Langsung ke konten utama

Undian - Shirley Jackson (1948)



Pagi hari di tanggal 27 Juni cerah dan terik dengan kehangatan segar khas puncak musim panas; bunga-bunga semarak rupa bermekaran dan rerumputan berwarna hijau cerah. Orang-orang desa mulai berkumpul di alun-alun, yang terletak di antara kantor pos dan bank, sekitar pukul 10 pagi. Di beberapa kota kecil yang memiliki banyak penduduk, acara penarikan undian memerlukan waktu dua hari dan harus dimulai pada tanggal 2 Juni. Namun di desa ini, desa yang hanya berpenduduk tiga ratus orang, acara penarikan undian hanya memakan waktu kurang dari dua jam. Maka, acara tersebut dapat dimulai pada pukul sepuluh pagi dan diakhiri tepat waktu sehingga orang-orang bisa kembali ke rumah masing-masing untuk makan siang.
Anak-anak jelas yang pertama kali berkumpul di sana. Sekolah baru saja memasuki masa liburan musim panas, dan kebanyakan dari mereka merasakan kebebasan yang canggung; mereka cenderung berkumpul dalam diam untuk sementara waktu, diam yang nantinya pecah oleh riuhnya permainan sendiri. Yang mereka perbincangankan pun masih seputar kelas dan guru, buku-buku dan hukuman-hukuman sekolah. Bobby Martin telah terlebih dahulu mengisi kantongnya dengan batu sampai penuh, dan anak-anak lelaki lain mengikuti jejaknya, memilah batu-batu paling bundar dan licin yang bisa mereka temui; Bobby dan Harry Jones dan Dickie Delacroix―penduduk desa melafalkan namanya ‘Dellacroy’―akhirnya membuat sebuah tumpukan bebatuan di salah satu sudut alun-alun desa dan menjaganya dari serangan anak-anak lelaki lain yang ingin mengambil batu-batu mereka. Anak-anak perempuan berdiri di sisi lain sambil melirik anak-anak lelaki melewati bahu temannya sementara bocah-bocah yang masih amat kecil berguling-guling di tanah atau menggenggam erat tangan kakak perempuan atau lelaki mereka yang lebih tua.
Tidak lama berselang, para pria mulai berkumpul, mengawasi anak-anak mereka sambil berbincang mengenai topik bercocok tanam, hujan, traktor, dan perpajakan. Mereka berdiri bersama-sama, jauh dari sekumpulan bebatuan di sudut alun-alun. Lelucon mereka lebih lirih dan mereka lebih sering tersenyum daripada tertawa. Para wanita, memakai baju rumah dan sweter berwarna pudar, datang tak lama setelah para pria. Mereka saling menyapa satu sama lain dan bertukar gosip sambil menyusul suami-suami mereka. Kemudian para wanita, berdiri di samping suami-suami mereka, mulai memanggil anak mereka masing-masing. Anak-anak datang menghampiri dengan enggan setelah dipanggil empat atau lima kali. Bobby Martin menghindari cengkeraman tangan ibunya dan berlari sembari tertawa-tawa, lalu kembali ke tumpukan bebatuan. Ayahnya memanggilnya dengan nada mengancam, dan Bobby menghampiri dengan cepat lalu mengambil tempat di antara ayahnya serta kakak lelaki tertuanya.
