Sebuah ruang tengah. Besar, tidak
terlalu megah. Ada sebuah pintu mengarah ke ruangan lainnya dalam bangunan
tersebut. Pintu yang sederhana meski memiliki gagang berbentuk burung volturi.
Berawal dari sebuah sore, kita bisa
mendengar sebuah musik mengalun dari balik pintu tersebut. Lembut, elegan,
seperti sebuah suara dari masa lalu di mana lagu-lagu di radio masih terdengar
begitu asing. Dari dalam pintu itu, seseorang keluar sembari merapikan bajunya.
Rapi, necis, dengan rambut digulung ketat.
Andjani…
Andjani!
Menghela napas, kesalnya makin
bertubi-tubi
Pembantu
zaman sekarang! Dipanggil bukannya menyahut, malah ngingkar. Pura-pura budek.! DJANIIIIIII!
Terduduk kemudian
Alah, sudahlah. Sa karepmu! Heran, padahal sudah saya bilang kalau saya bakal pergi
hari ini. Bukannya siap sedia berada di pos jaganya, malah mangkir. Bagaimana
nanti kalau Mas Tomy dan Romy datang menjemput coba? Siapa yang bakal membuka
gerbang kalau mereka mengklakson mobil?
Berteriak, sekali lagi
HEH
DJANI!
Tidak ada suara, menghela napas
Seharusnya
hari ini spesial. Harusnya tidak ada cacat sedikitpun. Saya sudah menunggu-nunggu
terus hari ini. Nanti saya bilang sama
Mas Tomy saja supaya pecat saja si sialan itu. Bukan cuma budek dan tukang
mangkir. Kelakuan pembantu itu makin lama makin bikin panas dada. Kerjanya Cuma
di depan tv melulu. Nonton sinetron busuk. Dengar tidak kamu sial?! Kamu bakal
saya pecat! SAYA PECAT!
Mengelus dada sendiri
Yaampun,
Lenny. Sudah.... sudah.... Lena. Hari ini adalah hari spesial. Harusnya tidak ada cacat
sedikitpun. Sudah seharian mengobrak-abrik lemari cuma untuk mencari baju ini,
mandi bersih, dandan, semprot parfum. Nah ya, sudah semua. Mosok karena masalah
jonggos, rencanamu hancur? Nanti hilang semua daya tarikmu. Nanti keriput!
Benar
juga. Keriput!
Umur
segini rentan dengan keriput. Nanti Mas Tomy hilang perhatian sama saya. Sabar,
sabar.
Malam
ini semua akan jadi istimewa. Betul sekali. Hari ulang tahun Nyonya Magdalena
Mangunsaleh ke empat puluh tujuh. Dahulunya cantik, sekarang masih
cantik. Tidak bercacat. Ya kalau bercacat mana mungkin Mas Tomy mau sama saya,
toh. Mana bisa juga saya melahirkan anak secakep dan sepintar Romy?
Duilah, anak kebanggaan sekali Romy itu. Tinggi jangkung seperti bapaknya. Rupawan
seperti saya, ibunya. Rambutnya lebat sekali, matanya bagus. Budinya luhur,
sopannya santun. Apalagi prestasinya. Kelewat membanggakan! Satu lemari sendiri
untuk tempat piala-piala miliknya.
Romy…
Romy… Sayang, di usia tujuh belas kepalanya sakit tercemar pergaulan. Dia
sempat ingin melanjutkan ke Institut Seni, menggambar dan mencampur cat supaya bisa menggambar kembali Taman Getsemani.
Keinginan itu ditolak suami saya. Ya, gimana dong, masa anak seberbakat dan sepintar itu masuk ke golongan kelas sampah? Arsitektur itu lebih berkelas. Sesuai dengan derajat. Daripada menggambar gak jelas dan bicara nonsense bersama para gelandangan itu, ya lebih baik jadilah seseorang yang lebih menghasilkan!
Keinginan itu ditolak suami saya. Ya, gimana dong, masa anak seberbakat dan sepintar itu masuk ke golongan kelas sampah? Arsitektur itu lebih berkelas. Sesuai dengan derajat. Daripada menggambar gak jelas dan bicara nonsense bersama para gelandangan itu, ya lebih baik jadilah seseorang yang lebih menghasilkan!
Romy Rendrawan, sarjana arsitekur!
Romy
bakal berterima kasih pada saya. Tidak sekarang, mungkin dua-tiga tahun lagi.
