Langsung ke konten utama

Sepele

Ini persoalan yang kelewat sepele. Cuma perkara sapaan; sebut nama kecil. Basian yang saking klisenya sampai dianggap sebagai sebuah bumbu-bumbu manis dari awal percakapan. Penambahnya barangkali senyum simpatik dari sepasang mata yang kelewat lelah menghadapi salah satu hari di kota Jakarta. Atau sedikit gestur yang menggambarkan kepenatan melawan arus pulang kantor, atau sibakan ringan pada baju yang tengah dikenakannya untuk sekedar menyulut rokok. Yah, biasa saja.

Tapi kenapa, ya, sekilasan panggilan itu bisa begitu membekas?

Saya mencoba menjawabnya beberapa jam yang lalu. Sembari berkutat dengan percakapan bersama beberapa orang lalu prasangka berlebih mengenai hal yang lain. Dan muncul sebuah konklusi. Horor lebih tepatnya. Diakibatkan oleh perasaan familiar yang menjelma sebagai sebuah jendela kembali ke waktu-waktu silam. Saya mentok di sebuah prasasti, pada sebuah musim semi, di sebuah malam yang agaknya terlalu malam.

Lalu bayangan yang meluncur dengan indahnya kurang lebih merupakan gambaran sebuah tanah beraroma basah hujan, sebuah pohon dan seorang pemuda; menatap jauh ke arah pohon poplar. Tercenung. Mendamba. Menggambarkan setiap dedaunan pohon tersebut dalam ingatannya  dengan guratan pena imajiner.

Seketika, ulu hati saya tertonjok.

Alarm yang berada jauh di belakang kepala saya menyuarakan pertanda siaga satu. Segala yang abstrak mulai melangkah, mendekat. Hampir-hampir sama seperti dulu. Dan seperti siapapun yang berada dalam penglihatannya, saya cuma bisa menelan ludah. Barangkali menelan amarah terhadap diri sendiri.

Karena, ya, atmosfer yang tercipta memang bagus. Lebih jauh lagi, gambaran yang disuguhkan sebagai hidangan utama terasa sangat renyah, selaras porsinya dengan perhatian-perhatian ringan yang jauh dari kata ‘penting banget’. Lalu sapaannya. Singkat saja….

Ah.


Kenapa. Masih. Terus. Terngiang?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psalter of Undone Girls

Book I: Of Hunger Psalm I. The Starvation Game She starved at the table of touch. Every smile was rationed. She learned to chew absence, to swallow glances like crumbs. The hunger taught her that even neglect has calories. Psalm II. The Mouth as Wound The mouth opens for speech, but bleeds instead. Desire leaks, iron-tasting. A kiss is just a suture failing. What is voiced is not heard, what is heard is not held. Psalm III. Banquet of Absence We sit around a feast of plates. The cutlery gleams with nothing. We praise the spread of air, raise a toast to lack. Our bellies groan like choirs, our hollow becomes our hymn. Psalm IV. The Body as Empty House Her ribs are doorframes, her lungs the dusty halls. Every step echoes. She lies in bed with drafts for companions, the wallpaper peeling like memory. Hunger is not only of the stomach, but of the rooms no one enters. Psalm V. Communion of Ash They offered her bread that dissolved into soot. They poured her wine that tasted of vinegar and s...

Malaikat yang Menyamar - T.S. Arthur (1851)

Malaikat yang Menyamar atau An Angel in Disguise (1851) tampil dalam koleksi cerita T.S. Arthur yang berjudul After a Shadow and Other Stories .  "Manisnya anak yang sakit itu, yang selalu memandangnya dalam cinta, kesabaran, dan rasa syukur seperti madu bagi jiwanya, dan dia menggendongnya dalam hatinya juga dalam pelukannya, sebuah beban yang berharga." Hmayak Artsatpanyan, Sick Child, 1900 Kemalasan, sifat buruk, dan konsumsi alkohol berlebih telah melakukan tugas mengerikan, dan Si Ibu yang mati itu terbujur kaku di tengah anak-anaknya yang malang. Wanita itu jatuh di ambang pintu rumahnya dalam keadaan mabuk, dan meninggal di tengah keberadaan anak-anaknya yang masih kecil serta ketakutan. Kematian menyentuh rasa kemanusian paling mendasar. Wanita ini telah dihina, diolok, dan dikecam oleh hampir setiap lelaki, wanita, dan anak-anak di desa tersebut; tapi sekarang, bersamaan dengan kabar kematiannya yang disebarkan dari mulut ke mulut dengan nada mura...

Tentang Anu

Nganuannya saya sederhana, sebenarnya.  Kalau nganu sama si anu harus bisa anu yang pelan-pelan. Pendekatan anunya juga harus luar biasa sabarnya, kayak anu-anuan yang ditahan. Tapi kalau begitu jadinya gampang banget, ya gak sih? Anu sama si anu harus anu yang pelan-pelan; keanuaan yang terjadinya lama dan pelan-pelan pastilah nganu sampe langgeng; sayangnya bukan cuma itu aturannya. Ada ratusan aturan peranuan yang harus ditepati dengan konsekuensi berikut ketika aturan-aturan anu itu tidak dianukan; “Tidak melakukan aturan anu yang benar, maka anuan selanjutnya pasti kacau. Tidak memasukan anu pada anu yang tepat, bisa bikin kepala dipenuhi keanuanuan yang bikin anu makin besar. Salah membaca anu malah melakukan anu, luar biasa bodohnya.” Nganu? Ya, anu bangetlah.  Tapi yang nganu-nganu itu, juga peraturan-peraturannya bisa menganukan hidup jadi tenang. Mata jadi anu, hidung jadi anu. Telinga juga dengarnya yang anu-anu saja. Hati terbebas dari anu bahkan jiwa m...