Yang merembes dari
kepalanya adalah suara, kata, dan cerita.
***
Pagi itu, ia menjadi seorang perempuan berusia dua puluh dua:
Ningsih yang lugu, norak, ceria nan baik hati. Terlahir sederhana, Ningsih
tumbuh tanpa memiliki prasangka berlebihan terhadap sekelilingnya.
Asalnya dari Klaten dan ia hanya hidup berdua
dengan bibinya. Ibu dan ayahnya telah lama meninggal dunia. Menurut cerita
bibi, yang pertama meninggal adalah ibu akibat tertabrak mobil. Tak lama
kemudian ayah menyusul karena terkena serangan jantung setelah mendengar kabar
ibu tertabrak mobil.
Menjelang umur dua puluh tiga, Ningsih bertemu seorang
lelaki baik dari kota. Gigih, namanya. Tanpa pacaran lama-lama, keduanya
memutuskan untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius. Karena
itulah, Gigih harus kembali ke rumahnya di kota untuk mempersiapkan hari
bahagia mereka.
“Kita menikah yang sederhana saja. Tidak perlu mahal-mahal
supaya bisa membuka usaha di kota,” begitu kata Gigih sebelum pergi ke kota.
Beberapa pekan sebelum pernikahannya dengan Gigih, Ningsih
pergi ke kota untuk bertemu dengan keluarga calon suaminya. Alangkah syoknya
Ningsih, alih-alih mempersiapkan pesta pernikahan, gadis itu malah harus
membantu mengurus pemakaman Gigih. Calon suaminya meninggal karena kelelahan.
Demi mendapatkan biaya yang pantas untuk meminang Ningsih, Gigih
mengambil banyak pekerjaan. Pusing karena bayaran yang mengucur lamban, Gigih
dirundung stress berkepanjangan sehingga setelah pulang bekerja dan dalam
keadaan letih, calon suaminya itu sulit tidur. Suatu waktu, Gigih terjatuh dan
calon suami Ningsih tersebut tidak bangun kembali.
Ningsih yang merana memutuskan untuk membantu mengurus
pemakaman. Perasaannya sedih, tentu. Namun seiring dengan perasaan sesak di
dadanya, diam-diam ia merasa lega. Ia tidak harus membuang masa mudanya
mengurus anak dan usaha yang belum tentu menghasilkan apa-apa, begitu pikirnya.
Tapi apa yang harus dilakukannya sekarang? Pulang ke Klaten dan mengatakan jika
calon suaminya mati tiba-tiba karena mengumpulkan biaya pernikahan?
Tidak, pikir Ningsih.
Tidak sanggup ia menanggung gunjingan para tetangga yang
semula berpikir jika ia berhasil memikat seorang pria kota yang baik dan cukup
kaya. Maka Ningsih memutuskan untuk tinggal di kota dan bekerja sedemikian
rupa. Siapa tahu nasib baik berpihak padanya dan ia mampu mengejar mimpi lama
yang dikubur dalam-dalam; menjadi berkecukupan, mandiri, dan bisa membahagiakan
bibi semata wayangnya.
***
Siang itu, ia menjadi seorang pria berusia dua puluh sembilan:
Reza yang tampan, baik hatinya, sopan santunnya, tapi didera kegundahan yang
berkepanjangan. Terlahir berkecukupan, cenderung kaya raya, Reza yang baik
hampir memiliki segalanya, kecuali hati Sonya.
Pujaan hatinya itu memutuskan tali asmara yang telah mereka
jalani cukup lama. Empat tahun yang penuh kisah dan kasih, rindu dan cinta,
terbuang dengan sia-sia. Sonya lebih memilih mengejar impiannya−satu-satunya
hal yang memenuhi hati perempuan cantik bermata tajam itu.
Kata Sonya, “Kamu tahu kan aku sangat menginginkan hal ini.
Musik adalah duniaku dan menjadi seorang pemain biola profesional selalu
menjadi impianku.”
Reza menerima dengan pasrah seluruh keputusan Sonya,
mengantarkan kepergian kekasih hatinya, dan pulang dengan tampang muram.
Sesampainya di rumah, Reza disambut ibunya yang bertanya dengan nada prihatin, “Kenapa
berwajah suram begitu, Reza sayang?”
“Tidak apa, Ma,” Reza menggelengkan kepalanya dan memasang
senyum terpaksa di wajah.