Acara penarikan undian dimulai―sama seperti acara dansa di alun-alun desa, kelab remaja, dan acara Halloween―oleh Mr. Summers yang memiliki waktu dan tenaga untuk dicurahkan pada kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Mr. Summers, seorang pria riang berwajah bulat yang menjalankan bisnis pertambangan batu bara. Para penduduk desa bersimpati padanya karena ia tidak memiliki anak, dan istrinya seorang wanita pemarah. Ketika ia tiba di alun-alun kota, membawa kotak kayu berwarna hitam, terdengar gumaman di antara para penduduk desa, dan ia melambaikan tangannya seraya berujar, “Sedikit terlambat hari ini, saudara sekalian.” Kepala kantor pos, Mr. Graves, mengikutinya, membawa sebuah bangku tinggi berkaki tiga. Bangku itu ditempatkan tepat di tengah alun-alun dan Mr. Summers meletakkan kotak hitam itu di atasnya. Para penduduk desa menjaga jarak antara mereka dan bangku tinggi tersebut, dan ketika Mr. Summers berkata, “Ada yang mau membantuku?” ada sebuah keraguan sebelum dua orang, Mr Martin dan putra tertuanya, Baxter, maju ke depan untuk menjaga kotak tetap seimbang di bangku tinggi sementara Mr. Summers mengocok lipatan-lipatan kertas di dalamnya.


MILES HYMAN, COURTESY OF HILL AND WANG, A DIVISION OF FARRAR STRAUS AND GIROUX
Alat untuk menarik undian yang asli telah lama hilang dan kotak hitam yang kini menempati bangku tinggi itu telah digunakan bahkan sebelum Si Tua Warner, pria paling tua di desa, lahir. Mr. Summers sering kali mengutarakan keinginannya membuat kotak baru pada para penduduk, tapi tidak seorang pun berkenan akan gagasan itu sebab kotak tersebut sama sucinya dengan tradisi turun temurun yang diwakilinya. Ada cerita bahwa kotak yang sekarang mereka gunakan terbuat dari beberapa potongan kayu kotak pendahulunya, yang dibuat ketika para pendahulu mereka datang untuk mendirikan desa tersebut. Setiap tahunnya, setelah acara penarikan undian, Mr. Summers mulai berbicara kembali mengenai gagasan membuat sebuah kotak baru, tapi setiap tahun pula topik itu dibiarkan menguap tanpa sedikit pun usaha mewujudkannya. Kotak hitam itu semakin lusuh tiap tahunnya. Sekarang kotak itu tidak lagi berwarna hitam pekat. Catnya mengelupas di satu sisi menunjukan warna asli kayu dan di beberapa tempat warnanya memudar atau terkena noda.
 Mr. Martin dan putra sulungnya, Baxter, memegang kotak hitam di atas bangku tinggi itu dengan erat sampai akhirnya Mr. Summers selesai mengocok lipatan-lipatan kertas di dalamnya. Ada banyak bagian dari ritual ini yang telah dilupakan atau dibuang, sehingga Mr. Summers berhasil mengganti potongan kayu yang telah digunakan secara turun temurun dengan lembaran kertas. Potongan kayu, Mr. Summers berdalih, sangatlah cocok digunakan saat desa ini masih terbilang kecil, tapi sekarang setelah populasi melebihi tiga ratus orang dan sepertinya akan terus bertambah, perlu digunakan sesuatu yang mampu dimuat di dalam kotak dengan mudah. Malam sebelum acara penarikan undian, Mr. Summers dan Mr. Graves membuat berlembar-lembar kertas dan memasukannya ke kotak. Setelahnya, kotak tersebut diamankan dalam brankas perusahaan pertambangan batu bara milik Mr. Summers dan dikunci hingga Mr. Summers siap membawanya ke alun-alun desa keesokan paginya. Pada bulan-bulan berikutnya, kotak itu disimpan, terkadang di satu tempat, kadang di tempat lain; kotak tersebut telah disimpan selama setahun di peternakan Mr. Graves dan tahun berikutnya disimpan di bawah lantai kantor pos, dan terkadang ditaruh di rak buku toko kelontong keluarga Martin dan dibiarkan terbengkalai di sana.
