Langsung ke konten utama

Rokok dan Tulisan

Pukul dua lewat lima menit, bunyi guyuran toilet ramai memecah suasana siang yang hening dari salah satu kamar kosan di bilangan Jakarta Barat. Tak lama setelahnya terdengar suara mengumpat dari dalam toilet yang sama. Hening sebentar, sebelum suara guyuran toilet kembali terdengar.

Setelahnya, seorang perempuan keluar dari toilet. Raut wajahnya nampak kesal seperti habis melakukan sebuah kewajiban ganjil yang tidak pernah ia pahami tujuannya. Rambutnya yang pendek nampak awut-awutan. Ia coba untuk merapihkan rambutnya dengan usaha setengah hati. Si perempuan menghela napas, membereskan tumpukan baju di atas kursi. Sesekali ia melihat ke arah tempat tidur sebelum kembali menekuni baju-bajunya.

“Semalam.... aku tidak bisa tidur,” ujar perempuan itu membuka pembicaraan. “Ini sudah kali keempat minggu ini. Aku uring-uringan, berbaring kesal di atas tempat tidur, mencari kantuk yang tak kunjung datang. Akhirnya aku bangun dari tempat tidur, bingung memutuskan antara apakah aku akan merokok atau menulis. Malam itu aku memutuskan untuk mengambil pena, menulis.”

“Menulis?” ulang seorang pria yang duduk di tempat tidur. Ia sibuk mengecek pesan di ponsel pintarnya.

“Iya, menulis.”

“Tumben,” lelaki itu membenarkan kacamatanya. Ia menaruh ponselnya di atas nakas dan mengambil sebuah buku bersampul hijau yang mengingatkan si perempuan akan gelas kopi besar milik ayahnya. Si lelaki tersenyum singkat, “Seingatku kamu tidak suka menulis.”

“Tetiba saja ingin meski tidak suka. Apa harus jadi orang yang suka menulis untuk menulis?” Si perempuan mengernyitkan keningnya agak terganggu.

“Ya, tidak harus begitu,” ia menghela napas sebelum melanjutkan. “Lalu apa yang kamu tulis?”

“Entahlah. Baru beberapa kata pembuka,” Si Perempuan memakai tanktop putihnya. Ia membuka pintu yang mengarah ke balkon. Siang itu terik lengkap dengan angin kering yang berhembus masuk ke dalam kamar. “Aku berpikir untuk menceritakan kisah mengenai cangkir hitam pekat yang tidak pernah ditemukan atau seorang pemuda yang mengejar bunyi lonceng gereja di laut. Tapi belum sempat salah satunya kutulis, sudah keburu pagi.”

Si Perempuan yang akrab dipanggil Si Lelaki dengan nama Dirana mengambil sebatang rokok, menyalakan pemantik, dan menghisapnya dalam-dalam. Rokok pertama yang ia hisap hari itu membuatnya agak pusing dan lega di saat yang bersamaan. Sebuah sensasi yang aneh dan familiar timbul di perutnya dan menjalar ke seluruh tubuh. 

“Akhirnya semalaman aku hanya sempat menulis kalimat yang tak utuh. ‘Alkisah di sebuah desa,’... begitu bunyi kalimat yang kutulis. Tapi setelahnya tidak ada apa-apa.”

Gadis berambut merah menyala itu menghembuskan asap rokok tipis, bergelung dan hilang di udara. “Kemudian aku berpikir, mungkin rokok jauh lebih baik daripada tulisan. Merokok jauh lebih waras daripada menulis.”

“Menurutmu begitu?” Keningnya berkerut, diam sejenak. “Menurutku sama saja.”

“Begitu?”

Lelaki itu menganggukan kepalanya. “Menurutku  yang mana pun pilihanmu akan sama-sama menghabiskan. Kalau merokok yang habis paru-parumu. Sementara itu jika kamu menulis yang habis adalah pikiranmu.”

“Paling tidak merokok bisa membawa sedikit ketenangan dan masalahku pun pergi seperti asap saja.”