“Kamu berantem lagi sama Sonya ya? Aduh, sayang Mama sudah bilang
kan dari dulu… Sonya itu memang tidak pantas buat kamu. Bukan tipe yang tepat
untuk diajak berumah tangga. Selalu sibuk dengan segala perkara. Hidupnya penuh
dengan agenda yang tergesa-gesa.”
Reza seperti ingin berteriak jika tanpa Ibunya bilang pun
dirinya sudah sadari itu dan ia mengutuk dirinya sendiri karena bertahan dalam
hubungan yang berat sebelah. Namun karena Reza adalah seorang anak yang menjadi
teladan, sopannya santun, dan baik hatinya, maka Reza tidak mengatakan apa-apa.
Ia hanya menghela napas yang dalam dan panjang.
Ibunya mendekat dan membelai kepala Reza, “Sudah… sudah…
jangan terlalu dipikirkan. Biar saja Sonya dengan segala urusannya. Tidak ada
dia juga kamu bisa bahagia, sayang.”
“Ngomong-ngomong, Mama tadi ngobrol dengan Bu Vivi. Dia
bilang anak perempuannya, Ratih, nanyain kamu terus, tuh. Cobalah… sesekali…
kamu berkunjung ke rumahnya dan mengajak Ratih pergi. Dengar-dengar ia masih
sendiri.”
“Mama….”
“Mama kan Cuma memberi saran supaya kamu tidak perlu harus
pulang dengan wajah murung terus. Sadar atau tidak, semenjak kamu pacaran
dengan si Sonya itu, kamu selalu saja pulang dengan wajah ditekuk. Nak, kamu
itu tampan. Banyak yang mau sama kamu. Kenapa sih harus mentok dengan perempuan
seperti Sonya?”
Reza terdiam, pikirannya kusut dan mulutnya geram ingin
membalas. Di mata Reza, wajah ibunya seolah menutupi pandangan. Ia seolah bisa
melihat seluruh otot berkedut menahan emosi yang sekasar tekstur kantong plastik
hitam.
“Pikirkan baik-baik: Ratih naksir sama kamu. Bu Vivian juga
senang sama kamu. Kamu nggak perlu khawatir akan ditinggalkan seperti Sonya
meninggalkan kamu. Nggak perlu khawatir juga karena Mama setuju dan Papa juga
pasti setuju. Kamu tahu kan, betapa Mama dan Papa ingin kamu bahagia, membangun
keluarga, memiliki anak dan meneruskan usaha keluarga kita?”
Setelah jeda yang cukup lama, Reza kembali menghela napas
dan menjawab, “Iya, Ma. Reza akan pergi ke rumah Tante Vivi.”
“Bagus. Pintarnya anak Mama yang satu ini.”
***
Jam tiga sore, ia menjadi perempuan
lain berumur dua puluh lima: Ratih yang cantik, modis, dan selalu tampil
menarik. Rambutnya berwarna coklat kemerahan, bibirnya merah merona dengan
pakaian ketat membalut tubuhnya yang sintal.
Kali itu sangatlah istimewa,
sebab Reza datang menjemput Ratih berkencan di salah satu restoran mewah kota. Dengan
sengaja Ratih memilih busana bermotif bunga, pakaian kebanggaannya yang selalu
ia kenakan saat ingin menggoda lelaki kaya.
Sebelum pergi, ibunya berkata, “Anak
Bunda yang cantik jangan pakai baju yang biasa. Mustahil Reza tergoda nantinya.
Coba pakai yang ini, pulas bibir dengan lipstick merah mahal yang kemarin Bunda
belikan untukmu. Ingat, selalu gandeng tangannya. Tempel lelaki itu dan
bermanja-manjalah. Goda sehabis-habisnya sebab kalau kamu bisa menggodanya,
kita semakin selangkah keluar dari lobang hutang.”
Pesan ibunya tidak jadi soal buat
Ratih. Selama ini toh banyak lelaki yang bertekuk lutut saat gadis itu
menggamit tangan mereka. Reza si Kaya tentu sama saja.
Mulanya Ratih berpikir demikian,
tapi setengah jam duduk berhadap-hadapan dengan Reza, Ratih merasakan
kejanggalan. Pria di hadapannya tidak tertarik melihat lekuk tubuhnya, melengos
begitu ia melihat matanya, dan berkali-kali menyisir rambut percuma.
Sialan, batin Ratih. Lelaki
ini kenapa tidak tertarik padaku? Hmmmh, dasar pria membosankan!
