Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2018

bukan lagi aku dan kamu

terkadang, aku masih menyebut kamu dan aku sebagai kita. seolah-olah masih ada seutas benang yang menghubungkan kita berdua. seolah-olah kamu hadir di sini ketika luka itu berdarah. tapi kamu lihat, ketika patah itu terjadi, semuanya sunyi. kita tidak berteriak atau mencakar atau menggigit. kita hanya berubah dari saling menginginkan satu sama lain menjadi mendambakan yang lain. hatiku pilu dan yang kamu dambakan hanyalah meminta maaf. aku mencintaimu dan yang kamu inginkan hanyalah memohon maaf. diterjemahkan dari  puisi @nurul.ak  di Instagram.  

satu ons kata, dua gram makna

Ia menulis puisi dari sekumpulan ingatan yang menolak disangkal keberadaannya. Dalam tempurung kepalanya, satu ons kata dan dua gram makna meronta dalam ingatan. Diambilnya kata dan makna itu. Dikulitinya tanpa banyak bicara Dicacahnya sedemikian rupa. Ditambahkannya bubuk pala. Gadis manis…. begitu asik jemarinya menari di atas talenan tempat kata dan makna terpotong bersimbah darah. Gadis manis….. begitu asiknya ia sampai lupa kalau apa yang diperbuatnya hanya menjadikan ia makin tak berarti.

Yojanagandi

Menyebrangi Yamuna, Matsyagandi menjemput sedikit duka dan bahagia. Katanya, "Siang itu kuserahkan seluruh aku, Parasara: nasib kutuk dan semua kemelut. Dan dalam balutan kabutmu, akhirnya sirna segala rasa takut." Sampai di sebrang Yamuna, Matsyagandi menghantar banyak bahagianya yang masih muda. Ia tidak berkata apa-apa, sunyi sudah terlelap dalam dadanya. ____ *) Jakarta, 19 Juli 2018

menjelma seorang bodoh

maaf, pada akhirnya kita berakhir begini. jatuh berserak ini tidak mengajarkan kita apa-apa kecuali seberapa pandainya kita dalam hal berpura-pura. kita memilih berbasa basi ketimbang mengucapkan apa yang sebenarnya tersimpan di hati. kamu mengutarakan salam terakhir penuh makna tepat sebelum semuanya selesai, katamu kamu tahu ini bukanlah persoalan aku yang tidak balas mencintaimu. katamu aku hanya tidak tahu caranya membiarkanmu. hari ini aku membaca tentang bagaimana kamu hanya akan jatuh hati tiga kali sepanjang hidup. tangisku pecah sebab aku takut kamu bukanlah kejatuhanku yang terakhir. sebab setelah kamu, pikiran jatuh hati pada yang lain terasa seperti sakratul maut. sebab setelah kamu, pikiran jatuh hati pada seorang lain terasa seperti melarut tenggelam di laut. | nurul ak ____________ diterjemahkan dari puisi @nurul.ak di Instagram.