Langsung ke konten utama

Lingga(wati)

Linggawati. Keras dan pongah. 

Ia tidak tahu dari mana tepatnya ia mendapatkan julukan demikian sebab pada mulanya, si anak semata wayang dari pengusaha swasta yang punya andil cukup besar dalam perintisan program irigasi di daerah terpencil itu tidak memiliki kesan demikian. Neng Linggawati punya mata paling bagus, suara tangis paling melengking. Sehat sekali, ujar Mak Ipah, bidan yang kebetulan menghantarkan Linggawati lahir ke dunia. Perantara yang meminta jasanya dibalas dengan gincu dan tembakau harum dari desa sebelah. 

Rapuh dan patut dicintai, begitu ayahnya berbangga pada tiap-tiap yang mampir ke rumahnya waktu memperkenalkan anak perempuan semata wayangnya. Label dari lahir. Ibadah keagamaannya taat, tiap hari diajarkan untuk berdoa Angelus di jam-jam tertentu. Pada hari Sabtu sering menginap di kota untuk pergi ke gereja keesokan pagi buta bersama ayahnya. Ia disarankan untuk memanjangkan rambutnya oleh ibu. Hitam dan mengkilat, supaya punggungnya yang berkulit seputih susu tertutup gerai hitam. Supaya tidak ada prasangka-prasangka lelaki mesum mencatat benih muda tersebut yang menumbuhkan kesenangan setan. Linggawati tidak berkeberatan. Ia menyambut saran ibunya dengan berbinar-binar. 

“Setelah rambutku sepanjang ibu, apa aku akan jadi cantik?”

“Kamu sudah terlahir cantik. “

Linggawati menggelengkan kepalanya. Menenglengkan kepalanya.

“Ayah bilang ibu yang paling cantik. Rambut ibu hitam dan panjang.”

“Rambutmu kelak juga panjang.”

“Lalu aku akan jadi cantik?”

“Kamu sudah terlahir cantik.”

Meski setelah usianya yang ranum, ia menyandang label keras dan pongah. 





Tapi apalah definisi cantik?

Setelah pada usianya yang kesembilan perusahaan ayahnya bangkrut, disusul maut menjemput. Penyakit paru. Dokter bilang ini akibat kebiasaan menghembus tembakau dan minum kopi kelewat kental. Linggawati kesal mendengar dokter bilang begitu. Toh ayahnya kelihatan paling anteng ketika ia ditinggal bersama dua benda tersebut. Dari mulutnya biasa terdengar lantunan cerita mengenai sebuah tempat penuh sesak dengan mobil dan kisah melankolis kekasihnya di zaman itu. 

Ibu ditinggal menjanda. Gelap di sekeliling rupanya ketika ia berusaha tersenyum mendapati anaknya sesegukan menunjuk jasad ayahnya yang tidak juga bangun setelah Linggawati bersumpah tidak akan pernah mengingkari keberadaan ayahnya (“Aku anak bapak. Selamanya. Gak lagi aku bilang aku bukan anak bapak. Gak lagi aku usir bapak dari rumah. Bapak bangun…. Pak…. Jangan tinggalin ibu…”). Wanita itu senantiasa mengulum senyum pedih ketika tangannya mengusap kepala anak semata wayangnya. Kelak ketika Linggawati menginjak usia akil balig, ia mulai bertanya-tanya apa arti pancaran dari mata ibunya. Apa itu sekelumit kisah pahit karena kehilangan cinta? Atau Cuma perasaan sayang karena sesuatu sudah terlewat; seperti mendapati lelehan beku sebuah lilin yang habis sumbu bakarnya? Tapi pada usianya yang belum lewat dari banyak jemari tangan, Linggawati Cuma mengartikannya sebagai kesedihan, meski tidak ada setetes air matapun yang jatuh. 

“Tapi kita tidak butuh Bapak. Kita Cuma menangis dan itu bukannya cukup, bu?”

“Jaga bicaramu kita di tempat umum.” 

Ibu memasang wajah keras. Mas Tomy tak jauh di sana, berjongkok dengan tangan di dagu menunggu kereta datang. Berlaku selayaknya adik yang kelewat bosan dengan perkara kakak perempuannya yang tenggelam dalam kisah seperti sinetron. Mungkin ia tengah melamun memikirkan Mbak Ayu, pacarnya. Entah. 

“Ibu kok malah gak pernah nangis. Aku kepikiran bapak terus bu,”

Suara Linggawati tercekat. 

Ibu diam, matanya nanar. Gentar menahan seluruh gemetar yang pelan-pelan menyeruak keluar pori-porinya. Gentar itu menjelma menjadi air asin, mengalir seperti peluh dari pelupuk matanya. “Ibu kepikiran, nak. Ibu kepikiran…”

Ibu memilih untuk tidak menunjukkan. Ibu cuma kepingin dilihat anaknya bahwa ia kuat meski pada kalimat pertama teman bapak yang mengabarkan ia jatuh terpuruk dalam kesedihan yang kelewat nyata. Linggawati malah sebaliknya, kuat diawal, terpuruk kemudian, lantas pejal. Bukan oleh kekerasan tekad, tapi sakit menggondok di tenggorokan. Kesedihan.

Linggawati tercekat. Matanya mendadak berair. Mas Tomy tetap terpaku pada lamunannya, sementara ibu dan anak itu terpukul oleh sesuatu yang tidak terlihat. Sebuah kehilangan, yang nyata dan sederhana, di sebuah pelataran Stasiun Gambir. 

Setelahnya Linggawati memutuskan, ini adalah air mata terakhir. Supaya kuatlah ia nantinya begitu menginjak usia ranum untuk melepas keperawanan. Menyangkal itu semua yang membekas di hati dan justru menjadikan dirinya mendapat label keras juga pongah. 




