Ini persoalan yang kelewat
sepele. Cuma perkara sapaan; sebut nama kecil. Basian yang saking klisenya
sampai dianggap sebagai sebuah bumbu-bumbu manis dari awal percakapan.
Penambahnya barangkali senyum simpatik dari sepasang mata yang kelewat lelah
menghadapi salah satu hari di kota Jakarta. Atau sedikit gestur yang
menggambarkan kepenatan melawan arus pulang kantor, atau sibakan ringan pada
baju yang tengah dikenakannya untuk sekedar menyulut rokok. Yah, biasa saja.
Tapi kenapa, ya, sekilasan
panggilan itu bisa begitu membekas?
Saya mencoba menjawabnya beberapa
jam yang lalu. Sembari berkutat dengan percakapan bersama beberapa orang lalu prasangka berlebih mengenai hal yang
lain. Dan muncul sebuah konklusi. Horor lebih tepatnya. Diakibatkan oleh
perasaan familiar yang menjelma sebagai sebuah jendela kembali ke
waktu-waktu silam. Saya mentok di sebuah prasasti, pada sebuah musim semi, di
sebuah malam yang agaknya terlalu malam.
Lalu bayangan yang meluncur
dengan indahnya kurang lebih merupakan gambaran sebuah tanah beraroma basah
hujan, sebuah pohon dan seorang pemuda; menatap jauh ke arah pohon poplar.
Tercenung. Mendamba. Menggambarkan setiap dedaunan pohon tersebut dalam
ingatannya dengan guratan pena imajiner.
Seketika, ulu hati saya
tertonjok.
Alarm yang berada jauh di
belakang kepala saya menyuarakan pertanda siaga satu. Segala yang abstrak mulai
melangkah, mendekat. Hampir-hampir sama seperti dulu. Dan seperti siapapun yang
berada dalam penglihatannya, saya cuma bisa menelan ludah. Barangkali menelan amarah
terhadap diri sendiri.
Karena, ya, atmosfer yang
tercipta memang bagus. Lebih jauh lagi, gambaran yang disuguhkan sebagai hidangan
utama terasa sangat renyah, selaras porsinya dengan perhatian-perhatian ringan
yang jauh dari kata ‘penting banget’. Lalu sapaannya. Singkat saja….
Ah.
Kenapa. Masih. Terus. Terngiang?
Komentar
Posting Komentar