Bicara dosa, dulu aku sangat ketakutan mendengar kata
itu. Guru agamaku bilang kalau aku dan teman-temanku, walau hidup kami baik
sampai saat itu dengan selalu bilang 'tolong', 'terima kasih', dan 'maaf' saat
berbuat salah, tak bisa lepas dari dosa. Selepas membahas dosa di kelas, aku
merasa tidak nyaman selama hampir seminggu. Rasanya bersalah sekali
sampai-sampai menghirup udara saja jadi berat.
Aku takut dosa-dosaku kelak akan membuatku dihukum
langsung, seperti kena sambar petir di siang bolong atau tiba-tiba saat
mengeluarkan tangan dari jendela mobil, tanganku akan putus lalu nyangkut di
tiang yang baru dilewati. Kalau sekarang, aku belum memutuskan apa yang
kurasakan saat memikirkan mengenai dosa. Tak mau memikirkan itu sih, lebih
tepatnya.
Walau tidak mau memikirkan masalah dosa, di
waktu-waktu tertentu, rasa bersalah seringkali datang dan menonjok ulu hatiku.
Pada saat-saat seperti itu, ingatanku kembali ke masa kecilku. Papiku
menggandeng tanganku masuk ke gereja. Sementara Papi berlutut, aku berdiri
di bantalan lutut-tinggiku
waktu itu nggak seberapa-untuk
melihat Romo di depan altar mengangkat kedua tangannya setinggi dada.
Sayup-sayup mulai terdengar gaung orang-orang di gereja merapal doa.
“….
bahwa saya telah berdosa,
dengan pikiran dan perkataan,
dengan perbuatan dan kelalaian.
Saya berdosa, saya berdosa,
saya sungguh berdosa.
…….”
Apakah aku merasa lebih baik
setelah mengingat hari-hari itu? Nggak juga. Tapi setidaknya gelombang rasa
bersalah kambuhanku saat menyadari kalau sekarang aku hidup seperti bajingan jadi lebih tertahankan.
***
💯
BalasHapus