Ia menulis puisi dari
sekumpulan ingatan yang
menolak disangkal
keberadaannya.
Dalam tempurung kepalanya,
satu ons kata dan
dua gram makna
meronta dalam ingatan.
Diambilnya kata
dan makna itu.
Dikulitinya tanpa
banyak bicara
Dicacahnya sedemikian rupa.
Ditambahkannya bubuk pala.
Gadis manis….
begitu asik jemarinya
menari di atas talenan
tempat kata dan makna
terpotong bersimbah darah.
Gadis manis…..
begitu asiknya ia
sampai lupa kalau
apa yang diperbuatnya
hanya menjadikan ia makin tak berarti.
Komentar
Posting Komentar