Langsung ke konten utama

Aru Termangu

Aru termangu, benaknya mengembara.
Pada perlehatannya yang biasa, pada kisi-kisi jendela berwarna kelabu sebuah kamar bercat kusam dengan luas sekian kali sekian meter ditempeli poster band-band lama, pemuda itu menatap ke luar. Ada banyak puncak-puncak gedung pencakar langit di luar sana, berkelindan dengan jalan yang di padati kendaraan bermotor dilatarbelakangi sapuan tipis awan pada langit biru abu-abu.

Ia berpendapat ada banyak hal yang lebih menarik melebihi tugas sepele seperti membuat karangan mengenai perbedaan kebudayaan negara Indonesia dan Australia (“Lima paragraf. Panjangnya terserah, tapi harus ada perkenalan; harus ada permasalahan yang mau dibahas. Opini sendiri, lalu penutup,”―repot!), atau mengetik sekian ribu sekian ratus kata hanya untuk mengulas diskriminasi minoritas ras terhadap mayoritas ras biasa yang makin menggila belakangan ini (Aru berusaha netral. Tapi susah). Atau setidaknya mengabarkan pada ibunya yang berada jauh di pinggiran kota Jakarta bahwa sisa uang di rekeningnya cuma bisa dipakai membeli dua buah es potong.  

Yang menarik itu seperti misalnya saja, kenapa jam kantor yang biasa habis pada pukul lima sore dan mengapa kebanyakan orang lebih memilih terjebak pulang pada pukul lima, saling libas jalan raya sana sini sementara mereka sebenarnya bisa berhenti; pulang bukan pada pukul lima lalu melakukan sesuatu semenyenangkan melempar cat pada tembok. (Nah, ya! Misteri!).

Aru terus termangu, benaknya mengembara.
Biasanya ada Gita yang mengetuk pintu kamar kosnya di jam-jam begini. Hanya keberadaan Gita, si gadis tetangga merangkap teman semasa kecilnya―yang juga merupakan teman satu jurusannya―selama inilah yang jadi penghalang bagi perkembangan imajinasi Aru.
Gadis dengan lesung pipi khas yang biasa muncul waktu menertawakan karya-karya Pablo Picasso itu punya segudang masalah. Pacarnya, ibunya, kado peringatan sekian bulan pacaran, nilai C-nya untuk mata kuliah pengembangan diri, ibunya lagi, pacar baru pamannya, dan segudang lainnya. Hanya (masalah-masalah) Gita yang bisa membuat Aru mengendalikan dirinya, ubah peran jadi pendengar yang baik dan bukannya seorang sinting macam Elisa di Negri Ajaib. Hanya (masalah-masalah) Gita yang bisa membuat Aru sadar dari mimpi di siang bolongnya. 
Hanya (masalah-masalah) Gita dan tamparan super kerasnya.

Tapi sekarang tidak ada Gita.
Cuma ada Aru; termangu, benaknya mengembara.
Bukan sekali dalam minggu itu, minggu di mana Gita bertolak dari kosannya yang terletak persis di sebrang kosan Aru menuju rumahnya di Bekasi, Aru membiarkan pikirannya hilang; tugasnya terbengkalai, napsu makannya dimatikan, birahinya dibuang bersamaan dengan hembusan buang asap rokok.
Aru termangu, benaknya mengembara.
Tapi itu bukannya tanpa hasil, kau tahu. Karena kalau ada salah seorang dari temannya membuka pintu dan merangkul bahunya, Aru akan menjawab bahwa dia seperti menemukan suara Tuhan waktu tadi ia pulang. Matanya bakal menyipit dan suaranya mendesis ketika menjawab.
Atau mungkin bukan jawaban itu yang bakal kau dengar kalau orangnya berbeda. Misalkan saja ibu kosnya datang mengetuk, kebetulan membuka pintu waktu tanpa sengaja memutar pegangan pintu dan bertanya apa yang tengah pemuda itu lakukan di sana. Mungkin Aru bakal menjawab bahwa ia tengah gundah memikirkan akan makan apa nanti malam. Sepele saja.
Tapi waktu itu tidak ada temannya; tidak ada ibu kosnya yang datang tiba-tiba.
Cuma ada Aru; termangu, tangannya menjentik pematik dengan intens, benaknya mengembara.
Kesediaannya dalam melenyapkan kesadaran seperti sekarang ini bukannya tanpa bayaran mahal. Terkadang malah melebihi kapasitas yang bisa dibayar Aru. Bahkan Risti, kekasih Aru, muak dengan dirinya dan memutuskan untuk tidak terlibat lebih jauh dengan pembicaraan tanpa kejelasan saat berdua saja dengan pemuda itu.
Risti bukan orang yang mau ambil pusing memikirkan kenapa manusia diluar sana sampai mau bersetubuh dengan rutinitas kerja dari jam delapan pagi sampai lima sore, seperti Aru. Menyenangkan Risti cukup mudah. Ajak saja dia pergi makan sate padang di depan kampus, melipir sebentar ke mall, temani melihat-lihat baju (yang tidak bisa ia beli karena terlalu mahal) lalu setelahnya beri beberapa ciuman di bibir serta leher.
Meski pacar, Risti bukan orang yang tepat untuk untuk membicarakan hal-hal yang mengusik pikiran Aru. Risti kapok. Pernah sekali ia terjebak pada perdebatan sengit mengenai salah satu teori yang berujung dengan Aru menguraikan pertanyaan-pertanyaan aneh semacam, “Kalau benar adalah absolut, mengapa perjalanan mencari arti benar itu sangatlah sulit?”
Risti malas menjawab. Perempuan itu tahu betul kalau Aru tidak butuh jawaban. Sering kali Risti berpendapat ia salah langkah. Mengapa sampai ia bisa-bisanya mendekati lelaki tidak berguna kebanyakan mikir ini alih-alih Tommy yang jelas berkecukupan dan sederhana? Kenapa ia harus jatuh hati pada pria yang selalu menanyakan hal-hal aneh yang seolah mengolok-olok kecerdasannya?
Sayangnya Risti tidak mengerti dan ia tidak berada di samping Aru, saat itu.
Cuma ada Aru; termangu, rokoknya menggantung seperti tidak bernyawa di bibir, benaknya masih mengembara.
Di bodohi waktu. Di tipu fantasinya yang seolah-olah menjelma nyata.
Sekarang pada langit biru abu-abu yang ditekuninya dari tadi, Aru bisa melihat visi lain. Sebuah visi abstrak yang menari-nari, fragmen ambigu yang membisikkan sejumlah makian dalam nada-nada terindah. Ia seolah merasa mengambang di udara. Pemuda itu mendapati rasa senang membuncah-buncah dalam dadanya secara tiba-tiba.