“Kamu kenapa sih, Za? Kok
kelihatannya gelisah begitu?” ujar Ratih manja. “Reza nggak suka ya makan sama
Ratih?”
“Bukan begitu,” tandas Reza
cepat. Lelaki itu tersenyum singkat. Matanya kembali jelalatan. “Aku cuma…”
berdeham, “….ngerasa tenggorokanku kering. Mau sakit sepertinya. Aku butuh
jeruk panas yang tadi kupesan saja.”
Ratih mengernyit, terpampang
jelas di wajahnya jika gadis itu tidak percaya alasan Reza. Buru-buru gadis itu
mendengus. Suaranya yang keluar bernada manja dan penuh perhatian yang
dibuat-buat. “Aduh… kasian banget sih Reza… Makanya, Reza harus banyak
istirahat dan minum vitamin. Musim begini memang gampang banget kena penyakit,
loh.”
Tak lama seorang pelayan
perempuan datang mengantarkan pesanan: secangkir jus mangga dan segelas jeruk
panas. “Ini pesanannya−AHH!”
“Aduh!”
Ratih memekik, bajunya basah dan
panas. Si pelayan perempuan menumpahkan segelas jeruk panas ke tubuhnya. Dengan
panik pelayan itu berusaha mengelap baju Ratih sembari meminta maaf. “Nggak
sengaja, Mbak. Maafin.”
Panas! Sakit banget, bego! Ratih berteriak dalam hati.
Ratih meringis. Meski matanya
melotot dan hatinya berteriak, ia masih berusaha menahan diri. Tidak bisa ia
bertindak ceroboh dan berteriak-teriak tidak terima di depan Reza. Ratih sudah
membangun citra yang menurutnya cukup baik di mata lelaki itu; seorang
perempuan cantik berperangai manis dan sedikit manja.
“Kamu nggak apa-apa, Ratih?” Reza
nampak panik.
“Eng−enggak apa-apa kok,” Ratih
masih meringis.
“Gimana sih, Mbak. Hati-hati,
dong. Ceroboh banget Mbak ini. Mana atasan Mbak? Saya ingin bicara,” seru Reza
pada si pelayan perempuan.
“Yah… yah jangan, Mas. Maafin,
Mas. Saya beneran nggak sengaja.”
“Ya biar nggak sengaja tapi tetap
harus tanggung jawab, dong. Teman saya ini ketumpahan jeruk panas. Kulitnya
sampai merah-merah hampir melepuh begini…”
“Udah nggak apa-apa, Za. Ratih
nggak apa-apa,” Ratih berusaha bersuara. Ia menarik tangan Reza dengan manja. Matanya
melihat nama si pelayan tersemat di bajunya. “Mungkin Mba Ningsih ini masih
baru, jadi masih kurang berhati-hati.”
“Iya mas, saya masih baru di
sini. Tolong jangan laporin sama atasan saya,” si pelayan bernama Ningsih itu
menunduk-nunduk. “Sebagai permintaan maaf, pesanan yang ini tidak usah bayar
saja… Mas… Mbak… Saya bawakan lagi saja yang baru.”
Reza menenangkan diri. “Ya sudah…”
Si pelayan yang kikuk kemudian
pamit mundur ke dapur sembari mengutuk kecerobohannya sendiri meninggalkan Reza
yang bersusah payah mengeringkan baju Ratih dengan tisu. Ratih memperhatikan
lekat-lekat lelaki itu dan tersenyum.
Manis juga lelaki ini, batin Ratih.
Menjelang senja, ia terhentak dan menjadi dirinya sendiri.
Ponselnya bergetar di atas meja, menampilkan beberapa pesan
masuk. Dengan sigap dibukanya pesan-pesan itu. Ia tidak pernah mengharapkan
siapapun menghubunginya. Namun diharapkan atau tidak, Si Atasan selalu
setia memberikan beberapa potong informasi yang berkaitan erat dengan
pekerjaannya.
Entah itu memberitahukan pertumbuhan rating sinetron yang ia
kerjakan, tokoh mana saja yang harus ia hapus dari ceritanya (entah karena
masalah kontrak antara artisnya atau hasil poling yang menunjukan ketidaksukaan
penonton atas kehadiran tokoh tersebut), atau jam berapa lelaki itu harus
mengirimkan naskah terbarunya lewat pesan singkat di ponsel.
Di beberapa kesempatan, Si Atasan akan memberikan arahan membuat naskah baru
untuk sinetron baru yang membuat Si Lelaki mendadak merasa kebas,
mencoret-coret tulisan tangannya sendiri di sebuah buku, dan terhenyak di
kursinya.
