Langsung ke konten utama

Perasaan Lansia Yang Dijangkiti Penyakit Tua Mudah Terluka



Seorang mahasiswi tingkat akhir jurusan seni rupa dan desain seharusnya tidak menginjakan kaki di sana. Seorang mahasiswi tingkat akhir jurusan seni rupa dan desain seharusnya berkutat dengan pematangan konsep tugas akhir dan eksekusi yang beberapa bulan ini menghantui tidurnya. Tapi karena masalah kepailitan yang membuat rencana penyelesaian tugasnya berantakan dan perutnya keroncongan, Kania akhirnya dengan berat hati menerima tawaran pekerjaan membereskan sebuah rumah di daerah Kemanggisan, Jakarta Barat, dari pamannya.

Jadilah perempuan itu bangun pagi-pagi buta di hari Kamis, mengencangkan perutnya dengan sabuk kulit supaya rasa lapar tidak terlalu mengganggunya, dan mengangkuti semua peralatan kerja−berisi sarung tangan, kaos kerja butut, masker serta sepatu boots−ke dalam bagasi mobil. Tak lupa ia turut membawa beragam merek disinfektan dan wewangian. Kemudian, setelah beres semua perlengkapan dikemas, Kania meluncur ke alamat yang telah dibagikan pamannya lewat sebuah pesan messenger.

Demi menambah uang jajan, Kania bekerja paruh waktu membantu usaha pamannya yang seorang pemborong puing-puing bangunan dan penyedia jasa bersih-bersih-rumah-paska-kejadian-tak-diinginkan. Dari kedua tipe usaha yang pamannya geluti, Kania lebih sering membantu usaha yang terakhir.

Ide usaha pamannya yang terakhir ini muncul pertama kali sebagai bentuk kerja sosial. Daerah tempat tinggal pamannya memiliki tingkat kepadatan dan kemiskinan yang berbanding lurus tingginya. Saat kedua hal tersebut bercampur aduk, maka keputusasaanlah yang tersisa; mencekik para tetangga hingga mereka memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka di rumah.

Kasus pembersihan pertama si Paman adalah membereskan rumah tetangganya, Yono, seorang lelaki paruh baya. Ia ditemukan meninggal di kamar mandi sempit rumahnya setelah sebuah sayatan maut memutus nadinya. Meski tubuhnya telah diurus oleh pihak terkait, tidak ada yang berani atau mau peduli lebih tepatnya untuk membereskan sisa darah di sana. Jadilah paman Kania berinisiatif melakukan pembersihan rumah Yono yang sebatang kara itu.

Semenjak kasus Yono, Si Paman sering dimintai tolong untuk melakukan hal serupa. Dalam seminggu Si Paman bisa membersihkan hingga lebih dari 5 rumah. Ketika semakin banyak tawaran membersihkan rumah datang kepadanya―kebanyakan tawaran datang dari daerah berbeda dan memiliki bayaran pantas―Si Paman mulai berpikir menjadikannya usaha. Ia kemudian memanggil Kania, kemenakannya yang tekun dan melarat, untuk membantu mengembangkan usaha keduanya ini.

Semenjak membantu pamannya, Kania sering pergi mengelilingi tempat-tempat tersembunyi di Jakarta untuk membereskan rumah atau apartemen atau kosan setelah sebuah kejadian tak diinginkan yang biasanya menuai banyak berita. Berbagai kejadian yang tak diinginkan ini meliputi kejadian pembunuhan (oleh orang lain atau diri sendiri), penimbunan sampah berlebihan−yang biasanya menimbulkan pecahan tangis dari salah satu klien karena tidak terima ‘harta’ mereka dibuang begitu saja meski sudah dijelaskan berkali-kali kalau kertas koran serta styrofoam kosong harus masuk ke dalam tempat sampah−dan kematian tanpa sanak-saudara.

Meski telah terbilang lama menjalani profesi sebagai staf bersih-bersih paruh waktu pamannya, kira-kira semenjak semester dua, Kania tidak pernah bisa melepaskan perasaan-perasaan kesal dan sedih yang kerap kali ia rasakan seusai menunaikan kewajibannya.

Perempuan itu merasa begitu kesal karena pemerintah lewat instansi-instansinya seperti pemadam kebakaran atau kepolisian tidak mau repot mengurusi proses pembersihan hunian. Bagi mereka urusan hunian sama seperti nasib keluarga yang ditinggal mati korban itu bukanlah lingkup kerja yang harus mereka pusingkan. Biar nasib saja yang menentukan.

