Sudah berbulan-bulan
doa-doaku merapal dirinya sendiri.
Tiap malam mereka mencari jalan
setapak menuju sebuah tempat.
Barangkali
menuju
kamu.
Doa-doaku memburu
ingin segera pulang
ke pelukanmu;
mengubur tubuh ini dalam-dalam
di jantungmu.
Mungkin doaku tahu
mustahil rindu menang
berkompromi melawan waktu.
Mungkin saja,
siapa yang
tahu?
"Pulanglah cepat agar
kamu merasa hangat
meski tersesat;
sedikit kuat
walau berakhir sekarat."
Doa-doaku paham betul
pada akhirnya hanya kamulah
liang kuburku.

Komentar
Posting Komentar