Di hari pertama kita bertemu,
aku tersesat di matamu.
Aku mencacah sebagian diriku,
menyembunyikannya di antara puisi-puisimu.
Lama berselang, kehilangan akan sebagian aku mulai meradang.
Malam-malamku berubah senyap meski sesekali kueja puisimu satu per satu
(dengan harapan menemukan diriku yang utuh
atau barangkali kamu yang dulu).
Sayang, aku masih tersesat.
Pagi hari, aku tercekik bau ampas kopi.
Siang hari, aku mabuk narasi sendiri.
Malam hari, aku keliru mengenali mimpi
sebagai rindu yang gampang diobati.
Padahal kereta yang seharusnya
membawa kita pergi ke perandaian
telah lama lewat.
Kamu sudah berangkat. Semua kepalang terlambat.
Sayang, aku kian tersesat.

Komentar
Posting Komentar