Ia bakal bekerja di perusahaan keluarga, bakal bersanding dengan bapaknya
menangani proyek dan tender dari luar negeri. Setelahnya dia bakal menikah
dengan seorang perempuan ayu seperti saya waktu muda dulu, memberi saya banyak
cucu.
Tertawa pelan
Cucu?
Terkesiap. Ketakutan
Aduh,
aduh aduh, belum. Masih jauh untuk punya!
Tidak
ada keriput kan? Tidak ada? Nanti kesempurnaan saya bercacat! Saya belum setua
itu, demi Tuhan. Itu masih nanti-nanti saja. Yang penting Romy jadi arsitek
dulu!
Ya,
ya, ya.
Penuhi
keinginan kedua orangtuanya ini dulu.
Masih gelisah, memucat
Tenang,
tenang. Waktu tidak berjalan secepat itu, bukan? Saya cantik. Saya masih
cantik. Kemarin dulu masih pergi ke dokter kulit untuk merawat semua-muanya.
Creambath dua kali seminggu. Lulur putri. Rajin minum suplemen. Oh iya… hari
ini belum minum suplemen.
Sibuk mencari botol dalam tasnya
Demi
Tuhan, di mana benda sialan itu?
Tangannya gemetar
Andjaniiiii!
Makin gemetar, berusaha menenangkan
diri
Tuhan.
Tuhan. Saya belum mau mengakhiri kemudaan saya. Tidak mau ada keriput. Nanti
suami saya bakal pergi lagi ke rumah janda sundal itu! Cukup sekali, Tuhan.
Saya tidak mau kehilangan Mas Tomy lagi. Kaul sumpah sakramen pernikahan telah saya
junjung dengan nyawa saya! Tapi kenapa Kau beri keriput untuk menjadi sebuah
pertanda usia? Keriput, Tuhanku, keriput ini yang membuat saya dan Mas Tomy
hampir bercerai!
Lunglai, pedih
Bercerai
Tuhan. Saya tidak mau bercerai. Kaul saya menerima sakramen perkawinan harus
sampai maut memisahkan. Saya taat menjalankan apa yang Kau perintahkan dan larang. Jangan ambil Mas Tomy dari saya, Tuhan. Bukankah ia adalah yang Mesias yang
Engkau berikan sendiri pada saya?
Apa
jangan-jangan Kau berikan keriput ini karena cemburu?
Terkesiap
Tuhanku!
Ah,
tidak, tidak.
Menggelengkan kepala
Tuhan
tidak mungkin sedangkal itu. Lagipula itu bukan sepenuhnya salah saya. Ini
salah kondisi! Cerita lama tidak perlu diungkit lagi, tapi Kau harus tahu dengan pasti: ia datang di saat yang tepat dengan segala kemurahan hati menawarkan mimpi-mimpi indah yang tak pernah terlintas dalam benak saya. Dua puluh lima tahun yang lalu, menanggalkan
keinginannya untuk selibat.
Jadi ia bukan milik-Mu, lagi. Ia adalah miliknya saya! Milik hubungan saya yang paling sempurna!
Jadi ia bukan milik-Mu, lagi. Ia adalah miliknya saya! Milik hubungan saya yang paling sempurna!
Ya
jangan sembarangan mencemburu, dong. Malu! Cinta kasih kan Kau sendiri yang
mengajarkan. Urusan yang teknis sambung menyambung di belakang. Perkara ranjang
panas atau tidak itu urusan saya yang ngangkang, bukan begitu Tuhan?
Tertawa gugup
Ya,
begitu kan. Begitu!
Jangan
ceraikan kami. Saya akan bertahan, apapun caranya, Tuhanku. Demi Kaul, demi
kawin, demi Romy. Litani, Angelus, jalan salib, apalah. Bisa diatur.
Ah….
Tertunduk, menghela napas panjang
Lenny,
Lena, Magdalena. Hari ini adalah hari spesial. Tenang. Nyonya Besar yang
berbahagia. Pada akhirnya akan berjalan begitu mesra dengan Tuan Besar dan
pangeran kecil mereka. Makan dan tertawa sebagaimana keluarga yang sempurna.
Tanpa pembantu esok hari pun tidak apa-apa. Semua sempurna, tidak bercacat.
Senyum merekah
Oh…
mereka datang!
Merapihkan baju
Sebentar!
Iya sebentar, Mas.
Komentar
Posting Komentar