Ada satu hal menyebalkan yang harus diselesaikan sebelum Mr. Summers mengumumkan dimulainya acara penarikan undian. Ada daftar-daftar yang harus dibuat―daftar nama kepala keluarga dan anggota keluarga yang tinggal di setiap rumah masing-masing. Ada upacara sumpah oleh Mr. Summers sebagai pihak yang bertanggung jawab melakukan undian dan disahkan oleh kepala kantor pos; di masa silam, beberapa penduduk ingat, ada semacam nyanyian yang dilakukan oleh pihak penyelenggara acara penarikan undian, sebuah pertunjukan menyanyi ala kadarnya yang monoton diselenggarakan tiap tahun. Beberapa orang yakin jika panita penyelenggara penarikan undian dulunya harus berdiri selama mengucapkan lirik atau menyanyikan lagu itu, yang lain yakin jika ia seharusnya berjalan di antara para penduduk desa, tapi bertahun-tahun lalu bagian upacara ini telah ditinggalkan. Ada pula semacam upacara penghormatan, di mana pihak pengundi memanggil para peserta undian dengan penghormatan tertentu ketika mereka maju ke depan kotak, tapi bagian ini juga berubah seiring berjalannya waktu, sampai sekarang pihak pengundi hanya diwajibkan berbicara kepada masing-masing orang yang mendekati kotak. Mr. Summers sangat terampil menangani semua ini; dalam balutan kemeja putih bersih dan celana jeans birunya dengan satu tangan bertumpu asal di atas kotak hitam, ia tampak sangat layak dan penting selagi berbicara tak berkesudahan kepada Mr. Graves dan keluarga Martin.
Sewaktu Mr. Summers akhirnya selesai berbicara dan berbalik menghadap para penduduk desa yang telah berkumpul, Mrs. Hutchinson datang tergesa-gesa melewati jalan setapak menuju alun-alun, sweaternya melorot sampai bahunya terlihat, kemudian mencari tempat di antara kerumunan warga. “Aku benar-benar lupa,” katanya pada Mrs. Delacroix yang berdiri di sampingnya dan keduanya tertawa pelan. “Kupikir suamiku sedang mengumpulkan kayu bakar di belakang rumah...” Mrs. Hutchinson melanjutkan, “..kemudian aku melongok keluar jendela dan anak-anak telah pergi. Barulah aku ingat ini hari kedua puluh tujuh bulan ini.” Wanita itu mengelap tangannya hingga kering ke apronnya dan Mrs. Delacroix berkata, “Kau tepat waktu. Mereka masih ngobrol di atas sana.”
Mrs. Hutchinson menjulurkan lehernya demi melihat membelah kerumunan dan menemukan suami serta anaknya berdiri dekat barisan depan. Ia menepuk tangan Mrs. Delacroix sebagai tanda perpisahan dan mulai berjalan menerobos kerumunan. Orang-orang memberinya kesempatan untuk lewat seraya melontarkan lelucon: dua atau tiga orang berkata dengan suara yang cukup kencang didengar dari seberang kerumunan, “Binimu mencari, Hutchinson,” dan “Bill, binimu datang juga rupanya.” Mrs. Hutchinson sampai di tempat suaminya berdiri, dan Mr. Summers, yang telah menanti, berkata dengan nada ceria, “Kupikir kita akan memulainya tanpa kau, Tessie.” Mrs. Hutchinshon menjawab dengan seringai, “Tidak bisa begitu saja kutinggalkan yang kotor-kotor di bak cuci, benar kan, Joe?” dan tawa pelan merambat kerumunan tersebut sementara orang-orang kembali ke posisi masing-masing setelah Mrs. Hutchinson sampai.
“Nah, sekarang,” ujar Mr. Summers dengan nada muram, “sepertinya kita harus cepat-cepat mulai, segera mengakhiri upacara ini, sehingga kita bisa kembali bekerja. Siapa yang tidak hadir di sini?”
“Dunbar,” jawab beberapa orang. “Dunbar. Dunbar.”
Mr. Summers mengecek daftarnya. “Clyde Dunbar,” katanya. “Benar. Dia yang kakinya patah, bukan? Siapa yang akan menarik undian mewakilinya?