“Apa masalahnya benar pergi?”

“Kupikir begitu.”

“Oh,” desahnya tidak terlalu tertarik. William, lelaki di atas tempat tidur itu, kembali membuka bukunya sembari menukas, “Kupikir mereka tetap tinggal di tempurung kepalamu. Dan membangun rumah. Dan beranak pinak. Dan menyedot seluruh sari kehidupanmu karena kamu tidak menulis. Kamu akan tetap merokok. Paru-parumu akan habis. Pikiranmu tetap ada tapi sia-sia. ”


Dirana tersenyum getir. Suara William seolah bergaung dan memutuskan untuk menetap dalam ruang kosong di hatinya. Lelaki ini tidak mengerti barang sedikit pun, tidak melihat secara seksama, jika Dirana memang sudah dari dulu habis dan tak bersisa semenjak mereka memutuskan untuk tidur bersama.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psalter of Undone Girls

Book I: Of Hunger Psalm I. The Starvation Game She starved at the table of touch. Every smile was rationed. She learned to chew absence, to swallow glances like crumbs. The hunger taught her that even neglect has calories. Psalm II. The Mouth as Wound The mouth opens for speech, but bleeds instead. Desire leaks, iron-tasting. A kiss is just a suture failing. What is voiced is not heard, what is heard is not held. Psalm III. Banquet of Absence We sit around a feast of plates. The cutlery gleams with nothing. We praise the spread of air, raise a toast to lack. Our bellies groan like choirs, our hollow becomes our hymn. Psalm IV. The Body as Empty House Her ribs are doorframes, her lungs the dusty halls. Every step echoes. She lies in bed with drafts for companions, the wallpaper peeling like memory. Hunger is not only of the stomach, but of the rooms no one enters. Psalm V. Communion of Ash They offered her bread that dissolved into soot. They poured her wine that tasted of vinegar and s...

Aku, Cthulhu

Neil Gaiman, 1986, https://www.neilgaiman.com/Cool_Stuff/Short_Stories/I_Cthulhu Ilustrasi Cthulhu oleh Disse86 dari DeviantArt I.   Cthulhu, begitu mereka memanggilku. Cthulhu yang Agung.    Tidak ada seorangpun yang bisa mengeja namaku dengan benar.   Apa kau menulis semua ini? Kata per kata?   Bagus. Harus kumulai dari mana—mm?   Ya sudah, kalau begitu. Dari awal. Tulis apa yang kubilang, Whateley.   Aku dilahirkan ribuan tahun yang lalu, dalam kabut gelap Khaa’yngnaiih (tidak, tentu saja aku tidak tahu bagaimana mengejanya. Tulis saja sesuai bunyinya) dari orang tua mimpi buruk tak bernama, di bawah bulan yang bungkuk. Bukan bulan dari planet ini, tentu saja, aku lahir di bawah bulan sungguhan. Di malam-malam tertentu, bulan itu memenuhi lebih dari separuh langit dan saat bulan tersebut naik, kau bisa menyaksikan darah merah jatuh dan menetesi wajahnya yang bengkak, menodai wajahnya merah, sampai pada titik ketinggian di mana cahayanya menyirami r...

Ragu Menyengat

Kamu tahu, apa yang angin hadirkan padaku malam itu? Ragi, ragu, keringat udara musim penghujan berbau menyengat. Sedikit manis lalu asam membaur di permukaan lidah. Rontok segala yang ada di dada meski jarak tidak seberapa. Ujung-ujungnya aku terengah menjadi gerah dan lelah Gelitik hari itupun runut selantunan kecapi pada telinga ia berbuah rasa hangat yang hanya bertalu-talu di dada bukan tipikal rindu yang mudah dinikmati Kilasan pertemuan, tawa yang menjemukan, cinta yang mengharukan, Tidak pernah sederhana malah menuai petaka Lalu setelah ini apa? "Mari kita menyerah dan tanggalkan  harapan masing-masing sebelum hilang selamanya." 25 Agustus 2013.