Lebih dari kesal, Kania juga sering merasa sedih sebab bagaimana pun beberapa ruangan kosong berantakan yang ia bersihkan pernah menjadi sebuah suaka bagi sesosok kehidupan yang terkucil. Ia kerap membayangkan bagaimana orang-orang terkucil itu hidup sebelum akhirnya ketidakwarasan merayap pelan di dalam kepala, ketidakpastian mencekik leher, dan kemudian menjelma bayangan hitam panjang di dinding tempat mereka bernaung. Biasanya ketika perasaan sedih Kania menjadi tidak tertahankan, ia akan melipir sebentar ke pub dan memesan segelas bourbon supaya setidaknya saat tidur semua pemandangan yang mengganggunya itu sirna, tidak sampai terbawa mimpi.

Maka ketika kedua kakinya menjejak tanah pekarangan sebuah rumah tua dengan aksitektur khas jaman kolonial di Kemanggisan dan melihat kondisinya yang menyedihkan dengan tumpukan benda rongsok menggunung di sisi kanan serta kayu-kayu legam di sisi kiri bangunan, Kania tahu pekerjaannya di hari itu akan sangat berat, sangat mengesalkan, dan akan membuat dirinya merasa sangat sedih. Malam ini, ia pasti membutuhkan segelas atau dua atau bergelas-gelas bourbon.

Tak berapa lama setelah Kania sampai dan menikmati waktunya menerka-nerka seperti apa kondisi dalam rumah tua itu, pamannya keluar dari pintu depan rumah bercat hijau kusam bersama seorang lelaki paruh baya dengan langkah agak berhati-hati, seolah takut menginjak jebakan tikus, sembari serius berbincang.

“Gimana, paman?” tanya Kania, suaranya dipaksakan terdengar agak keras supaya perhatian pamannya teralihkan.

Si Paman yang bertubuh agak gempal dengan kumis keriting mengeluarkan selembar sapu tangan dan mulai mengelap wajahnya yang dibanjiri peluh. Wajahnya muram, begitu pun dengan suaranya. “Nampaknya bakal berat, Kan. Keadaan di dalam benar-benar….” Si Paman menahan napas, mencari sebuah kata yang tepat, tapi tidak berhasil.

“…..berantakan?”

“Lebih dari berantakan,” tukas Si Paman tidak sabaran. “Gila pokoknya!”

Si Pria Paruh Baya yang tadi keluar bersama paman dari dalam rumah menampilkan ekspresi simpatik. “Nenek Lalita tinggal sendirian. Tidak punya sanak saudara, tidak juga dia menyewa pembantu untuk sekedar membereskan rumah. Jadi, yah, dengan keadaan begitu dan tenaga seadanya, hidup sampai usia tujuh puluh dua saja bisa dikatakan prestasi besar.”

“Yah, terlepas dari itu, Pak Kardi… Seharusnya sudah jadi tanggung jawab bareng-bareng warga sini buat ngebantu si nenek hidup lebih layak. Minimal menengok atau kasih tahu kalau tumpukan kayu dan besi rongsok di depan rumahnya ini bisa membawa banyak penyakit,” gerutu Si Paman.

Pak Kardi hanya mengangkat bahu. “Kami sebagai warga yang tinggal dekat rumahnya sudah memberi teguran, pak, tapi perasaan lansia yang dijangkiti penyakit tua mudah terluka. Terakhir kami mengunjungi rumah ini untuk mengangkut beberapa besi yang condong ke jalan, Nenek Lalita teriak njerit-jerit kayak kesetanan. Ngamuk, pak, dek,” Pak Kardi membubuhkan jeda sedemikian detik sembari menatap Kania dan Si Paman secara bergantian demi mendapatkan efek dramatis. “Nenek Lalita sampai nyumpahin satu generasi lelaki di rumah saya punya titit bernanah.”

Pak Kardi menggelengkan kepala, sedikit bergidik. “Yah, akhirnya kami nggak bisa apa-apa kecuali menunggu sampai si empunya rumah pergi atau seperti sekarang ini,” ujar Pak Kardi suaranya semakin lama semakin mengecil, seperti terganggu sendiri dengan kalimat yang meluncur dari mulutnya. Lelaki itu pun lantas membelokan arah pembicaraan. “Gimana pun, saya harap urusan beres beberes rumah ini bisa ditangani dengan cepat ya, pak.”

“Kalau bapak mau rumah ini dibersihkan ya seminggu waktunya,” tukas paman.

“Nggak bisa lebih cepat, pak?”

“Bisa, tapi dirobohkan saja sekalian.”

“Jangan dong, pak,” sergah Pak Kardi. “Rumah Nenek Lalita ini punya nilai sejarah tinggi. Salah satu yang mati-matian masih dijaga keaslian desainnya oleh pemerintah. Kalau ini dirobohkan, matilah saya. Bagaimana kalau dua hari, pak?” Pak Kardi berusaha menawar.