“Aku. Kurasa,” seorang wanita menjawab dan Mr. Summers berbalik melihatnya. “Istri menarik undian mewakili suaminya.” Mr. Summers bertanya, “Bukannya kau memiliki seorang putra yang telah dewasa yang bisa melakukan hal itu untukmu, Janey?” Meski Mr. Sumers dan orang-orang lain di desa tahu jawaban untuk pertanyaan itu, sudah merupakan kewajiban si pihak penyelenggara undian melemparkan pertanyaan resmi tersebut. Mr. Summers menunggu dengan seraut ekspresi terkesan yang santun sementara Mrs. Dunbar menjawab.
“Horace belum berusia 16 tahun,” ujar Mrs. Dunbar penuh penyesalan. “Kurasa aku yang harus mewakili suamiku tahun ini.”
“Baiklah,” ucap Mr. Summers. Ia membuat sebuah catatan di daftar yang ia pegang. Kemudian ia bertanya, “Apa Watson akan menarik undian tahun ini?”
Seorang anak lelaki bertubuh tinggi mengangkat tangannya. “Hadir,” katanya. “Saya menarik undian untuk Ibu dan saya.” Anak lelaki itu mengerjapkan matanya dengan gugup dan menunduk ketika beberapa suara dari kerumunan berkata, “Anak yang baik,” dan “Lega rasanya melihat ibumu memiliki seorang lelaki untuk menarik undian.”
“Baiklah,” kata Mr. Summers, “Kurasa itu sudah lengkap semua. Si Tua Warner ikut?”
“Aku di sini,” sebuah suara berkata dan Mr. Summers mengangguk.
Sunyi mendadak jatuh di kerumunan warga sewaktu Mr. Summers berdeham dan melihat daftar nama. “Semua siap?” tanyanya. “Sekarang, aku akan memanggil nama-nama kepala keluarga duluan dan mereka yang kupanggil harap maju ke depan dan mengambil selembar kertas dari kotak. Simpan kertas yang terlipat di tangan kalian tanpa melihat isinya sampai semua orang mendapatkan giliran. Apa semuanya jelas?”
Para warga telah melakukannya berkali-kali sehinga mereka hanya setengah mendengar arahan: kebanyakan dari mereka hanya diam, membasahi bibir mereka masing-masing, tidak memandang sekeliling. Kemudian Mr. Summers mengangkat tangannya tinggi dan memanggil, “Adams.” Seorang lelaki memisahkan diri dari kerumunan dan berjalan ke depan. “Hai, Steve,” sapa Mr. Summers dan Mr. Adams menjawab, “Hai, Joe.” Keduanya bertukar seringai menghadapi satu sama lain dengan gugup dan kaku. Setelahnya Mr. Adams memasukan tangan ke kotak hitam dan mengambil selembar kertas yang terlipat. Ia menggengamnya erat dan kembali dengan cepat ke tempatnya berada di antara kerumunan, di mana ia berdiri sedikit lebih jauh dari keluarganya, tanpa melirik tangannya yang memegang kertas.
“Allen,” panggil Mr. Summers. “Anderson…. Bentham.”
“Rasanya seolah baru kemarin penarikan undian ini,” Mrs. Delacroix berkata kepada Mrs. Graves di deretan barisan belakang.
“Rasanya seolah baru minggu lalu kita berhasil melalui acara penarikan undian.”
“Cepat sekali waktu berlalu,” kata Mrs. Graves.
“Clark…. Delacroix.”
“Itu dia suamiku,” Mrs. Delacroix berkata. Wanita itu menahan napasnya ketika suaminya berjalan ke depan.
“Dunbar,” panggil Mr. Summers, dan Mrs. Dunbar melangkah ke depan dengan pasti sementara salah satu dari wanita yang berkumpul berkata, “Ayo maju, Janey,” dan yang lainnya menandas, “Nah, begitu.”
