Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

Awang

Lalu menyerah adalah keputusan yang paling mudah diambil.                 Tidak ada dari kita yang mau mengatakannya. Kita Cuma memilih untuk menjalaninya masing-masing sebagai bentuk dari keseharian biasa. Hal-hal sederhana dipandang sebelah mata. Bukan berarti tanpa alasan. Kita paham betul bahwa masalah sebenarnya bukanlah siapa yang paling kuat yang akan bertahan nantinya. Ini Cuma perkara siapa yang akan meninggalkan siapa duluan. Dan kesederhanaan mendadak malah membuat semuanya menjadi terlalu sentimental.                 Awalnya selalu bersumber dari prasangka. Lalu tiba-tiba ia berubah menjadi awang yang menjalar seperti tanaman rambat; liar. Di sini memori tidak lebih berarti dibandingkan debu tebal diantara buku-buku usang. Maka diam adalah pilihan kita berdua. Maka diam, adalah cara paling mudah untuk mengabaikan segala ...

Takdir

“Apa kamu seorang fatalis?” Pertanyaan itu terlontar begitu saja. Mentah. Menimbulkan lebih banyak rasa curiga dibandingkan rasa penasaran, beda dari yang biasanya. Padahal malam itu adalah malam yang sama seperti yang biasa kita habiskan berdua. Dua gelas kopi berpadu dengan singkong goreng di pinggiran jalan dekat tempat kos saya.  Berawalnya juga dari hal yang sama; satu batang rokok yang dibakar, asap-asap yang berkelindan dengan kelebatan hari yang sudah lewat. Banyak obrolan, banyak tawa riang. Tapi kenapa tiba-tiba kamu menanyakan itu, sampai sekarang pun saya tidak tahu. “Kenapa juga harus menanyakan hal itu?” “Cuma kepingin tahu,” kamu bilang sembari menyeruput kopi hitammu. “Kalau tidak mau jawab juga tidak apa-apa. Ini pertanyaan iseng.” Lalu otak saya mengeriput. Saya memutuskan untuk mengunyah singkong goreng yang lain di piring. “Bukan,” jawab saya. “Kamu?” Kamu diam sejenak sebelum menjawab, "Agaknya saya percaya takdir.” “Berarti kamu fatalis.” ...

Jamais Vu

Satu-satunya cara terbaik mengingatmu memang hanya dengan menutup mata. Segera setelah gelap, segalanya perlahan hadir kembali. Adalah sebuah kafe dengan banyak foto menggantung di dindingnya yang saya pilih sebagai tempat kita bertemu. Udara dingin menyambut kita hampir secara bersamaan dengan musik yang tiba-tiba menjadi fokus utama setelah pembicaraan yang berlangsung cukup lama mendadak patah di pertengahan. Bincang-bincang di sekitar, bincang-bincang di kepala. Seorang pelayan menyodorkan satu pesanan lagi di meja kita, lalu kamu duduk di sebelah saya; memandang layar televisi yang menampilkan sesosok wajah artis kenamaan tengah melenggokkan tubuhnya secara dramatis mengikuti alunan musik. Tapi kamu tidak sedang berada bersama saya saat itu. Kamu tengah masuk ke dalam dirimu sendiri, ke sebuah tempat yang sama sekali tidak bisa saya jangkau. Saya tetap bertahan di sebelah kamu. Membisu dalam penantian, menunggu dengan sabar ditemani asap rokok yang memuakkan dan segelas kopi...

Tentang Sementara

Puncaknya barangkali adalah kebosanan. Sedang mengenai alasan-alasan yang mendorong perasaanmu sampai ke titik tersebut bukannya berarti lebih dari sekadar iri hati dan dengki. Sekejut saja, kecil saja; bersumber pada ketidaksukaanmu terhadap caranya menyebut nama perempuan lain itu, caranya bercerita mengenai dahulu mereka yang tidak pernah ada kamunya lalu selintas gambaran rupa perempuan yang sama; yang selalu ia pasang di penampang tampilan ponselnya. Tapi yang kecil-kecil itu saja sudah cukup―menumpuk, tumpang tindih. Lalu tiba-tiba saja kau merasa muak kemudian jenuh.  Lucunya, kau sempat merasa bisa menipunya. Sindiran yang terlalu tepat mengenai kebodohan lelaki itu memang samar. Ibarat panah beracun, barangkali yang jenisnya cuma terasa perih di kulit ari sebelum akhirnya menyebar ke seluruh pembuluh darah; membunuh. Hanya saja, apalah arti kalimat yang kau ucapkan sewaktu dulu kalian bertemu dan menemukan banyak persamaan-persamaan bodoh itu? Te...