Selepas membaca pesan singkat di layar ponsel kecilnya, lelaki
itu akan menghela napas sejenak, sebelum sibuk menghitung berapa jam lamanya ia
harus menyelesaikan naskah sesuai dengan batas waktu dari Si Atasan. Begitu
mantap dengan perhitungannya−tujuh jam kali itu−Si Lelaki akan membenarkan
posisi duduknya dan kembali membakar rokok.
Seperti biasa, sebelum ide menderas dengan cepat dan jemari
tangannya mulai sibuk mengetik; menerjemahkan suara menjadi kata, menjalin kata
menjadi naskah, Si Lelaki akan tetap menjadi dirinya sendiri:
Ia adalah seorang lelaki bertubuh kurus dan berambut abu-abu
tipis. Dagingnya telah lama habis digerogoti segala rasa bersalah dan
malam-malam panjang tanpa istirahat yang cukup. Seorang lelaki pelupa dan yang
terlupa.
Dulu ia yakin ia pernah memiliki sebuah nama, tapi hidup seorang
sendiri selama bertahun-tahun di rumahnya yang besar membuat lelaki itu
meninggalkan namanya di nakas sebelah tempat tidur yang tidak pernah ia gunakan
untuk berbaring. Tidak perlu jugalah, nama tersebut masih melekat di dirinya.
Toh, tidak ada pula yang memanggilnya di rumah. Istrinya pergi meninggalkannya,
bertahun-tahun lalu, bersama si jabang bayi yang samar-samar ia ingat lekuk
hidungnya.
Si Lelaki tidak keberatan tinggal di rumah besar itu
sendirian. Saat salah satu sanak saudaranya menawarkan diri untuk tinggal
bersama dan mengurusi rumah itu, Si Lelaki menolak tawarannya. Ia lebih nyaman begini, hidup sendirian
bersama komputer tua, buku-buku, dan berlembar-lembar kertas yang berserakan di
lantai.
Sendirian membuatnya jauh dari sakit hati. Sendirian membuat
dirinya merasa utuh.
Si Lelaki sering bersyukur bisa sendirian dan bekerja
menekuni apa yang ia suka walau terkadang sendirian membuatnya
kesepian juga. Apalagi di saat ia menjadi dirinya sendiri, bukan
tokoh-tokoh dalam naskah yang tengah ia buat. Lelaki itu jadi lebih sadar
sepenuhnya akan bau pengap ruangan, asap rokok, jemari tangannya, rasa
laparnya, juga ingatan-ingatan yang tak ingin ia kenang dan ia membenci hal
itu.
Tiba-tiba Si Lelaki diterjang sakit perut. Ia berusaha
bangkit dengan susah payah dari sebuah kursi yang ia modifikasi sendiri.
Beberapa bulan setelah istrinya meninggalkannya, Si Lelaki membuang jok
kursinya dan memasang kerangka untuk menaruh ember berukuran sedang. Semenjak
saat itu ia duduk di atas tutupan ember (kursi) kesayangannya.
Si Lelaki membuka tutupan ember dengan berhati-hati.
Mendadak saja, bau busuk campuran endapan amonia dan feses langsung menguar
dari dalam ember seolah mengisi tiap ruang kosong rumah Si Lelaki. Dengan waktu
terbatas dan energi yang terkuras, Si Lelaki menuntaskan urusannya; ia berak
dengan khidmat di jamban merangkap kursi kesayangannya dengan rokok di sebelah
tangan kanan. Tanpa terusik bau busuk, si Lelaki masuk makin dalam ke
kepalanya, berusaha memikirkan cerita apa yang harus ia tulis selama tujuh jam
sampai batas waktu selesai.
Selebihnya adalah
ziarah panjang menuju dunia baik yang telah lama ia tinggali beberapa tahun
belakangan ini dalam kepalanya. Si Lelaki mengelap pantat seadanya, berdiri, menutup ember
dengan tutupannya, duduk di atas tutupan ember, kemudian membakar rokok
sebatang lagi.
Si lelaki pun mulai menulis.
Yang merembes dari
kepalanya adalah suara, kata, dan cerita. Tangannya mengetik tanpa berjeda
menimbulkan gaung yang akhirnya mengisi kekosongan rumahnya, dalam kepalanya,
barangkali juga hatinya.

Komentar
Posting Komentar