Tamara, biasa dipanggil Tamar, tahun ini baru menginjak usia dua puluh tahun. Rambutnya hitam legam, wajahnya pas-pasan; biasa cantik ketika baru cuci muka dan memulas make up kesukaannya. Hobinya mencobai apapun, termasuk dirinya, termasuk Tuhannya.
Selain memiliki kesenangan memakai kalung salib juga mengucap keras-keras dalam hatinya, “Dengan Perantaraan Yesus,” untuk segala urusan, Tamara pun percaya klenik. Pikirnya, jika memang Tuhan patut dipercaya, maka klenik berhak mendapatkan perlakukan yang serupa.
Mulanya, ia diberi jawaban oleh ibunya yang buta huruf bahwa segalanya berasal dari tangan-tangan tak terlihat. Dari Tuhan. Tapi kemudian itu semua berubah ketika dalam masa pubernya ia membaca lebih banyak buku dari yang seharusnya: banyak yang membahas tentang konstelasi bintang, derajat bintang, tanggal-tanggal di mana kekuatan apa bersinergi dengan elemen apa. Ia merasa pikirannya seolah menjadi lebih jernih, lebih bisa menerima hal-hal yang selama ini ia perangi.
Saat gadis itu merasa positif, ia akan menengadah dan melantunkan doa-doa syukur. Ketika ia merasa tengah mendapatkan sial, Tamar mengunci dirinya di kamar, mengantuk-antukkan lututnya di pojokan kamar sembari terpuruk dalam tangis tanpa suara. Namun dikebanyakan masa, gadis itu hanya menyerah pada kepercayaan-kepercayaan tanpa landasan akal yang ia pelajari dari buku-bukunya dahulu.
Perlahan Tamar mengganti salibnya dengan pengetahuan-pengetahuan baru, asing, dan tanpa nabi. Gadis itu lebih banyak diam di tahun-tahun menjelang kedewasaannya sebab ia mempercayai jika klenik akan bertambah pengaruhnya setelah seseorang mempercayakan semuanya pada sebuah kekuatan tak terlihat, bukan dari Tuhan, untuk bekerja mencampuri urusan yang berbadan.
Jangan pernah mempertanyakan dari mana. Baik atau buruk, percaya saja. Iman pada yang tak terlihat!
Suatu waktu ia bertemu dengan seorang lelaki muda dengan tawa paling renyah yang pernah ia dengar sepanjang hidupnya. Tamar jatuh hati pada pertemuan pertamanya di sebuah taman dengan penerangan paling temaram. Matanya tidak pernah biasa menyambangi mata si pemuda, tapi jelas gadis itu berusaha menghafal semuah hal yang tengah dilakukan si pemuda.
Bagaimana ia, si pemuda itu, menyibakan tangannya ketika mengambil sebatang rokok dari kantongnya. Bagaimana ia, si pemuda itu, menghidu bau pertama hujan yang kebetulan merupakan kesenangan si gadis, bagaimana ia mulai menggodai Tamar dengan fakta-fakta lucu dari negeri antah berantah (“Tahukah kamu jika pada tahun 1889, Ratu Italia Si Magherita Savoy, jadi orang pertama yang memesan delivery pizza?”)
Tiba-tiba saja, dalam pikirannya sebuah ide muncul;
Tamar ingin memiliki si pemuda.
Ingin sekali.
Bak kolektor yang baru mendapatkan suntikan gairah, Tamar pergi ke sebuah ruangan di dalam dirinya. Luas, berkotak-kotak. Ada rak kayu setinggi tujuh kali tinggi badan Tamar sendiri. Baunya hampir-hampir seperti campuran bau kertas lama dan kol. Apak, lembab, sedikit amis. Pada tiap rak-raknya terdapat sekian banyak kristal dengan label tanggal, berisi sepotongan-sepotongan memori.
Awas, jangan sentuh kristal-kristalnya! Amati saja, karena Tamar bukan gadis baik hati yang mau koleksinya di sentuh oleh orang lain. Ia terlalu menjaga semua kristal-kristalnya sehingga ruangan dalam dirinya tersebut hampir penuh oleh sesak.
Entah bagaimana caranya, gadis itu berhasil meminggirkan kesegala hartanya sampai berhasil membuat sebuah tempat untuk sebuah kenangan yang lain. Bisa jadi sosok. Karena ia begitu menginginkan si lawan jenis ini dengan teramat sangat. Teramat sangat. Sangat!
Di tiap harinya setelah gadis itu bertemu dengan si pemuda, Tamar membayangkan dengan seksama bagaimana sosok itu bisa tetap tinggal pada ruang yang sengaja ia sediakan dalam ruang-dirinya. Terus dan terus. Percaya klenik. Terus dan terus. Tenggelam dalam mimpi berjalannya. Terus dan terus. Membatasi keberadaannya, mematikan segala panca indra.
Terus dan terus.
Tamar, gadis yang keras kepala itu, akhirnya membuka matanya di suatu hari yang dingin bulan Februari. Gadis itu terengah-engah menatap dinding abu-abu kusam. Sebuah jendela kecil menjadi satu-satunya akses yang menghubungkan dirinya dan dunia di luar sana serta beberapa bayangan terkutuk yang coba ia sangkal.
Tamar menangis. Segala hal yang ia percayai melebur jadi debu yang menari-nari di atas kusen jendela kecil itu: ibunya, kepercayaannya, si pemuda yang sangat ia cintai, dirinya. Tamar menjerit. Jeritannya terdengar sampai ke seluruh penjuru sanatorium.
