Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2012

Biasa Saja

“Mas…” “Hmm?” “Kopinya..” “Hmm..” “Mas…” “Hmm?” “Baca apa sih?” “….” “Serius banget deh, kayak lagi upacara.” “…” “Mas…” “…ya?” “Kok diem aja?” “…” “Masih baca?” “Iya.” “Mas…” “Kenapa?” “Boleh nanya?” “Dari tadi bukan nanya?” “Kok jutek?” “Siapa yang jutek?” “Lah, kamu loh mas…” “….” “Mas…” “….” “…serius loh, aku mau nanya.” “….” “Haaahhh…” “Mas…” “….” “Kok kita gak pernah bisa santai, ya?” “……” “Mas pernah mikir kenapa, enggak?” “Karena kamu gak bisa biasa aja.” “Begitu ya?” “Iya.” “Oh, iya ya… Mas dulu pernah bilang begitu juga. Biasa aja ya?” “Iya.” “Biasa itu, yang gimana sih, Mas?”  “…” “Biasanya kita itu yang gimana, Mas?” “…” “…” “Hhhhh…” “Loh? Mas? Mas mau kemana?” “Tidur. Capek.” “Mas, kok kamu begitu sih? Mas! Mas!!” ____ 2012 November, 15. Sembari setengah ngantuk, kaki cena...

Tentang Asap

Rama tidak sedang berteori ketika ia menghabiskan kopi hitamnya yang pertama di hari minggu sore berlangit lembayung itu. Kalau boleh saya bilang ia cuma melempar sejumput sekam ke dalam bakaran panas api. Ia melawan kodrat, menjadi sesuatu yang bukan dirinya—-sesuatu yang semestinya saya tertawakan sedari awal ia menyeret tangan saya dan mendudukkan saya di sebuah kursi taman kayu menghadap ke bayangan pekat pohon fir yang indah. Tapi katanya ini cuma penyekadaran dari sebuah keadaan. Bahwa ingatkan lagi pada dunia diluar sana dengan menuliskan ini; Ia bukanlah sekadar. Tidak akan pernah menjadi sebuah sekadar. “Sekadar apa?” Saya bertanya. “Sekadar menjadi diri sendiri. Sekadar saya yang selalu menari diantara taman bunga melati, diantara serbuk bunga mewangi. Sekadar saya yang menggunting kelopekan borok bernanah bumi dan menghargainya dengan segenap hati sementara kakak bilang itu adalah batu kali,” demikian ia menjawab. Saya terpekur memandangi binar-binar yang masih terl...

Di Bulan Juli

Di bulan Juli, tertanggal tiga puluh satu, nostalgia jatuh meradang.            Bunyinya seperti gemuruh kereta dari kejauhan yang berkelindan dengan suara jangkrik pada musim kemarau. Kamu membayangkan, adalah hitam dan putihnya memori ketika kita pertama kali bertemu. Dan sebenarnya hal itu bukanlah hal yang sepatutnya mendapat tempat di pikiran kita, kamu bilang.            Mendulang memori, menumbuhkan benih cinta untuk memori. Bukan hal-hal yang bisa membuat kita menjadi lebih maju dari tempat kita berada sekarang. Tapi bulan Juli tetap bulan Juli seperti tahun-tahun sebelumnya. Punya tiga puluh satu hari, datangnya sebelum bulan Agustus panas meradang membakar kulit.Dan ada yang tidak berubah dari bulan Juli. Kenampakan hitam yang belakangan muncul di langit, kamu bilang, mungkin adalah perpanjangan tangan dari Tuhan; mengguratkan anomali pada penampang biru paling bersih. Katamu juga, ini bukan yang pertama kalin...

Menunggu Pulang

Saya lelah  menunggu mati  di pagi hari,  lelah disuntik geragap menunggu pulang suami. Besok, besok,  besok.  Saya…. Harus makan.  Harus cuci piring. Harus bereskan rumah. Lalu? Sapu rumah. Belum bereskan pakaian, belum urus cucian Bu Tety. Ah ya, cucian, cucian, cucian. Gosokkan lebih banyak sabun di sana dan di sini, semprotkan wewangian. Setrika! Tapi harus yang rapih. Jangan sampai tidak. Tentu, tentu, tentu. Tidak mau lagi seperti kemarin. Bu Yuli marah-marah. Bu Diantro hilang banyak kancing-kancing bajunya. Rusak. Rusak. Rusak. Rusak. RUSAAAAAAAAAKKK. Butuh uang lagi buat ganti rugi. Sedangkan listrik terus menunggak, harga bahan makanan terus makin mahal.  Uang untuk hidup. Hidup untuk uang. Uang untuk hidup. Tapi hidup tanpa uang? Mati saja! Mati. Mati. Mati. Matttiiii. Kepingin bilang begitu. Tapi mati berarti harus lapar dulu. Tapi mati berarti anak perempuan saya harusnya hilang harapannya beli gaun pu...