Pun ia tidak juga tahu kapan pastinya ia mendapatkan label keras dan pongah. 

Karena sebenarnya, lewat masa sekian tahun hidup si gadis yang kemudian memiliki kebanggan terhadap namanya, Lingga—begitu ia memilih nama panggilannya sebab terpikat dengan sifat maskulin dari nama tersebut—sudah banyak air mata lain jatuh. Alasannya banyak, meski sebenarnya ia tidak tahu lebih menyedihkan mana; menangisi masa lalu ayah dan ibunya atau masa depannya yang mendadak kabur ditelan segala kemungkinan. Lingga, tetap menjadi seorang perempuan walaupun ia memotong habis seluruh rambut kebanggaannya setelah bapak meninggal. Sentimen masa muda seorang perempuan masih ia alami. Sebagaimana ia mengalami haid pertama juga jatuh sayang pada seorang bocah lawan jenisnya. Lingga kebanyakan menangis di kamar. Berimajinasi memiliki sebuah kehidupan lain di mana ia adalah anak dari seorang pengusaha kaya yang cuma punya istri satu, bukannya dua. Punya kakak laki-laki jangkung tinggi yang bisa diandalkan untuk menggapai layangan ketika putus. Punya sebuah rumah cantik beralamat pasti, di mana paket datang kapanpun tanpa harus nyasar. 

Sebab semua yang ia inginkan adalah yang tidak ia dapatkan. 

Termasuk menjadi seorang perempuan yang kuat dan teguh pendiriannya. 

Atau seorang perempuan yang biasanya bakal disambangi oleh seorang lelaki untuk dijadikan istri. 

Lingga menolak, terlalu takut untuk kehilangan kesendiriannya. Pada suatu pagi ia bangun dari tidurnya dengan gelagapan, seperti habis dicekik karena sebuah firasat yang datang entah dari mana. Firasat itu menggambarkan beban yang kelewat berat. Tuntutan, yang mati-matian ia hindari semenjak bapak meninggalkan ibu menjanda. Bagaimana caranya supaya saya bisa menyenangi segala penuntut? Bagaimana caranya supaya saya biasa menangani kehilangan dan penerimaan? Bagaimana kalau kelak saya mengecewakan suami dan si jabang bayi? 

Dan sekian banyak bagaimana lain menyambangi kepalanya. Seketika itu pula ia merasakan pejal di kerongkongannya menyeruak keluar. Air mata menitik, bukan karena mengasihani dirinya sendiri yang ia anggap sebagai bentukan lemah seorang perempuan, tapi sebagai tanda bahwa ia menolak untuk digunjingkan di belakang sebagai seseorang yang keras dan pongah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psalter of Undone Girls

Book I: Of Hunger Psalm I. The Starvation Game She starved at the table of touch. Every smile was rationed. She learned to chew absence, to swallow glances like crumbs. The hunger taught her that even neglect has calories. Psalm II. The Mouth as Wound The mouth opens for speech, but bleeds instead. Desire leaks, iron-tasting. A kiss is just a suture failing. What is voiced is not heard, what is heard is not held. Psalm III. Banquet of Absence We sit around a feast of plates. The cutlery gleams with nothing. We praise the spread of air, raise a toast to lack. Our bellies groan like choirs, our hollow becomes our hymn. Psalm IV. The Body as Empty House Her ribs are doorframes, her lungs the dusty halls. Every step echoes. She lies in bed with drafts for companions, the wallpaper peeling like memory. Hunger is not only of the stomach, but of the rooms no one enters. Psalm V. Communion of Ash They offered her bread that dissolved into soot. They poured her wine that tasted of vinegar and s...

Aku, Cthulhu

Neil Gaiman, 1986, https://www.neilgaiman.com/Cool_Stuff/Short_Stories/I_Cthulhu Ilustrasi Cthulhu oleh Disse86 dari DeviantArt I.   Cthulhu, begitu mereka memanggilku. Cthulhu yang Agung.    Tidak ada seorangpun yang bisa mengeja namaku dengan benar.   Apa kau menulis semua ini? Kata per kata?   Bagus. Harus kumulai dari mana—mm?   Ya sudah, kalau begitu. Dari awal. Tulis apa yang kubilang, Whateley.   Aku dilahirkan ribuan tahun yang lalu, dalam kabut gelap Khaa’yngnaiih (tidak, tentu saja aku tidak tahu bagaimana mengejanya. Tulis saja sesuai bunyinya) dari orang tua mimpi buruk tak bernama, di bawah bulan yang bungkuk. Bukan bulan dari planet ini, tentu saja, aku lahir di bawah bulan sungguhan. Di malam-malam tertentu, bulan itu memenuhi lebih dari separuh langit dan saat bulan tersebut naik, kau bisa menyaksikan darah merah jatuh dan menetesi wajahnya yang bengkak, menodai wajahnya merah, sampai pada titik ketinggian di mana cahayanya menyirami r...

Ragu Menyengat

Kamu tahu, apa yang angin hadirkan padaku malam itu? Ragi, ragu, keringat udara musim penghujan berbau menyengat. Sedikit manis lalu asam membaur di permukaan lidah. Rontok segala yang ada di dada meski jarak tidak seberapa. Ujung-ujungnya aku terengah menjadi gerah dan lelah Gelitik hari itupun runut selantunan kecapi pada telinga ia berbuah rasa hangat yang hanya bertalu-talu di dada bukan tipikal rindu yang mudah dinikmati Kilasan pertemuan, tawa yang menjemukan, cinta yang mengharukan, Tidak pernah sederhana malah menuai petaka Lalu setelah ini apa? "Mari kita menyerah dan tanggalkan  harapan masing-masing sebelum hilang selamanya." 25 Agustus 2013.