Selain memiliki kesenangan memakai kalung salib juga mengucap keras-keras dalam hatinya, “Dengan Perantaraan Yesus,” untuk segala urusan, Tamara pun percaya klenik. Pikirnya, jika memang Tuhan patut dipercaya, maka klenik berhak mendapatkan perlakukan yang serupa.
Mulanya, ia diberi jawaban oleh ibunya yang buta huruf bahwa segalanya berasal dari tangan-tangan tak terlihat. Dari Tuhan. Tapi kemudian itu semua berubah ketika dalam masa pubernya ia membaca lebih banyak buku dari yang seharusnya: banyak yang membahas tentang konstelasi bintang, derajat bintang, tanggal-tanggal di mana kekuatan apa bersinergi dengan elemen apa. Ia merasa pikirannya seolah menjadi lebih jernih, lebih bisa menerima hal-hal yang selama ini ia perangi.
Saat gadis itu merasa positif, ia akan menengadah dan melantunkan doa-doa syukur. Ketika ia merasa tengah mendapatkan sial, Tamar mengunci dirinya di kamar, mengantuk-antukkan lututnya di pojokan kamar sembari terpuruk dalam tangis tanpa suara. Namun dikebanyakan masa, gadis itu hanya menyerah pada kepercayaan-kepercayaan tanpa landasan akal yang ia pelajari dari buku-bukunya dahulu.
Perlahan Tamar mengganti salibnya dengan pengetahuan-pengetahuan baru, asing, dan tanpa nabi. Gadis itu lebih banyak diam di tahun-tahun menjelang kedewasaannya sebab ia mempercayai jika klenik akan bertambah pengaruhnya setelah seseorang mempercayakan semuanya pada sebuah kekuatan tak terlihat, bukan dari Tuhan, untuk bekerja mencampuri urusan yang berbadan.
Jangan pernah mempertanyakan dari mana. Baik atau buruk, percaya saja. Iman pada yang tak terlihat!
Suatu waktu ia bertemu dengan seorang lelaki muda dengan tawa paling renyah yang pernah ia dengar sepanjang hidupnya. Tamar jatuh hati pada pertemuan pertamanya di sebuah taman dengan penerangan paling temaram. Matanya tidak pernah biasa menyambangi mata si pemuda, tapi jelas gadis itu berusaha menghafal semuah hal yang tengah dilakukan si pemuda.
Bagaimana ia, si pemuda itu, menyibakan tangannya ketika mengambil sebatang rokok dari kantongnya. Bagaimana ia, si pemuda itu, menghidu bau pertama hujan yang kebetulan merupakan kesenangan si gadis, bagaimana ia mulai menggodai Tamar dengan fakta-fakta lucu dari negeri antah berantah (“Tahukah kamu jika pada tahun 1889, Ratu Italia Si Magherita Savoy, jadi orang pertama yang memesan delivery pizza?”)
Tiba-tiba saja, dalam pikirannya sebuah ide muncul;
Tamar ingin memiliki si pemuda.
Ingin sekali.
Bak kolektor yang baru mendapatkan suntikan gairah, Tamar pergi ke sebuah ruangan di dalam dirinya. Luas, berkotak-kotak. Ada rak kayu setinggi tujuh kali tinggi badan Tamar sendiri. Baunya hampir-hampir seperti campuran bau kertas lama dan kol. Apak, lembab, sedikit amis. Pada tiap rak-raknya terdapat sekian banyak kristal dengan label tanggal, berisi sepotongan-sepotongan memori.
Awas, jangan sentuh kristal-kristalnya! Amati saja, karena Tamar bukan gadis baik hati yang mau koleksinya di sentuh oleh orang lain. Ia terlalu menjaga semua kristal-kristalnya sehingga ruangan dalam dirinya tersebut hampir penuh oleh sesak.
Entah bagaimana caranya, gadis itu berhasil meminggirkan kesegala hartanya sampai berhasil membuat sebuah tempat untuk sebuah kenangan yang lain. Bisa jadi sosok. Karena ia begitu menginginkan si lawan jenis ini dengan teramat sangat. Teramat sangat. Sangat!
Di tiap harinya setelah gadis itu bertemu dengan si pemuda, Tamar membayangkan dengan seksama bagaimana sosok itu bisa tetap tinggal pada ruang yang sengaja ia sediakan dalam ruang-dirinya. Terus dan terus. Percaya klenik. Terus dan terus. Tenggelam dalam mimpi berjalannya. Terus dan terus. Membatasi keberadaannya, mematikan segala panca indra.
Terus dan terus.
Tamar, gadis yang keras kepala itu, akhirnya membuka matanya di suatu hari yang dingin bulan Februari. Gadis itu terengah-engah menatap dinding abu-abu kusam. Sebuah jendela kecil menjadi satu-satunya akses yang menghubungkan dirinya dan dunia di luar sana serta beberapa bayangan terkutuk yang coba ia sangkal.
Tamar menangis. Segala hal yang ia percayai melebur jadi debu yang menari-nari di atas kusen jendela kecil itu: ibunya, kepercayaannya, si pemuda yang sangat ia cintai, dirinya. Tamar menjerit. Jeritannya terdengar sampai ke seluruh penjuru sanatorium.
Komentar
Posting Komentar