Tentang Anu

Nganuannya saya sederhana, sebenarnya.  Kalau nganu sama si anu harus bisa anu yang pelan-pelan. Pendekatan anunya juga harus luar biasa sabarnya, kayak anu-anuan yang ditahan. Tapi kalau begitu jadinya gampang banget, ya gak sih? Anu sama si anu harus anu yang pelan-pelan; keanuaan yang terjadinya lama dan pelan-pelan pastilah nganu sampe langgeng; sayangnya bukan cuma itu aturannya. Ada ratusan aturan peranuan yang harus ditepati dengan konsekuensi berikut ketika aturan-aturan anu itu tidak dianukan; “Tidak melakukan aturan anu yang benar, maka anuan selanjutnya pasti kacau. Tidak memasukan anu pada anu yang tepat, bisa bikin kepala dipenuhi keanuanuan yang bikin anu makin besar. Salah membaca anu malah melakukan anu, luar biasa bodohnya.” Nganu? Ya, anu bangetlah.  Tapi yang nganu-nganu itu, juga peraturan-peraturannya bisa menganukan hidup jadi tenang. Mata jadi anu, hidung jadi anu. Telinga juga dengarnya yang anu-anu saja. Hati terbebas dari anu bahkan jiwa m...

Empat Naga

1 DI LANGIT. DUA NAGA TENGAH MELAYANG DAN TERBANG, MASING-MASING MENGELILINGI DARATAN YANG ADA DI BAWAH;  SESEKALI BERKEJARAN, BERMAIN-MAIN. KEMUDIAN DISUSUL DUA NAGA LAIN. LANTAS SEEKOR DIANTARA MEREKA TERTINGGAL DI BELAKANG. NAGA HITAM : Marilah kita berhenti sejenak. NAGA KUNING : Mari, mari kita menikmati langit paling biru ini. NAGA BIRU : Nanti setelah selesai beristirahat, kita akan seterusnya bermain lagi. NAGA HITAM : Ya! Sampai matahari akhirnya tenggelam di barat. NAGA BIRU: Ah, di mana Naga Putih? Aku tidak melihat ekornya barang sekelebatpun. NAGA KUNING : Seharusnya ada di sini. Dia yang tadi terbang di sebelahku. Tapi memang dasar kebiasaannya itu. Tidak bisa barang sekalipun ia terbang diam! Tiap kali memekik bising melihat pepohonan. Tiap kali membanding-bandingkan daratan dengan tempat tinggal kita.  Ya, ampun! NAGA BIRU: Tenanglah, Kuning. Ia hanya tidak terbiasa keluar melihat daratan tanpa air. Pepohonan tida...

Salju

Konon, ibunya sendirilah yang mengharapkan dua bola matanya berwarna senada batu kecubung; gelap dan mengesankan. Rambutnya sehitam kayu ebony, bibirnya semerah darah dan kulitnya seputih salju. Konon begitulah ia terlahir, dari sebuah nazar seorang wanita mendekati umur tiga puluh yang merajut sebuah baju hangat di penghujung musim dingin. Dari sebuah pemandangan terbaik yang bisa diberikan tiga kombinasi warna tumpang tindih. Namanya Salju. Dan karena ibunya adalah seorang ratu dari kerajaan antah berantah yang jauh maka orang-orang mengenalnya dengan nama Putri Salju. Yang tumbuh beberapa tahun setelah lahir ke dunia perlahan dibentuk oleh waktu. Pinggangnya dimekarkan, bibirnya dibuat ranum dan rambutnya makin hari makin panjang tergerai lemas di pundaknya. Sekalipun tidak pernah melihat ibu yang melahirkannya ― yang kemudian pada hari keempatnya bergelung di antara bantal berbulu angsa digantikan oleh sosok perempuan cantik asing, pengantin lain bagi raja tua di masanya ―Putr...