Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2018

Bibirmu

Dadamu, genderang perang  yang tak putus bertalu-talu.  Air matamu, sungai kecil yang senantiasa mengalir Bibirmu, sebuah bagaimana  dan jika yang tidak pernah  kutemukan  akhirnya. ________________________ Kolaborasi: Sekumpulan Tanya Kunjungi juga blog  written words, twisted thoughts.   dan  @xditania  /  @ditaniam  di kanal Instagram untuk tulisan-tulisan Kolaborasi Sekumpulan Tanya oleh Ditania Melivia.

Doa

Sudah berbulan-bulan doa-doaku merapal dirinya sendiri.  Tiap malam mereka mencari jalan setapak menuju sebuah tempat. Barangkali  menuju  kamu. Doa-doaku memburu ingin segera pulang  ke pelukanmu; mengubur tubuh ini dalam-dalam di jantungmu. Mungkin doaku tahu  mustahil rindu menang berkompromi melawan waktu.  Mungkin saja, siapa yang  tahu? "Pulanglah cepat agar  kamu merasa hangat  meski tersesat; sedikit kuat  walau berakhir sekarat." Doa-doaku paham betul pada akhirnya hanya kamulah liang kuburku.

Sabda Kedua

Untuk semua malam  yang tak pernah terjadi dan semua hari  yang mustahil diamini, Lelaki tua menjelma jawaban yang dinanti para pencari dan berlari ke segala penjuru dan bersemayam dalam laku dan menyamar jadi kamu. Agar sepi tak lekas mati, Ia merangkum dirinya, semua rasa herannya, dalam sebait puisi:  "Sabda masih menenun cerita  di bawah jendela. Ia masih belum mau kembali ke rumahnya tidak melalui kata, tidak melewati kenapa." ________________________ Kolaborasi: Sekumpulan Tanya Kunjungi juga blog  written words, twisted thoughts.   dan  @xditania  /  @ditaniam  di kanal Instagram untuk tulisan-tulisan Kolaborasi Sekumpulan Tanya oleh Ditania Melivia.

Ia Percaya

Ia percaya akan adanya satu penguasa, lelaki tua yang duduk di sebuah singgasana jauh di atas ubun-ubunnya dan segala yang tampak dan tak menjejak begitu pula yang berjarak. Lelaki tua lahir dari rasa penasaran. Ia diadakan, menolak dijadikan segala sesuatu bersumber dari dahaganya yang tak berkesudahan. Lelaki tua menunduk-nunduk di tempat duduknya jauh di atas awan dan angan. Sampai matahari terbenam, ia masih mendengar lelaki tua tertawa-tawa. Sampai bulan menari di langit, ia masih mendengarnya bertanya; "Mengapa?" Esok hari lelaki tua pergi entah ke mana. Bisa jadi ia mencari anaknya, yang hilang diculik dari salibnya. ________________________ Kolaborasi: Sekumpulan Tanya Kunjungi juga blog  written words, twisted thoughts.   dan  @xditania  /  @ditaniam  di kanal Instagram untuk tulisan-tulisan Kolaborasi Sekumpulan Tanya oleh Ditania Melivia.

Undian - Shirley Jackson (1948)

Pagi hari di tanggal 27 Juni cerah dan terik dengan kehangatan segar khas puncak musim panas; bunga-bunga semarak rupa bermekaran dan rerumputan berwarna hijau cerah. Orang-orang desa mulai berkumpul di alun-alun, yang terletak di antara kantor pos dan bank, sekitar pukul 10 pagi. Di beberapa kota kecil yang memiliki banyak penduduk, acara penarikan undian memerlukan waktu dua hari dan harus dimulai pada tanggal 2 Juni. Namun di desa ini, desa yang hanya berpenduduk tiga ratus orang, acara penarikan undian hanya memakan waktu kurang dari dua jam. Maka, acara tersebut dapat dimulai pada pukul sepuluh pagi dan diakhiri tepat waktu sehingga orang-orang bisa kembali ke rumah masing-masing untuk makan siang. Anak-anak jelas yang pertama kali berkumpul di sana. Sekolah baru saja memasuki masa liburan musim panas, dan kebanyakan dari mereka merasakan kebebasan yang canggung; mereka cenderung berkumpul dalam diam untuk sementara waktu, diam yang nantinya pecah oleh riuhnya permainan se...

Pekat

Seorang gadis menyeduh secangkir sakit. Lantas ia campurkan peluh dan nyeri sedikit. Pekat betul cangkir itu, wanginya menusuk. Lengket betul cairan itu, si gadis terbatuk-batuk.  Di ambang jendela, ia berserak menerka-nerka seperti apa suaranya kelak setelah tandas diteguknya cangkir itu;           lancarkah bicaranya?           puaskah rasa penasarannya?           tertambatkah lubang di tenggorokannya? Si gadis menelan ludah, merasa kalah, dirundung salah, benar-benar bersalah; ngilu di dadanya makin parah. Ia berharap bisa mencecap bir dingin yang mampu mengeluarkannya dari sini. : Kenyataan menjelma takut tak terperi, taksi yang dipesannya sebentar lagi menghampiri. ________________________ Kolaborasi: Sekumpulan Tanya Kunjungi juga blog  written words, twisted thoughts.   dan  @xditania  /  @ditaniam  di kanal Instagram untuk tulisan-tulisan K...

2001

Di Stasiun Gambir, tujuh belas tahun yang lalu, ia belajar jika berita duka lebih mudah diterima ketika terjebak macet dan menyayat hati ibu sendiri dengan ketidakpastian sangatlah mudah, semudah merobek lembaran kertas papir.

Minggat

Seseorang berkata: "Ikutilah arah ke mana   suara hatimu membawamu  pergi, sayangku." Tapi ke manakah jalanku minggat setelah kau buat hatiku  pecah berserak? Supaya semuanya bisa kumengerti, aku akan menyambangimu di mimpi m enyebrangi horizon dan berlabuh di kepalamu malam ini. ________________________ Kolaborasi: Sekumpulan Tanya Kunjungi juga blog  written words, twisted thoughts.   dan  @xditania  /  @ditaniam  di kanal Instagram untuk tulisan-tulisan Kolaborasi Sekumpulan Tanya oleh Ditania Melivia.