“Selanjutnya giliran kami,” ujar Mrs. Graves. Ia memperhatikan selagi Mr. Graves menghampiri dari samping kotak, menyapa Mr. Summers dengan dingin lalu memilih satu lipatan kertas dari kotak. Sampai saat ini, di kerumunan penduduk desa yang berkumpul, beberapa orang telah menggenggam selembar kecil lipatan kertas di tangan besar mereka, memutar-mutar kertas dalam genggaman berkali-kali dengan gugup. Mrs. Dunbar dan kedua putranya berdiri berdampingan, Mrs. Dunbar memegang lipatan kertas.
“Harburt…. Hutchinson.”
“Maju sana, Bill,” Mrs. Hutchinson berkata dan orang-orang di dekatnya tergelak.
“Jones.”
“Ada yang bilang,” Mr. Adams berkata kepada Si Tua Warner yang berdiri di sampingnya, “para penduduk di desa utara sana berencana menghentikan acara penarikan undian.”
Si Tua Warner mendengus, “Mereka orang-orang tolol sinting,” katanya, “Kalau mendengarkan kata-kata orang muda, tidak akan ada yang baik menurut mereka. Nanti tahu-tahu saja, mereka ingin kita semua kembali jadi manusia gua. Tidak bakal ada yang kerja lagi. Hidup bersantai seperti itu saja terus. Dulu sering ada yang bilang ‘Undian bulan Juni, jagung pun bakal tumbuh subur.’ Coba saja turuti dan nanti tahu-tahu kita akan makan rebusan dedak ayam dan biji-bijian. Penarikan undian harus selalu diadakan,” ia menambahkan dengan geram. “Melihat Joe Summers muda berada di sana mengumbar lelucon pada semua orang saja sudah cukup buruk sebenarnya.”
“Beberapa desa sudah tidak lagi mengadakan acara penarikan undian,” kata Mrs. Adams.
“Keputusan itu cuma mengundang masalah saja,” Si Tua Warner berkata tegas. “Anak-anak muda tolol.”
“Martin,” dan Bobby Martin menyimak ayahnya maju ke depan. “Overdyke… Percy.”
“Aku harap mereka bergegas,” Mrs. Dunbar berkata kepada putranya yang lebih tua. “Aku harap mereka bisa mempercepatnya.”
“Mereka hampir selesai,” jawab putranya.
“Siap-siap untuk memberitahu ayahmu,” kata Mrs. Dunbar.
Mr. Summers memanggil namanya sendiri dan melangkah ke depan kotak dengan tepat dan mengambil salah satu lipatan kertas dari dalam kotak. Kemudian ia memanggil, “Warner.”
“Tujuh puluh tujuh tahun aku mengikuti acara penarikan undian ini,” Si Tua Warner berkata seraya berjalan melewati kerumunan. “Tujuh puluh tujuh kali.”
“Watson.” Si anak lelaki bertubuh jangkung maju ke depan membelah kerumunan dengan canggung. Seseorang berkata, “Jangan cemas, Jack,” dan Mrs. Summers menandas, “Santai saja, nak.”
“Zanini.”
Setelahnya, ada jeda panjang, jeda yang membuat orang menahan napas, sampai Mr. Summers mengangkat lipatan kertasnya di udara, “Baiklah, saudara sekalian.” Untuk beberapa lama, tidak seorang pun bergerak, kemudian semua lipatan kertas dibuka oleh setiap orang. Tiba-tiba, semua wanita mulai berbicara serempak, “Siapa dia?”, “Siapa yang dapat?”, “Apa keluarga Dunbar?”, “Apa keluarga Watson?” Lantas beberapa suara mulai terdengar, “Hutchinson. Bill.” , “Bill Hutchinson yang dapat.”
“Pergi dan beritahukan ayahmu,” Mrs. Dunbar berkata pada putranya yang lebih tua.