Mata Si Paman seolah hampir meloncat dari tempatnya bertengger. Kania bisa membayangkan gelembung-gelembung kecil emosi meletus dalam dada pamannya. Dengan gigi dikatupkan erat-erat dan senyum lebarnya, Si Paman berkata, “Empat hari, pak. Itu sudah paling maksa. Saya juga maunya cepat pak. Tapi dengan kondisi yang sudah saya lihat dengan mata kepala saya sendiri, mau tidak mau saya hanya bisa menawarkan empat hari.

“Cobalah bapak mengerti posisi saya. Saya harus memanggil beberapa orang lagi buat mengerjakan pembersihan rumah ini dan itu bukan pekerjaan yang mudah.”

Pak Kardi akhirnya menerima. Tak berapa lama ia meminta izin pamit dengan alasan sudah dicari istrinya. Tinggallah Si Paman yang memandangi punggung Pak Kardi menjauh dan Kania di sampingnya.

“Tahu kondisinya begitu, nggak bakal paman terima,” gerutu si paman penuh penyesalan, seperti memandang nasi yang telah terlanjur benyek menjadi bubur. “Ya sudahlah. Terlanjur. Hari ini kita bereskan pekarangan dulu. Besok baru masuk ke dalam rumah. Nanti sediakan disinfektan dan wewangian yang banyak.”

“Aku udah bawa, paman,” ujar Kania.

“Jumlah yang biasa kamu bawa nggak bakal cukup. Bau mayat nenek tua yang membusuk di ranjang selama sebulan nggak bakal hilang dengan wewangian yang biasa.”


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psalter of Undone Girls

Book I: Of Hunger Psalm I. The Starvation Game She starved at the table of touch. Every smile was rationed. She learned to chew absence, to swallow glances like crumbs. The hunger taught her that even neglect has calories. Psalm II. The Mouth as Wound The mouth opens for speech, but bleeds instead. Desire leaks, iron-tasting. A kiss is just a suture failing. What is voiced is not heard, what is heard is not held. Psalm III. Banquet of Absence We sit around a feast of plates. The cutlery gleams with nothing. We praise the spread of air, raise a toast to lack. Our bellies groan like choirs, our hollow becomes our hymn. Psalm IV. The Body as Empty House Her ribs are doorframes, her lungs the dusty halls. Every step echoes. She lies in bed with drafts for companions, the wallpaper peeling like memory. Hunger is not only of the stomach, but of the rooms no one enters. Psalm V. Communion of Ash They offered her bread that dissolved into soot. They poured her wine that tasted of vinegar and s...

Aku, Cthulhu

Neil Gaiman, 1986, https://www.neilgaiman.com/Cool_Stuff/Short_Stories/I_Cthulhu Ilustrasi Cthulhu oleh Disse86 dari DeviantArt I.   Cthulhu, begitu mereka memanggilku. Cthulhu yang Agung.    Tidak ada seorangpun yang bisa mengeja namaku dengan benar.   Apa kau menulis semua ini? Kata per kata?   Bagus. Harus kumulai dari mana—mm?   Ya sudah, kalau begitu. Dari awal. Tulis apa yang kubilang, Whateley.   Aku dilahirkan ribuan tahun yang lalu, dalam kabut gelap Khaa’yngnaiih (tidak, tentu saja aku tidak tahu bagaimana mengejanya. Tulis saja sesuai bunyinya) dari orang tua mimpi buruk tak bernama, di bawah bulan yang bungkuk. Bukan bulan dari planet ini, tentu saja, aku lahir di bawah bulan sungguhan. Di malam-malam tertentu, bulan itu memenuhi lebih dari separuh langit dan saat bulan tersebut naik, kau bisa menyaksikan darah merah jatuh dan menetesi wajahnya yang bengkak, menodai wajahnya merah, sampai pada titik ketinggian di mana cahayanya menyirami r...

Ragu Menyengat

Kamu tahu, apa yang angin hadirkan padaku malam itu? Ragi, ragu, keringat udara musim penghujan berbau menyengat. Sedikit manis lalu asam membaur di permukaan lidah. Rontok segala yang ada di dada meski jarak tidak seberapa. Ujung-ujungnya aku terengah menjadi gerah dan lelah Gelitik hari itupun runut selantunan kecapi pada telinga ia berbuah rasa hangat yang hanya bertalu-talu di dada bukan tipikal rindu yang mudah dinikmati Kilasan pertemuan, tawa yang menjemukan, cinta yang mengharukan, Tidak pernah sederhana malah menuai petaka Lalu setelah ini apa? "Mari kita menyerah dan tanggalkan  harapan masing-masing sebelum hilang selamanya." 25 Agustus 2013.