Kamu pikir mengasihi adalah rindu
yang seperti awan-awan seputih susu
berarak pergi melintasi kepalamu.
Kusut pikiranmu menimbang-nimbang mana yang perlu
diucapkan mulut dan dirasakan dadamu.
Gemuruh keduanya sering membuat lidahmu kelu.
Tapi kemudian Kamu
mengambil keputusanmu.
Kamu berlindung dibalik tanya yang tak menentu.
“Apakah itu yang jatuh
di cangkol buah dadamu?”
tanyamu di suatu senja yang pilu.
“Hanya napsu.
Tidak pernah rindu.
Bukannya memang selalu seperti itu?”
yang seperti awan-awan seputih susu
berarak pergi melintasi kepalamu.
Kusut pikiranmu menimbang-nimbang mana yang perlu
diucapkan mulut dan dirasakan dadamu.
Gemuruh keduanya sering membuat lidahmu kelu.
Tapi kemudian Kamu
mengambil keputusanmu.
Kamu berlindung dibalik tanya yang tak menentu.
“Apakah itu yang jatuh
di cangkol buah dadamu?”
tanyamu di suatu senja yang pilu.
“Hanya napsu.
Tidak pernah rindu.
Bukannya memang selalu seperti itu?”
Komentar
Posting Komentar