Orang-orang mulai mengedarkan pandangan untuk melihat keluarga Hutchinson. Bill Hutchinson berdiri dalam diam, menatap ke lipatan kertas dalam cengkraman tangannya. Tiba-tiba Tessie Hutchinson berteriak kepada Mr. Summers. “Kau tidak memberinya waktu yang cukup untuk mengambil kertas mana pun yang ia inginkan. Aku melihatmu. Ini tidak adil!”
“Kau harus terima hasil ini, Tessie,” sahut Mrs. Delacroix, dan Mrs. Graves pun menambahkan, “Kita semua memiliki kesempatan yang sama.”
“Diamlah, Tessie,” tukas Bill Hutchinson.
“Nah, saudara sekalian,” kata Mr. Summers, “tahapan pertama berakhir cukup cepat, dan sekarang kita harus lebih cepat lagi supaya selesai tepat pada waktunya.” Ia mengamati daftarnya yang lain. “Bill,” katanya, “Kau menarik undian untuk keluarga Hutchinson. Apa kau punya cabang keluarga lain di keluarga Hutchinson?”
“Ada Don dan Eva,” Mrs. Hutchinson berteriak. “Biarkan mereka ambil kesempatan mereka!”
“Anak-anak perempuan menarik undian dengan keluarga suami mereka, Tessie,” Mr. Summers berkata lembut. “Kau tahu betul aturan itu sama seperti yang lainnya.”
“Ini tidak adil,” kata Tessie.
“Kurasa tidak, Joe.” Bill Hutchinson menjawab dengan nada menyesal. “Anak perempuanku menarik undian dengan keluarga suaminya; itu semua adil. Dan aku tidak memiliki cabang keluarga lainnya kecuali aku dan anak-anakku.”
“Maka, menurut aturan penarikan undian untuk keluarga besar, kaulah orangnya,“ jelas Mr. Summers, “Dan menurut aturan penarikan undian untuk cabang keluarga, kau pula orangnya. Benar?”
“Benar,” kata Bill Hutchinson.
“Kau punya berapa banyak anak, Bill?” tanya Mr. Summers secara resmi.
“Tiga,” kata Bill Hutchinson.
“Ada Bill, Jr., Nancy, dan si kecil Dave. Lalu Tessie dan saya.”
“Baiklah, kalau begitu,” kata Mr. Summers. “Harry, kau sudah mendapatkan kertas-kertas mereka kembali?”
Mr. Graves mengangguk dan mengeluarkan semua kertas yang semula dipegang oleh semua orang. “Masukkan ke dalam kotak,” perintah Mr. Summers. “Ambil juga kertas milik Bill dan masukkan ke dalam.”
“Kupikir kita harus mengulangnya kembali,” kata Mrs. Hutchinson sepelan yang ia bisa. “Sudah kubilang padamu ini tidak adil. Kau tidak memberikannya cukup waktu untuk memilih. Semua orang melihat hal itu.”
Mr. Garves telah memilih lima lipatan kertas dan memasukannya ke dalam kotak. Ia menumpahkan semua kertas-kertas itu ke tanah. Angin menghempaskan kertas-kertas itu.
“Dengar, semua,” Mrs. Hutchinson berusaha berkata kepada orang-orang di sekelilingnya.
“Siap, Bill?” tanya Mr. Summers dan Bill Hutchinson, menggerling sekilas istri dan anak-anaknya, lalu mengangguk.
“Ingat,” kata Mr. Summers, “Ambil satu lipatan kertas dan biarkan tetap terlipat sampai setiap orang telah mengambil kertasnya. Harry, kau bantu si kecil Dave.” Mr. Graves menuntun si anak kecil yang dengan menurut maju bersamanya ke depan kotak. “Ambil selembar kertas dari kotak, Davy.” Kata Mr. Summers. Davy memasukan tangannya ke dalam kotak dan tertawa. “Ambil satu lembar kertas,” ujar Mr. Summers. “Harry, kau kau yang pegang kertasnya.” Mr. Graves mengambil kertas dari tangan Dave yang menggenggam erat kertas tersebut dalam kepalan tangannya lalu memegangnya sementara si kecil Dave hanya berdiri di samping dan memandangnya dengan ekspresi bertanya-tanya.
