Yang merembes dari kepalanya adalah suara, kata, dan cerita. *** Pagi itu, ia menjadi seorang perempuan berusia dua puluh dua: Ningsih yang lugu, norak, ceria nan baik hati. Terlahir sederhana, Ningsih tumbuh tanpa memiliki prasangka berlebihan terhadap sekelilingnya. Asalnya dari Klaten dan ia hanya hidup berdua dengan bibinya. Ibu dan ayahnya telah lama meninggal dunia. Menurut cerita bibi, yang pertama meninggal adalah ibu akibat tertabrak mobil. Tak lama kemudian ayah menyusul karena terkena serangan jantung setelah mendengar kabar ibu tertabrak mobil. Menjelang umur dua puluh tiga, Ningsih bertemu seorang lelaki baik dari kota. Gigih, namanya. Tanpa pacaran lama-lama, keduanya memutuskan untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius. Karena itulah, Gigih harus kembali ke rumahnya di kota untuk mempersiapkan hari bahagia mereka. “Kita menikah yang sederhana saja. Tidak perlu mahal-mahal supaya bisa membuka usaha di kota,” begitu kata Gigih sebel...