Tamara, biasa dipanggil Tamar, tahun ini baru menginjak usia dua puluh tahun. Rambutnya hitam legam, wajahnya pas-pasan; biasa cantik ketika baru cuci muka dan memulas make up kesukaannya. Hobinya mencobai apapun, termasuk dirinya, termasuk Tuhannya. Selain memiliki kesenangan memakai kalung salib juga mengucap keras-keras dalam hatinya, “Dengan Perantaraan Yesus,” untuk segala urusan, Tamara pun percaya klenik. Pikirnya, jika memang Tuhan patut dipercaya, maka klenik berhak mendapatkan perlakukan yang serupa. Mulanya, ia diberi jawaban oleh ibunya yang buta huruf bahwa segalanya berasal dari tangan-tangan tak terlihat. Dari Tuhan. Tapi kemudian itu semua berubah ketika dalam masa pubernya ia membaca lebih banyak buku dari yang seharusnya: banyak yang membahas tentang konstelasi bintang, derajat bintang, tanggal-tanggal di mana kekuatan apa bersinergi dengan elemen apa. Ia merasa pikirannya seolah menjadi lebih jernih, lebih bisa menerima hal-hal yang selama ini ia perangi. Saat ...