“Berikutnya, Nancy,” ujar Mr. Summers. Nancy berumur dua belas tahun dan semua teman-teman sekelasnya terengah ketika ia maju ke depan sembari merapikan roknya, lalu memilih satu lembar kertas dari dalam kotak dengan gerakan yang cantik. “Bill, Jr.,” Mr. Summers berkata, dan Billy, wajahnya merah dengan kaki yang besar, hampir menendang kotak tersebut saat ia mengambil selembar kertas. “Tessie,” Mr. Summers memanggil. Wanita itu sejenak ragu-ragu, memandang sekitarnya dengan tatapan membangkang. Ia mengatupkan bibirnya erat-erat dan berjalan menuju kotak. Ia menyambar selembar kertas dan menggenggamnya di balik punggung.
“Bill,” ujar Mr. Summers, dan Bill Hutchinson  memasukan tangannya ke dalam kotak, memutar-mutar tangannya di dalam, lalu mengeluarkan tangannya dengan secarik kertas dalam genggaman tangannya.
Kerumunan warga diam. Seorang gadis berbisik, “Aku harap bukan Nancy.” Suara bisikan itu terdengar menjalar hingga ke pinggir barisan.
“Semuanya tidak sama seperti dulu,” Si Tua Warner berkata dengan suara yang jelas . “Orang-orang sudah tidak lagi bersikap sama seperti dulu.”
 “Baiklah,” ucap Mr. Sumemrs. “Buka kertas-kertasnya. Harry, kau buka kertas milik Dave.”
Mr. Graves membuka lipatan kertas tersebut dan terdengar suara desahan semua orang saat ia mengangkat kertas tersebut. Semua orang dapat melihat kalau kertas itu kosong. Nancy dan Bill Jr. membuka kertas mereka secara bersamaan, lalu keduanya berseri-seri dan tertawa, memandang ke arah kerumunan penduduk desa seraya mengangkat lipatan kertas di atas kepala mereka.
“Tessie,” panggil Mr. Summers. Wanita itu terdiam, lalu Mr. Summers melirik Bill Hutchinson dan Bill membuka lipatan kertasnya, lantas menunjukkannya. Kertas itu kosong.
“Tessie-lah yang mendapatkannya,” umum Mr. Summers, suaranya menenangkan. “Tunjukkan kertas Tessie, Bill.”
Bill Hutchinson berjalan menghampiri isterinya, menarik paksa kertas dari genggamannya. Kertas itu memiliki setitik noda hitam, titik hitam yang telah dibuat Mr. Summers malam sebelumnya dengan pensil berat di kantor perusahaan pertambangan batu bara. Bill Hutchinson mengangkat kertas itu dan kerumunan penduduk mulai ramai.
“Baiklah,” ujar Mr. Summers. “Mari kita selesiakan ini dengan cepat.”
Meskipun para penduduk desa telah melupakan ritual penarikan undian dan kehilangan kotak hitam yang asli, mereka masih ingat bagaimana cara menggunakan batu. Tumpukan bebatuan yang dibuat oleh anak-anak lelaki sebelumnya telah siap; ada banyak batu di tanah bersama dengan kertas-kertas yang sebelumnya telah dihembuskan oleh angin. Delacroix memilih sebongkah batu yang sangat besar hingga wanita itu harus mengangkutnya dengan kedua tangannya dan berbalik menghadap Mrs. Dunbar. “Ayo,” katanya, “Ayo, cepat.”
Mr. Dunbar menggenggam bebatuan kecil di kedua tangannya lalu menjawab dengan napas terputus-putus, “Aku tidak bisa berlari sama sekali. Kau duluan saja, nanti kususul.”
