kerongkongan, air mata berubah  sesuatu yang  pejal. Setelahnya,  rindumu hanya tinggal menunggu ajal. 

Ziarah

Yang merembes dari kepalanya adalah suara, kata, dan cerita. *** Pagi itu, ia menjadi seorang perempuan berusia dua puluh dua: Ningsih yang lugu, norak, ceria nan baik hati. Terlahir sederhana, Ningsih tumbuh tanpa memiliki prasangka berlebihan terhadap sekelilingnya. Asalnya dari Klaten dan ia hanya hidup berdua dengan bibinya. Ibu dan ayahnya telah lama meninggal dunia. Menurut cerita bibi, yang pertama meninggal adalah ibu akibat tertabrak mobil. Tak lama kemudian ayah menyusul karena terkena serangan jantung setelah mendengar kabar ibu tertabrak mobil. Menjelang umur dua puluh tiga, Ningsih bertemu seorang lelaki baik dari kota. Gigih, namanya. Tanpa pacaran lama-lama, keduanya memutuskan untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius. Karena itulah, Gigih harus kembali ke rumahnya di kota untuk mempersiapkan hari bahagia mereka. “Kita menikah yang sederhana saja. Tidak perlu mahal-mahal supaya bisa membuka usaha di kota,” begitu kata Gigih sebel...

Aru Termangu

Aru termangu, benaknya mengembara. Pada perlehatannya yang biasa, pada kisi-kisi jendela berwarna kelabu sebuah kamar bercat kusam dengan luas sekian kali sekian meter ditempeli poster band-band lama, pemuda itu menatap ke luar. Ada banyak puncak-puncak gedung pencakar langit di luar sana, berkelindan dengan jalan yang di padati kendaraan bermotor dilatarbelakangi sapuan tipis awan pada langit biru abu-abu. Ia berpendapat ada banyak hal yang lebih menarik melebihi tugas sepele seperti membuat karangan mengenai perbedaan kebudayaan negara Indonesia dan Australia   (“Lima paragraf. Panjangnya terserah, tapi harus ada perkenalan; harus ada permasalahan yang mau dibahas. Opini sendiri, lalu penutup,” ―repot!), atau mengetik sekian ribu sekian ratus kata hanya untuk mengulas diskriminasi minoritas ras terhadap mayoritas ras biasa yang makin menggila belakangan ini (Aru berusaha netral. Tapi susah). Atau setidaknya mengabarkan pada ibunya yang berada jauh di pinggiran kota Ja...