Aru tersenyum, mengusap abu rokok dari bibirnya asal-asalan. Tapi akal sehatnya belum sepenuhnya kembali. Aru tidak tahu, tidak menyadari apa itu sebenarnya yang tengah menyedot perhatiannya.  

Tentu saja! 

Bagaimana mungkin makhluk yang terjebak antara keberadaan dan ketiadaan itu memiliki bentuk yang pasti? Bagaimana bisa pula Aru mengetahui mengapa sesekali bayangan ambigu itu lebih terlihat seperti wajah; memiliki gigi tapi tanpa mata, terkadang memiliki mata semerah darah tapi tanpa mulut, daripada seperti bayangan kabur pucuk kota Jakarta yang ditelan senja? Bagaimana ia tahu mengenai kenyataan bahwa kesadarannya, kewarasannya, perlahan lenyap ditelan makhluk tersebut?

Tentu saja Aru tidak tahu.
Aru hanya termangu, benaknya mengembara. Kali ini, ia sudah memutuskan cara paling tepat untuk meregang nyawa.

4 Maret 2012

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psalter of Undone Girls

Book I: Of Hunger Psalm I. The Starvation Game She starved at the table of touch. Every smile was rationed. She learned to chew absence, to swallow glances like crumbs. The hunger taught her that even neglect has calories. Psalm II. The Mouth as Wound The mouth opens for speech, but bleeds instead. Desire leaks, iron-tasting. A kiss is just a suture failing. What is voiced is not heard, what is heard is not held. Psalm III. Banquet of Absence We sit around a feast of plates. The cutlery gleams with nothing. We praise the spread of air, raise a toast to lack. Our bellies groan like choirs, our hollow becomes our hymn. Psalm IV. The Body as Empty House Her ribs are doorframes, her lungs the dusty halls. Every step echoes. She lies in bed with drafts for companions, the wallpaper peeling like memory. Hunger is not only of the stomach, but of the rooms no one enters. Psalm V. Communion of Ash They offered her bread that dissolved into soot. They poured her wine that tasted of vinegar and s...

Aku, Cthulhu

Neil Gaiman, 1986, https://www.neilgaiman.com/Cool_Stuff/Short_Stories/I_Cthulhu Ilustrasi Cthulhu oleh Disse86 dari DeviantArt I.   Cthulhu, begitu mereka memanggilku. Cthulhu yang Agung.    Tidak ada seorangpun yang bisa mengeja namaku dengan benar.   Apa kau menulis semua ini? Kata per kata?   Bagus. Harus kumulai dari mana—mm?   Ya sudah, kalau begitu. Dari awal. Tulis apa yang kubilang, Whateley.   Aku dilahirkan ribuan tahun yang lalu, dalam kabut gelap Khaa’yngnaiih (tidak, tentu saja aku tidak tahu bagaimana mengejanya. Tulis saja sesuai bunyinya) dari orang tua mimpi buruk tak bernama, di bawah bulan yang bungkuk. Bukan bulan dari planet ini, tentu saja, aku lahir di bawah bulan sungguhan. Di malam-malam tertentu, bulan itu memenuhi lebih dari separuh langit dan saat bulan tersebut naik, kau bisa menyaksikan darah merah jatuh dan menetesi wajahnya yang bengkak, menodai wajahnya merah, sampai pada titik ketinggian di mana cahayanya menyirami r...

Ragu Menyengat

Kamu tahu, apa yang angin hadirkan padaku malam itu? Ragi, ragu, keringat udara musim penghujan berbau menyengat. Sedikit manis lalu asam membaur di permukaan lidah. Rontok segala yang ada di dada meski jarak tidak seberapa. Ujung-ujungnya aku terengah menjadi gerah dan lelah Gelitik hari itupun runut selantunan kecapi pada telinga ia berbuah rasa hangat yang hanya bertalu-talu di dada bukan tipikal rindu yang mudah dinikmati Kilasan pertemuan, tawa yang menjemukan, cinta yang mengharukan, Tidak pernah sederhana malah menuai petaka Lalu setelah ini apa? "Mari kita menyerah dan tanggalkan  harapan masing-masing sebelum hilang selamanya." 25 Agustus 2013.