Anak-anak telah siap dengan batu mereka dan seseorang memberikan si kecil Davy Hutchinson beberapa batu kerikil.
Tessie Hutchinson sekarang berdiri di tengah-tengah area yang telah dibersihkan dan ia mengulurkan tangannya putus asa sementara penduduk desa berjalan menghampirinya. “Ini tidak adil,” ujarnya. Sebongkah batu menimpa sisi kepalanya. Si Tua Warner berkata, “Ayo, ayo, semuanya.” Steve Adams berada di barisan paling depan kerumunan penduduk desa, Mrs. Graves berdiri di sampingnya.
“Ini tidak adil. Ini tidak adil,” teriak Mrs. Hutchinson sementara semua penduduk desa mengerumuninya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psalter of Undone Girls

Book I: Of Hunger Psalm I. The Starvation Game She starved at the table of touch. Every smile was rationed. She learned to chew absence, to swallow glances like crumbs. The hunger taught her that even neglect has calories. Psalm II. The Mouth as Wound The mouth opens for speech, but bleeds instead. Desire leaks, iron-tasting. A kiss is just a suture failing. What is voiced is not heard, what is heard is not held. Psalm III. Banquet of Absence We sit around a feast of plates. The cutlery gleams with nothing. We praise the spread of air, raise a toast to lack. Our bellies groan like choirs, our hollow becomes our hymn. Psalm IV. The Body as Empty House Her ribs are doorframes, her lungs the dusty halls. Every step echoes. She lies in bed with drafts for companions, the wallpaper peeling like memory. Hunger is not only of the stomach, but of the rooms no one enters. Psalm V. Communion of Ash They offered her bread that dissolved into soot. They poured her wine that tasted of vinegar and s...

Aku, Cthulhu

Neil Gaiman, 1986, https://www.neilgaiman.com/Cool_Stuff/Short_Stories/I_Cthulhu Ilustrasi Cthulhu oleh Disse86 dari DeviantArt I.   Cthulhu, begitu mereka memanggilku. Cthulhu yang Agung.    Tidak ada seorangpun yang bisa mengeja namaku dengan benar.   Apa kau menulis semua ini? Kata per kata?   Bagus. Harus kumulai dari mana—mm?   Ya sudah, kalau begitu. Dari awal. Tulis apa yang kubilang, Whateley.   Aku dilahirkan ribuan tahun yang lalu, dalam kabut gelap Khaa’yngnaiih (tidak, tentu saja aku tidak tahu bagaimana mengejanya. Tulis saja sesuai bunyinya) dari orang tua mimpi buruk tak bernama, di bawah bulan yang bungkuk. Bukan bulan dari planet ini, tentu saja, aku lahir di bawah bulan sungguhan. Di malam-malam tertentu, bulan itu memenuhi lebih dari separuh langit dan saat bulan tersebut naik, kau bisa menyaksikan darah merah jatuh dan menetesi wajahnya yang bengkak, menodai wajahnya merah, sampai pada titik ketinggian di mana cahayanya menyirami r...

Ragu Menyengat

Kamu tahu, apa yang angin hadirkan padaku malam itu? Ragi, ragu, keringat udara musim penghujan berbau menyengat. Sedikit manis lalu asam membaur di permukaan lidah. Rontok segala yang ada di dada meski jarak tidak seberapa. Ujung-ujungnya aku terengah menjadi gerah dan lelah Gelitik hari itupun runut selantunan kecapi pada telinga ia berbuah rasa hangat yang hanya bertalu-talu di dada bukan tipikal rindu yang mudah dinikmati Kilasan pertemuan, tawa yang menjemukan, cinta yang mengharukan, Tidak pernah sederhana malah menuai petaka Lalu setelah ini apa? "Mari kita menyerah dan tanggalkan  harapan masing-masing sebelum hilang selamanya." 25 Agustus 2013.