Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2013

Ben

"Suara pertamanya adalah suara kehilangan."

Nyonya Besar

Sebuah ruang tengah. Besar, tidak terlalu megah. Ada sebuah pintu mengarah ke ruangan lainnya dalam bangunan tersebut. Pintu yang sederhana meski memiliki gagang berbentuk burung volturi. Berawal dari sebuah sore, kita bisa mendengar sebuah musik mengalun dari balik pintu tersebut. Lembut, elegan, seperti sebuah suara dari masa lalu di mana lagu-lagu di radio masih terdengar begitu asing. Dari dalam pintu itu, seseorang keluar sembari merapikan bajunya. Rapi, necis, dengan rambut digulung ketat. Andjani… Andjani! Menghela napas, kesalnya makin bertubi-tubi Pembantu zaman sekarang! Dipanggil bukannya menyahut, malah ngingkar. Pura-pura budek.! DJANIIIIIII! Terduduk kemudian Alah, sudahlah. Sa karepmu! Heran, padahal sudah saya bilang kalau saya bakal pergi hari ini. Bukannya siap sedia berada di pos jaganya, malah mangkir. Bagaimana nanti kalau Mas Tomy dan Romy datang menjemput coba? Siapa yang bakal membuka gerbang kalau mereka mengklakson mobil? Berteriak...

Lingga(wati)

Linggawati. Keras dan pongah.  Ia tidak tahu dari mana tepatnya ia mendapatkan julukan demikian sebab pada mulanya, si anak semata wayang dari pengusaha swasta yang punya andil cukup besar dalam perintisan program irigasi di daerah terpencil itu tidak memiliki kesan demikian. Neng Linggawati punya mata paling bagus, suara tangis paling melengking. Sehat sekali, ujar Mak Ipah, bidan yang kebetulan menghantarkan Linggawati lahir ke dunia. Perantara yang meminta jasanya dibalas dengan gincu dan tembakau harum dari desa sebelah.  Rapuh dan patut dicintai, begitu ayahnya berbangga pada tiap-tiap yang mampir ke rumahnya waktu memperkenalkan anak perempuan semata wayangnya. Label dari lahir. Ibadah keagamaannya taat, tiap hari diajarkan untuk berdoa Angelus di jam-jam tertentu. Pada hari Sabtu sering menginap di kota untuk pergi ke gereja keesokan pagi buta bersama ayahnya. Ia disarankan untuk memanjangkan rambutnya oleh ibu. Hitam dan mengkilat, supaya punggungnya yang berk...

Tamar

Tamara, biasa dipanggil Tamar, tahun ini baru menginjak usia dua puluh tahun. Rambutnya hitam legam, wajahnya pas-pasan; biasa cantik ketika baru cuci muka dan memulas make up kesukaannya. Hobinya mencobai apapun, termasuk dirinya, termasuk Tuhannya. Selain memiliki kesenangan memakai kalung salib juga mengucap keras-keras dalam hatinya, “Dengan Perantaraan Yesus,” untuk segala urusan, Tamara pun percaya klenik. Pikirnya, jika memang Tuhan patut dipercaya, maka klenik berhak mendapatkan perlakukan yang serupa. Mulanya, ia diberi jawaban oleh ibunya yang buta huruf bahwa segalanya berasal dari tangan-tangan tak terlihat. Dari Tuhan. Tapi kemudian itu semua berubah ketika dalam masa pubernya ia membaca lebih banyak buku dari yang seharusnya: banyak yang membahas tentang konstelasi bintang, derajat bintang, tanggal-tanggal di mana kekuatan apa bersinergi dengan elemen apa. Ia merasa pikirannya seolah menjadi lebih jernih, lebih bisa menerima hal-hal yang selama ini ia perangi. Saat ...

Sepele

Ini persoalan yang kelewat sepele. Cuma perkara sapaan; sebut nama kecil. Basian yang saking klisenya sampai dianggap sebagai sebuah bumbu-bumbu manis dari awal percakapan. Penambahnya barangkali senyum simpatik dari sepasang mata yang kelewat lelah menghadapi salah satu hari di kota Jakarta. Atau sedikit gestur yang menggambarkan kepenatan melawan arus pulang kantor, atau sibakan ringan pada baju yang tengah dikenakannya untuk sekedar menyulut rokok. Yah, biasa saja. Tapi kenapa, ya, sekilasan panggilan itu bisa begitu membekas? Saya mencoba menjawabnya beberapa jam yang lalu. Sembari berkutat dengan percakapan bersama beberapa orang lalu prasangka berlebih mengenai hal yang lain. Dan muncul sebuah konklusi. Horor lebih tepatnya. Diakibatkan oleh perasaan familiar yang menjelma sebagai sebuah jendela kembali ke waktu-waktu silam. Saya mentok di sebuah prasasti, pada sebuah musim semi, di sebuah malam yang agaknya terlalu malam. Lalu bayangan yang meluncur dengan indahnya ...